Sabtu, 03 Maret 2012

Kategori:Budaya Bali

 

Kategori:Budaya Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Subkategori

Kategori ini memiliki 4 subkategori berikut, dari total 4.

B

M

N

Halaman dalam kategori "Budaya Bali"

Kategori ini memiliki 6 halaman, dari total 6.
 

Joged Bumbung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Joged Bumbung merupakan tari pergaulan di Bali. Biasanya dipentaskan dalam acara-acara sosial kemasyarakatan di Bali, seperti acara pernikahan. Tarian ini ditarikan oleh penari wanita, yang kemudian mencari pasangan pria dari para penonton untuk diajak menari bersama. Tarian ini biasanya diiringi dengan seperangkat musik dari bambu.

 

Gambuh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gambuh
Gambuh adalah tarian dramatari Bali yang dianggap paling tinggi mutunya dan juga merupakan dramatari klasik Bali yang paling kaya akan gerak-gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali.
Diperkirakan Gambuh muncul sekitar abad ke-15 dengan lakon bersumber pada cerita Panji. Gambuh berbentuk teater total karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, seni drama dan tari, seni rupa, seni sastra, dan lainnya.
Gambuh dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya.
Diiringi dengan gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu, tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu. Dalam memainkan tokoh-tokoh tersebut semua penari berdialog umumnya menggunakan bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya, atau kasar.
Gambuh yang masih aktif hingga kini terdapat di desa:
  • Kedisan (Tegallalang, Gianyar)
  • Batuan (Gianyar)
  • Padang Aji dan Budakeling (Karangasem)
  • Tumbak Bayuh (Badung)
  • Pedungan (Denpasar)
  • Apit Yeh (Tabanan)
  • Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng)
 

Kecak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Musik dari Indonesia
Traditional indonesian instruments04.jpg
Gong dari Jawa
Garis waktuContoh
Ragam
Klasik • Kecak • Kecapi suling • Tembang Sunda • Pop • Dangdut • Hip hop • Keroncong • Gambang keromong • Gambus • Jaipongan • Langgam Jawa • Pop Batak • Pop Minang • Pop Sunda • Qasidah modern • Rock • Tapanuli ogong • Tembang Jawa
Bentuk tertentu
Angklung • Beleganjur • Calung • Gamelan • Degung • Gambang • Gong gede • Gong kebyar • Jegog • Joged bumbung • Salendro • Selunding • Semar pegulingan
Musik daerah
Bali • Kalimantan • Jawa • Kepulauan Maluku • Papua • Sulawesi • Sumatera • Sunda
Tari kecak
Penampilan tari Kecak pada penutupan pameran pendidikan di Kolese Kanisius, Jakarta.
Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack, dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.[rujukan?]
Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.[rujukan?]
Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.[rujukan?]

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ "'Cultural Tourism' in Bali: Cultural Performances as Tourist Attraction", p.59. Author(s): Michel Picard. Source: Indonesia, Vol. 49, (Apr., 1990), pp. 37-74. Published by: Southeast Asia Program Publications at Cornell University.
 

Legong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sepasang penari legong. Perhatikan kipas dan bentuk hiasan kepala yang khas untuk kelompok tarian ini.
Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh. Kata Legong berasal dari kata "leg" yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur dan "gong" yang artinya gamelan. "Legong" dengan demikian mengandung arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.
Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua.[1] Konon idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.[2]
Sesuai dengan awal mulanya, penari legong yang baku adalah dua orang gadis yang belum mendapat menstruasi, ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari ini, disebut legong, selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tari legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong, yang tidak dilengkapi dengan kipas.
Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari papeson, pangawak, pengecet, dan pakaad.
Dalam perkembangan zaman, legong sempat kehilangan popularitas di awal abad ke-20 oleh maraknya bentuk tari kebyar dari bagian utara Bali. Usaha-usaha revitalisasi baru dimulai sejak akhir tahun 1960-an, dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi.[rujukan?]

[sunting] Beberapa tari legong

Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta), Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista).[rujukan?]
Legong Lasem (Kraton)
Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.
Legong Jobog
Tarian ini, seperti biasa, dimainkan sepasang legong. Kisah yang diambil adalah dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya. Karena ajimat itu dibuang ke danau ajaib, keduanya bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi kera., dan pertempuran tidak ada hasilnya.
Legong Legod Bawa
Tari ini mengambil kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tatkala mencari rahasia lingga Dewa Syiwa.
Legong Kuntul
Legong ini menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang asyik bercengkerama.
Legong Smaradahana
Legong Sudarsana
Mengambil cerita semacam Calonarang.
Beberapa daerah mempunyai legong yang khas. Di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang dinamakan Andir (Nandir). Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Suartaya, Kadek "Lasem, Legong Lazim Gadis Bali". Bali Post daring. Edisi 1 April 2007. Diakses 4 November 2008.
  2. ^ Laman Pialegong
 

Sanghyang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Dua orang penari Bali sedang melakukan tarian Sanghyang Dedari
Sanghyang adalah salah satu jenis teater tradisi di Bali yang disuguhkan dalam bentuk tari yang bersifat religius dan secara khusus berfungsi sebagai tarian penolak bala atau wabah penyakit [1]. Sampai saat ini, Tari Sanghyang tidak diadakan sekedar sebagai sebuah tontonan[2]. Tari Sanghyang merupakan tari kerauhan (kesurupan) karena kemasukan hyang, roh, bidadari kahyangan, dan binatang lainnya yang memiliki kekuatan merusak seperti babi hutan, monyet, atau yang mempunyai kekuatan gaib lainnya)[2].
Tari ini adalah warisan budaya Pra-Hindu yang dimaksudkan sebagai penolak bahaya, yaitu dengan membuka komunikasi spiritual dari warga masyarakat dengan alam gaib[2]. Tarian ini dibawakan oleh penari putri maupun putra dengan iringan paduan suara pria dan wanita yang menyanyikan tembang-tembang pemujaan[2]. Di daerah Sukawati-Gianyar, tari ini juga diiringi dengan Gamelan Palegongan[2].Di dalam Tarian ini selalu ada tiga unsur penting yaitu asap/api, Gending Sanghyang dan medium (orang atau boneka)[2].

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Tiga Tahap Penyelenggaraan Tarian Sanghyang

1. Nusdus
Upacara penyucian medium dengan asap/api[2].
2. Masolah
Penari yang sudah kemasukan roh mulai menari[2].
3. Ngalinggihang
Mengembalikan kesadaran medium dan melepas roh yang memasuki dirinya untuk kembali ke asalnya[2].

[sunting] Jenis-jenis Sanghyang

[sunting] Sanghyang Dedari

Sanghyang Dedari ditarikan oleh remaja atau gadis perawan yang dianggap masih bersih.[3]. Upacara dimulai di pura, dengan prosesi berjalan ke tempat acara berlangsung.[3] Penari berdiri diiringi nyanyian anak laki-laki, lalu menarikan tarian yang serupa Legong, namun dalam versi mistik.[3]. Meskipun mata mereka ditutup, mereka menari bersama dalam gerakan yang sinkron dan indah[3].
Ketika nyanyian berhenti, para penari yang tak sadarkan diri melompat ke tanah[3]. Seorang pemangku menyadarkan mereka dengan mengucapkan doa dan percikkan air suci[3]. Setelah sadar, mereka merasakan kelelahan namun tidak menyadari telah banyak bergerak dan menari.[3].
Sanghyang Dedari berkembang dari tarian yang bersifat keagamaan menjadi ritual memohon kesehatan dan kesejahteraan desa. Tarian ini biasanya dilakukan untuk mengusir roh jahat yang mengganggu kerukunan umat manusia dalam bentuk penyakit atau kematian[3].
Tarian ini dipentaskan ketika dewa-dewa yang turun untuk sementara ke alam manusia, menyatakan diri melalui penari yang kesurupan.[3] Kata Sanghyang bermakna dewata sementara kata Dedari itu berarti bidadari.[3].

[sunting] Sanghyang Deling

Tari Sanghyang Deling ditarikan sepasang gadis yang belum dewasa, tarian ini dimasuki roh Dewa Wisnu atau Dewi Sri yang melambangkan kesuburan[4]. Dengan sarana sebatang pepohonan yang digantungi dua boneka yang disebut Deling terbat dari daun lontar[4]. Semakin kencangnya gerak dari pada deling menandakan kedua penari tesebut telah kemasukan roh, tujuan tari ini untuk memohon keselamatan. Tarian ini berasal dari Desa Kintamani Kabupaten Bangli[4].

[sunting] Sanghyang Bojog

Tari Sanghyang Bojog ditarikan oleh seorang pria dengan busana seperti seekor kera[4]. Sebelumnya dilakukan upacara pemanggilan roh kera, setelah penari kemasukan roh maka penari tersebut akan melompat-lompat di atas pohon menirukan gerak-gerik kera, kadang-kadang gerakanya sulit untuk ditirukan oleh manusia[4]. Tarian Sanghyang Bojog ini ada di Kabupaten Karangasem[4].

[sunting] Sanghyang Jaran

Tari Sanghyang Jaran ditarikan oleh seorang pria atau seorang pemangku yang mengendarai sebuah kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun kelapa. Penarinya kerasukan roh kuda tunggangan dewata dari kahyangan, diiringi dengan nyanyian paduan suara yang melagukan Gending Sanghyang, berkeliling sambil memejamkan mata, berjalan dan berlari-kecil dengan kaki telanjang, menginjak-injak bara api batok kelapa yang dihamparkan di tengah arena[2].
Tari ini diselenggarakan pada saat-saat prihatin, misalnya terjadi wabah penyakit atau kejadian lain yang meresahkan masyarakat, dan terdapat di daerah Denpasar, Badung, Gianyar dan Bangli[2].

[sunting] Sanghyang Sampat

Tari Sanghyang Sampat terjadi karena penarinya yang seorang [[[gadis]]] kemasukan roh halus dengan perantara sapu lidi (sampat) yang digerak-gerakkan secara bebas kekiri dan kekanan. Ada pula tarian sejenis yang perantaranya sepotong bambu maka disebut Tari Sanghyang Bumbung[5].

[sunting] Sanghyang Celeng

Tari Sanghyang Celeng yang ditarikan oleh seorang pria dengan busana yang terbuat dari ijuk yang menyerupai babi[4]. Setelah penari dimasuki roh, maka penari akan merangkak menirukan tingkah laku seekor babi. Tarian ini terdapat di Desa Duda Kabupaten Karangasem[4].

[sunting] Referensi

 

Tari Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gambuh
Tari Bali adalah tarian yang berasal dari Bali.[1]
Tari Bali tidak selalu bergantung pada alur cerita.[1] Tujuan utama penari Bali adalah untuk menarikan tiap tahap gerakan dan rangkaian dengan ekspresi penuh.[1] Kecantikan tari Bali tampak pada gerakan-gerakan yang abstrak dan indah.[1] Tari-tari Bali yang paling dikenal antara lain pendet, gabor, baris, sanghyang dan legong.[1]
Tari Bali sebagian besar bermakna religius.[2] Sejak tahun 1950-an, dengan perkembangan pariwisata yang pesat, beberapa tarian telah ditampilkan pada kegiatan-kegiatan di luar keagamaan dengan beberapa modifikasi.[1]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Kategori

Tari Bali dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan).[1] Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu.[1] Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah).[1] Sebaliknya tari balih-balihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi) dalam acara yang bersifat hiburan.[1]

[sunting] Wali

Baris
Tari Kecak.
Tari Legong.
Tari wali, merupakan tarian sakral, dipentaskan di halaman bagian dalam pura (jeroan).[2] Jenisnya:
  • Rejang, tarian yang ditampilkan oleh wanita secara berkelompok di halaman pura pada saat berlangsungnya upacara.[3] Tari rejang memiliki gerakan yang sederhana dan lemah gemulai.[3]
  • Baris, jenis tarian pria, ditarikan dengan gerakan yang maskulin.[4] Berasal dari kata bebaris yang bermakna prajurit, tarian ini dibawakan secara berkelompok, berisi 8 sampai 40 penari.[4]
  • Pendet, adalah tarian pembuka upacara di pura. Penari yang terdiri dari wanita dewasa menari sambil membawa perlengkapan sesajen.[2] Gerakan Tari Pendet lebih dinamis dibanding Tari Rejang.[5] Kini, Pendet telah ditarikan untuk hiburan, terutama sebagai tari penyambutan.
  • Sanghyang Dedari adalah tari yang memasukkan unsur-unsur kerasukan guna menghibur dewa-dewi, meminta berkat dan menolak bala.[2]
  • Barong adalah seni tari yang menceritakan pertarungan antara kebajikan dan kejahatan.[2] Tokoh utama adalah barong, hewan mistik yang diperankan dua penari pria, seorang memainkan kepala dan kaki depan, seorang lagi jadi kaki belakang dan ekor.[6]

[sunting] Bebali

Bebali adalah jenis tarian upacara, biasanya dipentaskan di halaman tengah pura.[2] Tari ini sifatnya di antara sakral dan hiburan.[2]
  • Gambuh, adalah sendratari Bali yang tertua.[1] Musik, literatur dan kosakata yang digunakan dalam tariannya diturunkan dari periode Majapahit di Pulau Jawa.[1] Pertunjukkan ini biasanya ditampilkan di pura pada saat hari-hari besar dan upacara.[1]

[sunting] Balih-balihan

Balih-balihan adalah jenis tarian yang bersifat non-religius dan cenderung menghibur.[2] Ditampilkan di halaman depan atau luar pura.[2] Jenis-jenisnya:
  • Janger adalah tarian pergaulan yang dibawakan oleh penari laki-laki maupun perempuan. Penari putri mengenakan mahkota berbentuk merak berwarna emas dan hiasan daun kelapa kering.[2] Sebagian besar tarian ditampilkan dalam posisi duduk, dengan gerakan-gerakan tangan, bahu dan mata.[2]
  • Kebyar atau kekebyaran dapat ditarikan secara solo, duet, trio, kelompok atau dalam sendratari.[7] Tari ini diiringi dengan permainan gamelan gong kebyar.[7]
  • Legong adalah tarian yang diciptakan oleh Pangeran Sukawati berdasarkan mimpinya melihat bidadari.[2] Penari legong yang berjumlah 3 orang menari mengikuti permainan gamelan semar pagulingan.[1]
  • Kecak adalah tarian beramai-ramai yang dibawakan di malam hari mengelilingi api unggun.[2] Ditampilkan oleh seratus atau lebih pria sambil duduk, dipimpin oleh pendeta di tengah-tengah. Tari kecak tak diiringi musik, tapi hanya tepukan telapak tangan yang memukul bagian-bagian dari tubuh agar menghasilkan suara. Mereka mengucapkan kata-kata "cak, cak, cak" untuk menghasilkan suatu paduan suara unik.[8]

[sunting] Tari topeng

Di Bali, topeng dianggap sakral, seperti topeng barong ket (singa), barong macan, (harimau), barong bangkal (babi hutan), barong lembu (banteng) dan barong landung (raksasa). Menarikan tari topeng dilakukan untuk memainkan kisah kehidupan nenek moyang, kisah Ramayana atau riwayat sejarah.
Tari topeng yang terkenal antara lain Topeng Pajegan. Tari ini dipentaskan pada saat upacara akil balig (metatah), pernikahan, dan perayaan di dalam pura. Cerita Topeng Pajegan didasarkan dari Babad Bali yang menceritakan kisah raja-raja Bali dan menteri-menterinya.

[sunting] Pranala luar

[sunting] Referensi

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n Indonesian Heritage - Performing Arts. Singapore: Archipelago Press. 23 Februari 1998. hlm. 78-79. ISBN 981-3018-35-6.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m (Inggris)Dance, Music, and Theaters of Bali, indo.com. Akses:23-11-2011.
  3. ^ a b (Inggris)Rejang, babadbali. Akses:23-11-2011.
  4. ^ a b (Inggris)Baris, babadbali. Akses:23-11-2011.
  5. ^ (Inggris)Pendet, babadbali. Akses:23-11-2011.
  6. ^ (Inggris)Tari Barong, taribarong. Akses:23-11-2011.
  7. ^ a b (Inggris)Kebyar, babadbali. Akses:23-11-2011.
  8. ^ (Inggris)Cak, babadbali. Akses:23-11-2011.
 

Tari Janger

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tari Janger
Tari Janger adalah salah satu tari Bali yang terpopuler.[1] Diciptakan pada tahun 1930-an, Janger adalah tari pergaulan muda mudi Bali. Tari ini dibawakan oleh 10 penari yang berpasangan, yaitu kelompok putri (janger) dan putra (kecak).[2] Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan.[2]
Gerakan Janger sederhana namun ceria dan bersemangat.[1] Musik yang menjadi latar belakang tari adalah Gamelan Batel atau Tetamburan dan gender wayang.[2]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Sejarah dan perkembangan

Merupakan jenis tari kreasi yang lebih baru, Janger diadaptasikan dari aktivitas para petani yang menghibur diri karena lelah bekerja.[3] Lirik lagunya diadaptasikan dari nyanyian Sanghyang, sebuah tarian ritual.[2] Jika dikategorikan dalam Tari Bali, Janger termasuk Tari Balih-balihan, tarian yang memeriahkan upacara maupun untuk hiburan.[3]
Karena populernya, pada tahun 1960-an, Janger mulai dipentaskan dalam kegiatan berbagai partai politik, tak terkecuali PKI.[3] Kelompok-kelompok tari Janger mendukung kampanye pemutusan hubungan RI dengan Malaysia pada tahun 1963.[3] Presiden Soekarno memberi banyak perhatian kepada tari ini, salah satunya dengan membawa penari-penari Janger pentas di Istana Tampaksiring.[3] Setelah peristiwa G30S/PKI terjadi, banyak seniman janger yang dianggap berpihak kepada PKI dibunuh dan dikucilkan.[3] Masa ini merupakan periode kejatuhan Tari Janger.[3] Baru pada tahun 1970-an, popularitasnya kembali naik.[3]
Pada perkembangannya, kini Janger juga dapat dibawakan oleh orang dewasa.[3] Terdapat kelompok-kelompok tari yang anggotanya wanita dewasa yang berperan sebagai janger maupun kecak.[3] Janger juga dibawakan dalam bentuk drama tari yang disebut Janger Berkisah.[3] Kisah-kisah yang dimainkan antara lain Arjuna Wiwaha, Sunda Upasunda dan sebagainya.[2]
Selama puluhan tahun, Janger telah diajarkan kepada para pemuda pemudi di Bali.[1] Lama kelamaan, tari ini menjadi ajang kenalan pemuda antar desa satu dengan desa lain.[1] Karena berkembang di masing-masing komunitas, muncul varian yang dibumbui dengan gaya tersendiri.[2]
Pemerintah daerah Bali ikut mempopulerkan Janger sebagai tari pembuka pada macam-macam kegiatan dan acara, misalnya program Keluarga Berencana, pemilihan umum, kesehatan untuk lansia[4], sampai kampanye anti narkoba.[1]
Selain dari gerak tarian, lagu Janger kemungkinan lebih populer di luar Bali. Lagu Janger banyak dikenal karena sering dinyanyikan oleh tim Indonesia dalam kejuaraan paduan suara internasional.[5]

[sunting] Varian

  • Janger dari Tabanan. Pada Janger dari daerah ini, muncul Dag, tokoh berpakaian tentara Belanda yang tugasnya memberi aba-aba kepada para penari.[2]
  • Janger dari Desa Metra, Bangli, dipentaskan dengan ritual kesurupan pada akhir pertunjukkannya.[2] Janger jenis ini dinamakan Janger Maborbor, para penarinya yang kesurupan menari sambil menginjak bara api.[3]
  • Janger dari Desa Sibang, Badung, dinamakan juga Janger Gong karena diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar.[2]
  • Janger dari Desa Bulian, Buleleng, khusus dipentaskan oleh warga desa yang mengalami tunawicara.[6]
Terdapat sekaa (organisasi pemuda) yang khusus mementaskan Janger, antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar).[2]
 

Tari Pendet

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penari pendet memegang bokor tempat bunga yang akan ditaburkan.
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).[rujukan?]
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.[rujukan?]
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.[rujukan?]

[sunting] Kontroversi Pendet 2009

Tari pendet menjadi sorotan media Indonesia karena tampil dalam program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel. Menurut pemerintah Malaysia, mereka tidak bertanggung jawab atas iklan tersebut karena dibuat oleh Discovery Channel Singapura,[1] kemudian Discovery TV melayangkan surat permohonan maaf kepada kedua negara, dan menyatakan bahwa jaringan televisi itu bertanggung jawab penuh atas penayangan iklan program tersebut.[2] Meskipun demikian, insiden penayangan pendet dalam program televisi mengenai Malaysia ini sempat memicu sentimen Anti-Malaysia di Indonesia.

[sunting] Referensi

  1. ^ INDONESIA URGED TO RESOLVE MISUNDERSTANDING OVER PENDET DANCE; Darshini Kandasamy (2009-08-25). "‘Pendet’ not a Tourism Malaysia ad". Diakses pada 3 September 2009.
  2. ^ "Tourism Ministry Malaysia Received Apologise Letter From Discovery TV Network". Bernama. 28 Agustus 2009. Diakses pada 3 September 2009
 

Tari Rejang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tari Rejang adalah sebuah tarian kesenian rakyat Bali yang ditampilkan secara khusus untuk perempuan. Gerak-gerik tarinya sangat sederhana, dan biasanya diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara. Tarian ini dilakukan dengan penuh rasa hidrat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi Hindu. Para penarinya mengenakan pakaian upacara, menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegangan tangan. Tari Rejang di beberapa tempat juga disebut dengan ngeremas atau sutri.[1]

[sunting] Jenis-jenis

Berikut ini adalah beberapa jenis tari Rejang yang biasa dipentaskan:
  • Rejang Renteng
  • Rejang Bengkel
  • Rejang Ayodpadi
  • Rejang Galuh
  • Rejang Dewa
  • Rejang Palak
  • Rejang Membingin
  • Rejang Makitut

[sunting] Referensi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar