Jumat, 09 Maret 2012

Tanjidor Kian Tergerus Zaman

Tanjidor Kian Tergerus Zaman PDF Print E-mail
Written by Desy Naik Sapi   
Minggu, 12 Desember 2010 20:15
Alunan tanjidor kini dihadapkan pada suara jaman yang sedang berubah. Semakin tak terlihat dan lirih mengiringi jalannya waktu.
Apa yang melekat dalam benak kita ketika menyebut kesenian Betawi? Baik dulu sampai sekarang tak jauh dari ondel-ondel, pantun, dan tanjidor. Kesenian musik yang disebut terakhir ini kadung dikenal sebagai simbol representasi Betawi.
Sekarang, dapatkah tanjidor ditemui dengan mudah? Hanya bila ada pameran budaya, upacara pernikahan ala Betawi atau penyambutan tamu penting. Tergesernya budaya-budaya lokal memang konsekuensi dari perubahan jaman.
Tanjidor Tiga Saudara, salah satu kelompok tanjidor di daerah Srengseng Sawah, Jakarta Timur, sedang gigih berusaha menggaungkan tanjidor ditengah arus deras modernisasi. Berdiri sejak 1973, grup ini selalu membuka penampilannya dengan lantunan irama mars. Setelah itu barulah mereka melatunkan tembang-tembang yang cukup terkenal seperti "Jali-Jali" dan "Kicir-Kicir".
Saat alunan tanjidor memecah kesunyian kampung, para pemain sesungguhnya tengah khawatir. Perlahan kesenian ini makin terpinggirkan dan tak lagi dilirik orang. Sebagai perbandingan, pada 1970-an, grup ini hampir tampil setiap hari karena banyaknya warga yang meminta.
Kala itu, mereka bisa menyandarkan hidup dari bermain tanjidor. Kini dalam sebulan rata-rata mereka hanya tampil dua kali, kecuali jika ada acara tertentu semisal perayaan tahun baru.
“Biasanya abis tahun baru banyak job-nya, minimal lima kali. Kalau bulan-bulan ini lagi sepi,” tutur Minan, salah satu anggota Tanjidor Tiga Saudara.
Minan adalah sosok dari sedikit generasi muda yang tertarik tanjidor. Lelaki berusia 28 tahun ini menjadi pemain tanjidor karena ingin melanjutkan cita-cita ayahnya, mempertahankan kesenian ini. Sekarang Minan mulai belajar mengurus grup Tanjidor Tiga Saudara.
“Dia yang nyari order, ngumpulin pemain, nyiapin peralatan dan kostum dan hal lainnya,” ujar Sait, ayah dari Minan yang juga anggota Grup Tanjidor Tiga Saudara.
Penghasilan yang mereka dapat dari tanjidor tergolong sedikit. Untuk satu kali main mereka mendapat bayaran berkisar 3-5 juta. “Itu juga dibagi ke anggota-anggota sebanyak 9-15 orang dan belum termasuk ongkos untuk transportasi,” tandas Minan. Belum lagi biaya perawatan alat-alat tanjidor yang tidak murah.
Kondisi ini jelas membuat mereka tak bisa lagi mengandalkan nafkah dari bermain tanjidor saja. Beberapa di antara mereka terpaksa membanting tulang sebagai kuli bangunan, tukang ojek, hingga membuka bengkel.
Terpinggirkannya kesenian tanjidor ini diiyakan Sahrul, warga Cimanggis, Depok. Pemuda 22 tahun yang turut menyaksikan tanjidor ini mengaku kurang mengetahui tanjidor. “Sejauh ini saya kurang begitu tahu, kalau gambang kromong lebih populer,” ujarnya.
Di Jakarta keberadaan grup tanjidor yang masih eksis bisa dihitung dengan jari. “Untuk saat ini yang terdaftar tinggal empat. Kalau di Jakarta paling yang eksis tinggal dua. Jakarta Selatan ada satu, satu lagi di Jakarta Timur pimpinan Marta Nyaat, sebagian di Tangerang,” papar H. Yoyo Muchtar, mantan ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang juga pembina Badan Pemberdayaan Betawi.
Saat ditanya tentang antusiasme masyarakat, ia mengakui bahwa masyarakat masih antusias melihat tanjidor tetapi dengan pandangan aneh. “Kebanyakan orang heran. Heran dan bingung, mau main gak bisa. Bagaimana caranya membuat masyarakat suka tapi dia punya faktor kesulitan yang sangat banyak kemudian mau belajar ragu-ragu,” tambah Yoyo.
Ditemui di lokasi pembukaan MTQ ke-7 tingkat Kota Depok, Kelurahan Duren Seribu, Sawangan, Mawardi, Lurah Gandul, Jakarta Timur, berpendapat daya tarik tanjidor sudah berkurang. Sekarang justru daya tariknya adalah ondel-ondel, karena ondel-ondel terlihat lucu. Tanjidor hanya berperan sebagai pengiring agar tidak terlalu vakum.
Tanjidor menghadapi tantangan yang semakin berat. Kesenian itu semakin berjarak dengan pendengarnya yang hidup di masa yang berbeda. Serbuan hiburan-hiburan alternatif, terutama dangdut, lebih mendapat tempat di hati masyarakat, apalagi generasi muda. Berbagai acara yang ditujukan untuk kaum muda selalu menampilkan band, cheerleaders, dan modern dance. Tak pernah sekalipun menampilkan tanjidor. Tanjidor dianggap tidak sesuai dengan selera anak muda sekarang.
Penyebab tanjidor tidak bisa melesat seperti jenis kesenian Betawi lainnya karena fungsi ekonomi tanjidor lemah. Sangat tergantung saweran dari penonton atau pengiring acara sunatan, kawinan dan sebagainya. Banyak orang tua melarang anaknya menjadi seniman tanjidor karena tidak menjanjikan.
“Padahal itu (tanjidor –red) terdapat pembinaan norma budaya yang gak ada di sekolahan. Itu pembinaan norma budaya yang datang dari diri kita sendiri ingin berbagi sesuatu bukan mata pencaharian, tapi ketika itu menjadi mata pencaharian itu bukan permasalahan,” jelas Yoyo.
Pemain tanjidor sudah jarang karena sulitnya regenerasi. Selain banyak yang telah meninggal, pemainnya pun sudah uzur. Rumitnya memainkan alat tanjidor menyebabkan sulitnya mencari bibit baru. Mau tak mau seniman tanjidor memang harus berbakat di bidang musik modern.
Grup Tanjidor Tiga Saudara hanya membina empat orang anak muda, berusia antara 17 hingga 18 tahun. Sait sangat menyayangkan hal ini. “Anak muda memang ga ada pikirannya untuk sayang, anak kita sendiri aja nggak apalagi anak orang,” keluh Sait.

Sait sendiri menekuni tanjidor sejak kanak-kanak. Belajar memainkannya bertahap. “Saya dari SD udah belajar, ikut kakak saya latihan, terus pas kakak saya meninggal, saya yang gantiin,” kenangnya.
Pengajaran dimulai dari memainkan alat musik ringan sampai alat musik tiup. Sait cukup lama mempelajari alat tanjidor. “5 tahun lebih, baru saya belajar niup, bisa niup baru bisa pindah ke tenor, tenor udah bisa baru belison, terakhir clarinet, ” papar Sait.
Kesulitan mempelajari alat musik sebagai faktor susahnya regenerasi seharusnya menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI. Hal ini yang tidak dirasakan para seniman tanjidor.
“Belajarnya susah, yang belajar kebanyakan nggak mau. Kalau dari dinas sama sekali nggak ada pelatihan,” tandas Minan.
Ia juga menjelaskan, selama ini mereka mendapat bantuan alat musik saja, namun dalam hal pembinaan sangat kurang. Hal ini dibenarkan oleh Yoyo yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Sub Bidang Pengembangan Potensi Budaya di LKB.
“Perkembangan musik betawi khususnya tanjidor itu memang dirasakan dari sisi pembinaan itu sangat-sangat kurang, kemudian generasi penerusnya pun regenerasinya sangat kurang,” tutur Yoyo.
Kepala Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, Taufik Syamsul Bakri menanggapi bahwa masalah sulitnya regenerasi bukan terletak pada respon masyarakat dan generasi yang kurang, tapi soal waktu.
“Sebenarnya bukannya kurang mereka, cuma waktunya yang mungkin belum sempat ada. Sebagai contoh keroncong, keroncong itu bisa dilestarikan bila di anak muda bisa eksis terhadap kebudayaan tersebut,” ucap Taufik.
Seperti yang dikatakan Taufik, pemerintah mengaku sering menggelar pentas-pentas seni yang diakui sebagai bentuk dukungan perkembangan kesenian.
Tetap, peran pemerintah dibutuhkan untuk membina atau memberi ruang untuk berkembangnya kesenian lokal seperti tanjidor. Efektif tidaknya upaya itu, yang pasti tanjidor telah memudar kepopulerannya.

Desy Yuliastuti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar