Selasa, 13 Maret 2012

Metro TV gandeng UNS dan Mahkamah Konstitusi gelar Final Lomba Budaya Sadar Pancasila



Auditorium UNS Senin (5/3) nampak ramai oleh para awak media, baik media cetak maupun elektronik. Selain itu juga dipenuhi oleh para bapak dan ibu yang berseragam coklat (PNS) dan juga guru dari beberapa sekolah di Surakarta. Mahasiswa dan dosen yang mayoritas dari fakultas Hukum juga tidak ketinggalan meramaikan acara.

Pada kesempatan tersebut sedang diadakan acara Lomba Budaya Sadar Pancasila dan Konstitusi bagi Perangkat Kelurahan se-Surakarta atas kerja sama UNS, Mahkamah Agung, Pemerintah kota Surakarta, dan juga Stasiun Televisi Metro TV. Acara tersebut merupakan final dari lomba yang sudah diadakan selama tiga hari dan diikuti oleh 51 kelurahan se-Surakarta, sehingga menghasilkan tiga finalis yaitu dari Kelurahan Kepatihan Wetan, Kelurahan Serengan, dan Kelurahan Kerten.

Walikota Surakarta Jokowi dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tidak tanggung-tanggung hadir dalam acara yang nantinya akan disiarkan di Metro TV pada 14 Maret 2012 itu. Dalam sambutan singkatnya, Mahfud menyebutkan bahwa generasi sekarang ini banyak yang memahami namun tidak mau melaksanakan. Oleh karena itu ia menghimbau agar acara ini dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran terhadap generasi baik itu tua maupun muda.

Selain kedua tokoh terkemuka tersebut, Rektor UNS Ravik Karsidi juga hadir dan memberikan sambutan singkatnya. Ia mengemukakan bahwa acara ini merupakan bagian dari upaya mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia. Ravik juga mengaku bangga karena Solo menjadi kota pertama diselenggarakannya lomba. Ia berharap agar ke depan terus berlanjut acara semacam ini di kota-kota lain di Indonesia.

Final Lomba Budaya Sadar Pancasila dan Konstitusi bagi Perangkat Kelurahan se-Surakarta tersebut dinilai oleh 9 juri yang diketuai oleh Arif Hidayat, S.H. Penilaiannya terdiri dari dua sesi, sesi menjawab pertanyaan dari dewan juri dan sesi debat, yaitu saling memberikan pertanyaan kepada masing-masing tim.

Beberapa pertanyaan terlontar dalam acara tersebut, dan berbagai pendapat dari setiap finalis pun tercipta. Akhirnya acara Final Lomba Budaya Sadar Pancasila dan Konstitusi bagi Perangkat Kelurahan se-Surakarta tersebut berakhir dengan dinobatkannya kelurahan Kerten sebagai Juara I dan disusul oleh Kelurahan Kepatihan wetan, kemudian kelurahan Serengan sebagai Juara III.  Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dipercaya untuk memberikan hadiah berupa tropi MK, uang sebesar 15 Juta rupiah, dan 3 buah computer jinjing (laptop) kepada pemenang pertama. Wali kota Surakarta Jokowi dan Rektor UNS Ravik Karsidi masing-masing memberikan hadiah pada pemenang kedua dan ketiga.

Ceramah Mahfud MD : ''Tidak hanya tau, tapi juga mau.''

Pancasila seharusnya dipertahankan dan dijadikan sebagai idealitas yang diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila juga menjadi pembeda Bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Namun kondisi yang berkembang saat ini seakan mencerminkan adanya Erosi dalam hal pemahaman pancasila. Pancasila seolah senyap dari diskursus dan dialog keseharian masyarakat. Kajian tentang pancasila semakin tidak popular dan sepi peminat.

Dalam ceramah yang disampaikan Mahfud MD pada Penutupan Lomba Budaya Sadar Pancasila dan Konstitusi bagi Perangkat Kelurahan se-Surakarta (5/3) dijelaskan bahwa penyimpangan yang terjadi di Indonesia bukan karena ketidaktahuan, namun karena ketidaksediaan untuk melaksanakan. ''Koruptor itu bukan tidak tahu Pancasila,'' ungkapnya. Sekarang ini kalau sudah tau, pertanyannya apakah mau melaksanakan? Oleh karena itu, Mahfud menyatakan bahwa Lomba Sadar ini perlu dibentuk untuk menggugah masyarakat agar tidak hanya tahu, tapi juga mau melaksanakan.

Mahfud juga menambahkan tentang perbedaan falsafah dan ideology. Menurutnya, Ideology merupakan kesepakatan tentang nilai-nilai hidup yang akan dijadikan rujukan untuk kehidupan bersama. Berbeda dengan falsafah yang berlaku secara individual. ''Kalau ada falsafah atau nilai-nilai hidup yang tidak disepakati bersama, maka itu bukan ideology,'' jelasnya.

Ideology juga menghasilkan adanya budaya. Mahfud menegaskan ia tidak percaya bahwa indonesia punya budaya korupsi. ''Tidak mungkin budaya itu buruk, budaya adalah produk keluhuran,'' paparnya. Mahfud menghimbau kepada masyarakat agar tidak percaya akan adanya sebutan bahwa ada budaya korupsi, budaya malas, dll, sebab kepercayaan itu justru akan membuat kita terjerumus ke dalam tindakan buruk yang menjadikannya nyata.

Pada kesempatan tersebut, mahfud juga menyoroti mengenai peserta yang kebanyakan adalah perempuan. Dari 9 finalis yang ada, 8 diantaranya adalah perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia boleh maju dan tidak nampak adanya bias gender. Bahkan Mahfud mencermati bahwa kaum perempuan justru sering mendominasi setiap lomba dan mendapatkan prestasi yang lebih baik dari pada laki-laki. Hal itu menurutnya bukan karena laki-laki bodoh, namun karena kurangnya keseriusan dalam mempersiapkan diri dibanding perempuan.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar