Minggu, 11 Maret 2012

Budaya Dieng Propinsi Jawa Tengah


Kekayaan Bahasa Ndieng 0

8:52 AM 

Dieng, Wonosobo Banjarnegara 25-05-2011.Bahasa dikawasan Dieng sampai saat ini masih sangat menarik untuk dijadikan bahan perbincangan,karena kekayaan bahasa dan logatnya juga sangat luar biasa, bagi warga yang tinggal dikawasan Dieng tentu akan langsung dapat mengenali dari ciri bahasa yang diucapkan oleh seseorang.antara satu desa dengan desa lain juga terdapat perbedaan dari cara pengucapan.dan perbedaan logat ini sering menjadi bahan joke dari kalangan muda sampai tua dikawasan Dieng.kalau dicermati banyak istilah yang masih agak sulit di pahami oleh orang dari luar Dieng, uniknya hampir semua desa memiliki dialek tersendiri dari cara pengucapan dan penekanan vokal dan konsonan. untuk wilayah kecamatan Batur, desa Dieng kulon, desa Dieng sampai desa parikesit banyak huruf "a dan Z" yang digunakan dan untuk desa Tieng paling lain dan banyak menggunakan huruf "o dan y" sedangkan desa disekitarnya terletak dari penekanan pada ahir kalimat yang lebih tinggi. sebagian lagi terletak pada akhir suatu kalimat yang diucapkan lebih tinggi.sebagai contoh bahasa yang diucapkan antara lain :ana landha nguzuh nang pinggir tlaga ngazer bae ( ada turis kencing dengan lancar dipinggir telaga )Mazo Nyeblekna kazu ( ayo menanam kayu/pohon)ana kucing ngorong bae, mezong-mezong terus membengi ( tadi malam ada kucing terus mengeong)Rika mrene bae karing ndingin (...

Upacara Budaya Dan Adat, Satu Suran, Suran Giyanti, Hak-hakan, Baritan, Nyadran

8:49 AM // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Satu Suran

Acara ini dilakukan pada setiap tanggal 1 Syura dan dilaksanakan secara masal bertempat di Sendang Surodilogo, Bedakah Kecamatan Kertek, Wonosobo. Acara itu terdiri dari pemotongan kambing kendit dan mandi air sendang surodilogo, Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang mandi disendang tersebut pada tanggal 1 Syura akan diberikan berkah umur panjang dan awet muda.

Suran Giyanti

Suran Giyanti merupakan upacara adat yang dilakukan di Dusun Giyanti Desa Kadipaten Kecamatan Selomerto, Wonosobo. Pada setiap malam jumat kliwon dibulan syuro. Kegiatanya adalah membersihkan makam Tumenggung Martoloyo, kegiatan ini dilakukan secara massal dengan menyajikan berbagai makanan yang dikirab ke sekeliling desa. Makanan yang mereka bawa selanjutnya diberi doa oleh sesepuh desa dan selanjutnya diperebutkan oleh mereka yang hadir dalam upacara tersebut.

Hak-hakan

Lokasi upacara hak-hakan terletak di Desa Tegalombo, Kecamatan Kertek Wonosobo. Kegiatan hak-hakan merupakan upacara untuk mengungkapkan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, setelah dianugerahi panen.BaritanUpacara adat baritan, dapat dijumpai di desa Maduretno Kalikajar, Wonosobo, kegiatanya adalah kirab desa.

Nyadran

Nyadran merupakan upacara sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pagerejo Kecamatan Kertek, Upacara Nyadran Dimaksudkan untuk memohon keselamtan bagi masyarakat dan Desa Pagerejo. Dalam upacara nyadran dipentaskan pula berbagai atraksi kesenian desa.

Melestarikan Kesenian / Tari Lengger

7:46 AM // 1 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Lengger adalah sebuah kesenian / Tari yang berasal dari daerah banyumasan, pada awalnya kesenian lengger diciptakan sebagai sebuah tarian ritual yang berfungsi sebagai sarana tolak bala dan media ruwatan. Kesenian Lengger sudah ada sejak dulu dan pernah di gunakan oleh Sunan Kalijogo untuk menarik para pemuda agar rajin ke Masjid.

Kesenian Lengger merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang mewarnai kehidupan masyarakat Dataran Tinggi Dieng, kesenian ini bermanfaat bagi kehidupan masyarakat seperti bersih desa, sebagai pelengkap upacara hari besar, sebagai hiburan dan juga media pendidikan.

Menurut Wadiyo, 2006 : 141, Sebuah karya seni diciptakan manusia sebagai bentuk ekspresi budaya dan merupakan ungkapan sosialnya, sehingga karya seni diciptakan oleh manusia tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri sendiri tetapi juga untuk kebutuhan orang lain.

Seorang penari lengger dituntut harus mampu menari dan bernyanyi, dengan memainkan gerakan secara lincah dan dinamis hal ini merupakan ciri khas identitas daerah, bahkan menjadi nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Keberadaan kesenian lengger di Dieng dan berbagai daerah seperti di telan zaman, yang kian lama semakin surut. Jika tinjau kembali daya minat masyarakat semakin berkurang, hal ini disebabkan oleh gejala-gejala moderenisasi. Salah satu contoh, masyarakat lebih senang dengan hiburan sesui dengan zamanya.

Upaya untuk melestarikan kesenian / tari lengger perlu digalakkan, apalagi dieng merupakan daerah wisata, dimana sektor wisata tak dapat lepas dari seni budaya yang ada. Bahkan keberadaan kesenian lengger dapat menjadi nilai lebih di kawasan wisata Dieng.

Kedepanya perlu dipikirkan agar generasi penerus kesenian lengger tetap eksis dalam menghadapi perkembangan zaman.

Fenomena Ruwatan Cukur Rambut Gembel Atau Gimbal

7:19 AM // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Secara unik, Banyak anak - anak di Dataran Tinggi Dieng yang memiliki rambut gembel atau gimbal. Fenomena ini dihubungkan dengan hal - hal spiritual. Masyarakat dataran tinggi dieng beranggapan rabut gembel atau gimbal tidak dapat dihilangkan begitu saja karena seorang anak yang berambut gembel merupakan keturunan leluhur atau pepunden Dieng, versi lain menyebutkan rambut gembel dianggap sebagai "Balak" atau bisa membawa musibah.

Rambut Gimbal atau Gembel adalah sebuah rambut yang tumbuh lebih dari sehelai dengan bentuk menggumpal mirip seperti rambut dikalangan misisi reggae. Ciri-cirinya seorang anak yang akan tumbuh rambut gembel atau gimbal biasanya disertai demam yang tinggi. Sampai dengan saat ini Keberadaan rambut gembel di Dataran Tinggi Dieng masih menjadi misteri dan belum ada penelitian medis mengenai fenomena tersebut.

Prosesi Upacara / Ruwatan Cukur Rambut Gembel / Gimbal

Tradisi masyarakat Dataran Tinggi Dieng mengharuskan seorang anak yang berambut gembel diatas umur 7 tahun harus melakukan ruwatan cukur gembel. Tujuanya agar "Balak" yang ditimbulkannya sirna. Upacara / Ruwatan Cukur Rambut Gembel atau Gimbal akan dilangsungkan setelah Si anak mengajukan permintaan kepada orang tuanya, biasanya permintaan ini sulit untuk dipenuhi. Menurut kepercayaan Masyarakat Dataran Tinggi Dieng permintaan tersebut harus dipenuhi karena bila tidak si anak akan sakit-sakitan bahkan bisa berujung pada musibah.

Ruwatan Cukur Rambut Gembel atau Gimbal bertujuan untuk menghilangkan rambut gembel agar si anak memiliki rambut yang normal, Selain itu si anak yang dicukur rambutnya agar memperoleh keberkahan dan kesehatan. Untuk melakukan ruwatan Cukur Rambut Gembel atau  Gimbal tokoh spiritual harus memandikan anak tersebut dengan menggunakan air kramat di kawasan Dataran Tinggi Dieng seperti di Goa Sumur. Prosesi ruwatan cukur rambut gembel atau gimbal dilengkapi dengan sesajen berupa tumpeng putih dengan dihiasi buah-buah yang ditancapkan, jajanan pasar, 15 jenis minuman dan permintaan sianak.

Setelah memanjatkan Doa, tokoh spiritual mengasapi kepala Si anak dengan kemenyan barulah memotong rambut gembel tersebut dengan sebelumnya memasukkan cincin yang dianggap magis ke tiap helai rambut gembel lalu mencukurnya satu-satu. Rambut yang telah dicukur lalu dibungkus dengan kain putih lalu kemudian dilarung di Telaga Warna Dieng atau ke sungai.

Sampai dengan sekarang Ruwatan Cukur Rambut Gembel atau Gimbal mampu menjadi daya tarik sektor Pariwisata Dataran Tinggi Dieng.

Tari Kuda Kepang (Embleg), Angguk, Cepetan, Bangilon, Jam Janem, Rodad

8:57 PM // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Selain dikenal sumber daya alamnya Wonosobo juga dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak kesenian tradisional, jenis kesenian tradisional yang ada sangat beragam, muali dari kuda kepang, tari lengger, angguk, gambus, qosidah dan rebana.

Hingga kini, masyarakat Wonosobo masih terus melestaraikan berbagai jenis kesenian tradisional yang sudah diwarisi secara turun temurun.

Pada umumnya kesenian tradisional dipentaskan pada acara-acara tertentu, seperti : hari-hari besar nasional, hari jadi Wonosobo dan hari-hari penting lainya. Bahkan tidak jarang kesenian tradisional ditampilkan di hotel-hotel berbintang untuk memenuhi pesanan wisatawan.

Tari Kuda Kepang (Embleg)

Tarian Kuda Kepang atau embleg dibawakan oleh 7 orang penari yang terdiri dari seorang penari sebagai pemimpin atau plandang dan 6 orang penari sebagai prajurit pengikutnya.

Tari Kuda Kepang / Embleg mengambil legenda Raden Panji Asmara Bangun yang sedang mencari kekasihnya bernama Sekartaji yang sangat dicintainya.

Tari Angguk

Diantara jenis tarian angguk yang ada adalah angguk menorek, yaitu sebuah tarian yang menggambarkan cerita Menak (Pahlawan Arab) ataupun cerita Omar-Amir, Imam Auwongso, Wong Agung Jayenegoro dan sebagainya. Bentuk tarianya dipengaruhi unsur-unsur keagamaan, sedangkan kostum yang dikenakan merupakan kostum wayang orang. Alat-alat yang digunakan antara lain : Rebana, Jidor (bedug kecil) dan kendang. Sedangkan lagu yang dibawakan bernafaskan Islam. Tarian tersebut dinamakan Angguk, karena gerakan yang di bawakan menggunakan leher selalu mengangguk angguk. Pada masanya tarian ini dibawakan untuk menghormati raja.

Tari Cepetan

Tarian ini berkembang sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda. Dinamakan tarian cepetan karena wajah para penari dicorang-coreng mengguanakan arang kayu, hanya bagaian matanya saja yang terlihat jelas, dalam perkembanganya wajah para penari tidak lagi dicorang-coreng menggunakan arang kayu tetapi sudah diganti dengan kain penutup. Alat yang digunakan untuk mengiringi tarian cepetan adalah jidur, rebana, dan kendang.

Tari Bangilon

Tari Bangilon adalah sebuah tarian keprajuridan dimana beberapa prajurid mengenakan selempang lengkap dengan tanda pangkatnya, sedangkan celana yang dikenakan menggunakan celana pendek.

Semua penari Bangilon memakai kaca mata hitam bulat, kemudian untuk mengiringi tarian, para penari menyanyi bersama sama yang diambilkan dari kitab Berzanji yang sudah dicampur dengan nyanyian Indoensia, sehingga terbentuklah suatutarian yang sangat menarik, sedangkan alat musik pengiring menggunakan rebana dan jidor.

Tari Jam Janem

Tari Jam Janem berbentuk selawatan (nyanyian) yang dibawakan oleh gadis-gadis yang masih suci dengan iringan terbang dan kendang.

Tari Rodad

Tari Rodad merupakan tarian yang ditampilkan dengan gerakan silat yang diiringi dengan lagu-lagu yang bernafaskan Islam.

Wonosobo Yang Aku Banggakan !
Sumber Gambar : suaramerdeka.com

Logat Semi Ngapak, Unik Dan Antik

7:21 AM // 1 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Pernahkah anda berbicara dengan masyaraat Dataran Tinggi Dieng ? Jika belum, sesekali anda boleh mencoba. Walaupun sama-sama jawanya, mungkin anda merasa sedikit geli ataupun aneh, karena bagi yang belum terbiasa mendengar logat masyarakat Dataran Tinggi Dieng akan terdengar unik ataupun antik.

Bahasa ibu yang di gunakan dalam keseharian masyarakat Dataran Tinggi Dieng menggunakan bahasa jawa, dengan logat semi ngapak, tidak sekental logat Banyumasan tapi tingkat ke ngapakanya masih terasa jelas, seperti contoh : Mbekayu (Kakak Perempuan), Sekang (Dari), Teyeng (Bisa), dll. salah satu ciri khas logat ini adalah pengucapan vokal "a" yang diucapkan utuh dan penekanan huruf - huruf dengan lebih jelas / tebal.

Yang lebih unik dan antik, setiap kali masyarakat Dataran Tinggi Dieng berbicara biasanya diakhiri "Ce" (Secara terpisah) sebagai contoh : Ngapa si "Ce" ? "Ce" disini seperti latah, tapi bukan latah. "Ce" juga memantabkan setiap pembicaraan dan dibunyikan agak panjang. contoh lain : Mbekayu sekang ngendi "Ce" ?

Logat sendiri dapat didefinisikan sebagai alunan nada yang dimiliki oleh masing - masing orang sesuai asal daerah mereka sendiri - sendiri, sedangkan Logat Ngapak / Banyumasan diperkirakan merupakan logat jawa yang tertua.

Perbedaan logat bahasa Jawa dan Banyumasan terletak antara huruf A dan O, sebagai contoh : Banyumasan (Padha, Lunga, Apa) dalam Bahasa Jawa (Podho, Lungo, Opo).

Logat merupakan kekayaan budaya, yang harus tetap dilestarikan. Sebagai ciri masyarakat yang beradab lebih bangga / menghargai dengan logatnya sendiri dan tidak menggangap remeh ataupun rendah logat bahasa lain.

Rekonstruksi Dharmashala

7:14 AM // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Seni Budaya //
Dharmashala adalah bangunan tempat peristirahatan para peziarah, biasanya terdapat disekitar candi atau vihara. Di Dharmashala inilah para peziarah mempersiapkan diri untuk beribadad ke candi atau menghadap guru di vihara, termasuk mempersiapkan perlengkapan upacara.

Dharmashala pada umumnya menggunakan arsitektur lokal. Mengingat bagian yang tersisa dari Dharmashala di kompleks Candi Arjuna ini hanya tinggal umpaknya, maka diasumsikan bangunan Dharmashala berstruktur rangka. Bentuk bangunan yang digunakan sebagai acuan adalah bangunan berstruktur rangka pada relief candi Borobudur yang dibangun pada masa tidak jauh dengan masa candi-candi di Dieng yaitu abad IX.

Mengingat rekonstruksi bangunan ini tidak menggunakan acuan bangunan Dharmashala aslinya, maka rekonstruksi ini bersifat hipotesis. Walaupun demikian, diharapkan rekonstruksi ini dapat membantu imajinasi pengunjung dalam menggambarkan bentuk Dharmashala. Rekonstruksi Dharmashala ini dilaksanakan pada bulan Maret - Juni 2008.

Menurut Pramoto Atmadi, bangunan yang digambarkan di relief Borobudur terdiri atas baerbagai macam bahan. Bangunan rangka kayu ditandai dengan tiang-tiang yang besar. Bangunan rangka besi memiliki tiang-tiang kecil dan berprofil.

Di relief Borobudur, bangunan yang memiliki umpak banyak juga memiliki tiang besar. Karena bangunan Dharmashala ini memiliki umpak banyak, maka bahan bangunan yang dipilih adalah kayu dengan menggunakan struktur rangka.

Tinggi bangunan dibuat dengan menggunakan ukuran tinggi normal manusia dewasa yang tanganya diangkat ke atas, dihitung sampai dengan ujung jari tengah. Disebut depa media (Bali).

Tinggi Kolong, atau jarak antara permukaan tanah dengan lantai dibuat dengan pedoman jangkauan maksimum kaki untuk melangkah naik anak tangga.

Atap Dharmashala dipilih menggunakan atap pelana, meskipun di relief Borobudur dijumpai berbagai jenis atap. Pilihan ini didasarkan pada susunan temuan umpak Dharmashala yang menggambarkan atapnya adalah atap pelana, karena atap pelana tidak memerlukan tiang ditengah, sedangkan atap limasan memerlukan deretan tiang ditengah.

Temuan umpak Dharmashala berada diatas fondasi batu yang diurug tanah, sehingga umpak hanya tampak sedikit. Karena udara yang teramat dingin, maka lantai tidak diletakkan langsung di atasnya, melainkan diberi kolong. Dengan demikian, Dharmashala berbentuk bangunan berpanggung.

Berdasarkan bentuk penyangga lantai, bahan yang dianggap sesuai untuk lantai Dharmashala adalah papan kayu. Lantai kayu seperti ini juga digunakan di rumah panggung.

Penutup atap Dharmashala dipilih ijuk. Pilihan ini bertolak dari penggambaran atap bangunan di relief Borobudur yang tidak menunjukkan detil genteng atau sirap. Ijuk sebagai penutup atap pun lazim digunakan di wilayah Austronesia.

Usuk penyangga atap dibuat dari bambu. Meskipun relief tidak menggambarkan usuk bambu, akan tetapi kebiasaan pada masa lalu atap ijuk selalu menggunakan usuk bambu.

Struktur penyangga atap menggunakan ander sebagaimana terlihat pada bangunan relief Borobudur, sedangkan sambungan kayu menggunakan sistem catokan, yang juga ditemukan di relief Borobudur. Relief di Borobudur tidak mengambarkan detil sistem pengunci hubungan antara komponen bangunan. Oleh karena itu, acuan yang digunakan dalam rekonstruksi Dharmashala adalah sistem yang telah digunakan berabad-abad pada bangunan tradisional Jawa, yaitu sistem yang menggunakan pasak atau purus.

Fondasi Dharmashala setelah dipugar, fondasi menjadi lebih tinggi dan diurug tanah, sehingga penyangga tiang hanya kelihatan sedikit.

(Artikel dikutip dari majalah dinding, Rekonstruksi Dharmashala Kompleks Candi Arjuna Dataran Tinggi Dieng).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar