Selasa, 06 Maret 2012

Perkawinan Budaya, Strategi Membesarkan Bangsa

Perkawinan Budaya, Strategi Membesarkan Bangsa

Oleh Zika Zakiya  | 28-02-2012 | http://ngi.cc/nKk | budaya

Perkawinan Budaya, Strategi Membesarkan Bangsa
Norbertusa/Fotokita.net
 
Budaya berpengaruh besar pada kehidupan suatu bangsa. Indonesia menjadi bangsa yang unik karena dihuni ratusan kebudayaan dari ribuan pulau yang berada di dalamnya. Kebudayaan ini jika digabungkan dengan budaya dari bangsa lain -dalam hal ini budaya positif dan pragmatis- maka Indonesia bisa jadi negara besar yang disegani bangsa lain.

Demikian pemaparan dari Yayasan Nabil yang dipromotori Eddie Lembong dalam diskusi "Cross Cultural Fertilization: Sebuah Strategi Kebudayaan" di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (28/2). Saripati berbagai budaya dari suku-suku di Indonesia maupun dari belahan dunia lain yang dianggap berkualitas bisa saling 'dikawinkan.'

"Indonesia terbentuk dan berkembang karena kemajemukan. Kemajemukan ini sudah jadi fondasi asal bangsa dengan dasar Pancasila," kata Wakil Pemimpin Harian Kompas St.Sularto sebagai salah satu pembicara dalam diskusi itu.

Ditambahkan oleh budayawan dari Freedom Institute, Nirwan Ahmad Arsuka, jika kebudayaan bisa lebih unggul jika bisa menggabungkan spesimen-spesimen unggulan beberapa kebudayaan berbeda. Tapi, ditekankan oleh Nirwan jika hal ini bisa sukses jika ada sudut pandang yang berjarak dari kebudayaan yang ada.

"Penyerbukkan budaya kerap gagal karena terkadang sulit bagi masyarakat memberi jarak pada budaya yang diwariskan," kata Nirwan.

Namun, apa tolok ukur budaya yang baik tidak bisa dijelaskan secara definitif. Menurut Taufik Abdullah sebagai sejarawan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ideal atau tidak sebuah kebudayaan tergantung dari visi  masyarakat terhadap diri sendiri.

Sebagai contoh, kata Taufik, bisa jadi yang dibayangkan masyarakat ideal adalah yang cerdas, adil, dan berperikemanusiaan. Sedangkan di masyarakat lain, budaya yang baik adalah rukun dan saling membantu.

"Apa yang dianggap suatu masyarakat ideal belum tentu dianggap ideal oleh masyarakat lain. Tapi masyakarat kadang kurang suka memilih masalah etika mana yang baik dan mana yang buruk," kata Taufik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar