Sabtu, 03 Maret 2012

Kategori:Budaya Bali 2


Kategori:Bahasa Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Subkategori

Kategori ini hanya memiliki satu subkategori berikut.

A

Halaman dalam kategori "Bahasa Bali"

Kategori ini hanya memiliki satu halaman berikut.

Aksara Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Aksara Bali
Baris satu dan dua memaparkan 18 huruf dasar dalam aksara Bali. Baris ketiga memaparkan 7 huruf vokal mandiri dasar beserta 1 huruf diftong.
Informasi
Jenis aksara Abugida
Bahasa Bali, Sasak
Periode sekitar abad ke-10 hingga sekarang
Arah penulisan Kiri ke kanan
Silsilah
Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
Aksara kerabat Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó'o
Jawa
Lontara
Sunda Kuno
Rejang
Tagbanwa
Baris Unicode U+1B00–U+1B7F
ISO 15924 Bali, 360
Nama Unicode Balinese
Perhatian: Halaman ini mungkin memuat simbol-simbol fonetis IPA menggunakan Unicode.
Aksara Bali adalah aksara tradisional masyarakat Bali dan berkembang di Bali. Aksara Bali merupakan suatu abugida yang berpangkal pada huruf Pallawa. Aksara ini mirip dengan aksara Jawa. Perbedaannya terletak pada lekukan bentuk huruf.
Aksara Bali berjumlah 47 karakter, 14 di antaranya merupakan huruf vokal (aksara suara). Huruf konsonan (aksara wianjana) berjumlah 33 karakter. Aksara wianjana Bali yang biasa digunakan berjumlah 18 karakter. Juga terdapat aksara wianjana Kawi yang digunakan pada kata-kata tertentu, terutama kata-kata yang dipengaruhi bahasa Kawi dan Sanskerta.
Meski ada aksara wianjana Kawi yang berisi intonasi nada tertentu, pengucapannya sering disetarakan dengan aksara wianjana Bali. Misalnya, aksara dirgha (pengucapan panjang) yang seharusnya dibaca panjang, seringkali dibaca seperti aksara hresua (pengucapan pendek).

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Warga aksara

Osthya Dantya Murdhanya Talawya Kanthya
Labiaal.JPG
Dental.png
Retroflex.png
Palataal.JPG
Velaar.JPG
Dalam aksara Bali, terdapat suatu sistem pengelompokkan huruf menurut dasar pengucapannya yang disebut warga aksara. Dalam bahasa Bali, warga berarti "jenis"/"kelompok" dan aksara berarti "huruf"/"lambang penulisan", bukan sistem tulisan. Dalam aturan menulis aksara Bali, ada 5 warga aksara yang utama, yaitu:[1]
  • Kanthya. Warga kanthya adalah kelompok fonem yang berasal dari langit-langit dekat kerongkongan. Beberapa di antaranya termasuk konsonan celah suara. Yang termasuk warga kanthya adalah konsonan langit-langit belakang/guttural dan celah suara (glotal). Huruf konsonan yang termasuk warga kanthya terdiri dari: Ka (k), Ga (g), Ga gora (gh), Nga (ng). Sedangkan huruf vokal yang termasuk warga kanthya adalah A.
  • Talawya. Warga talawya adalah kelompok fonem yang berasal dari langit-langit mulut. Yang termasuk warga talawya adalah konsonan langit-langit/palatal. Huruf konsonan yang termasuk warga talawya terdiri dari: Ca (c), Ca laca (ch), Ja (j), Ja jera (jh), Nya (ny), Sa saga (sy). Sedangkan huruf vokal yang termasuk warga talawya adalah I.
  • Osthya. Warga osthya adalah kelompok fonem yang berasal dari pertemuan bibir atas dan bawah. Yang termasuk warga oshtya adalah konsonan dwibibir/labial. Huruf konsonan yang termasuk warga talawya terdiri dari: Pa (p), Pa kapal (ph), Ba (b), Ba kembang (bh), Ma (m), Wa (w). Sedangkan huruf vokal yang termasuk warga talawya adalah U.

[sunting] Aksara suara (vokal)

Aksara suara disebut pula huruf vokal/huruf hidup dalam aksara Bali. Fungsi aksara suara sama seperti fungsi huruf vokal dalam huruf Latin. Jika suatu aksara wianjana (konsonan) diberi salah satu pangangge (tanda diakritik) aksara suara, maka cara baca aksara wianjana tersebut juga berubah, sesuai dengan fungsi pangangge yang melekati aksara wianjana tersebut. Berikut ini adalah aksara suara dalam aksara Bali:
Warga aksara Aksara suara hresua
(huruf vokal pendek)
Nama Aksara suara dirgha
(huruf vokal panjang)
Aksara Bali Huruf Latin Alfabet Fonetis Internasional Aksara Bali Huruf Latin Alfabet Fonetis Internasional
Kantya
(tenggorokan)
Bali A-Kara.png
A [a] A kara
Bali A-Kara Dirgha.png
Ā [ɑː]
Talawya
(langit-langit lembut)
Bali I-Kara.png
I [i] I kara
Bali I-Kara Dirgha.png
Ī [iː]
Murdhanya
(langit-langit keras)
Bali Rarepa.png
[ɹ̩] Ra repa
Bali Rarepa matedung.png
[ɹ̩ː]
Dantya
(gigi)
Bali 2, Lalenga.png
[l̩] La lenga
Bali Lalenga dirgha.png
[l̩ː]
Osthya
(bibir)
Bali U-Kara.png
U [u] U kara
Bali U-Kara Dirgha.png
Ū [uː]
Kanthya-talawya
(tenggorokan & langit-langit lembut)
Bali 6, E.png
E [e]; [ɛ] E kara (E)
Airsanya (Ai)
Bali Jha, Ai.png
E; Ai [e]; [aːi]
Kanthya-osthya
(tenggorokan & bibir)
Bali 3, O.png
O [o]; [ɔ] O kara
Bali O-Kara Dirgha.png
O; Au [o]; [aːu]

[sunting] Aksara wianjana (konsonan)

Aksara wianjana disebut pula konsonan atau huruf mati dalam aksara Bali. Meskipun penulisannya tanpa huruf vokal, setiap aksara dibaca seolah-olah dibubuhi huruf vokal /a/ atau /ə/[3] karena merupakan suatu abugida.
Aksara ardhasuara adalah semivokal. Kata ardhasuara (dari bahasa Sanskerta) secara harfiah berarti "setengah suara" atau semivokal. Dengan kata lain, aksara ardhasuara tidak sepenuhnya huruf konsonan, tidak pula huruf vokal. Yang termasuk kelompok aksara ardhasuara adalah Ya, Ra, La, Wa. Gantungan-nya termasuk pangangge aksara (kecuali gantungan La), yaitu nania (gantungan Ya); suku kembung (gantungan Wa); dan guwung atau cakra (gantungan Ra).

Warga aksara Pancawalimukha Ardhasuara
(semivokal)
Usma(sibilan) Wisarga
(frikatif)
Tajam
(bersuara)
Lembut
(nirsuara)
Anunasika
(sengau)
Alpaprana Mahaprana Alpaprana Mahaprana
Kanthya
(tenggorokan)
Bali Ka.png
(Ka)
Ka
Bali Kha.png
(Kha)
Ka mahaprana
Bali Ga.png
(Ga)
Ga
Bali Gha.png
(Gha)
Ga gora
Bali Nga.png
(Nga)
Nga

Bali Ha.png
(Ha)
Ha
Talawya
(langit-langit lembut)
Bali Ca.png
(Ca)
Ca
Bali Calaca.png
(Cha)
Ca laca
Bali Ja.png
(Ja)
Ja
Bali Jha, Ai.png
(Jha)
Ja jera
Bali Nya.png
(Nya)
Nya
Bali Ya.png
(Ya)
Ya
Bali Sha.png
(Śa)
Sa saga

Murdhanya
(langit-langit keras)
Bali Tta.png
(Ṭa)
Ta latik
Bali Ttaa.png
(Ṭha)
Ta latik[4]
Bali Dda.png
(Ḍa)
Da madu m.[5]
Bali Ddaa.png
(Ḍha)
Da madu m.[6]
Bali Nna.png
(Ṇa)
Na rambat
Bali Ra.png
(Ra)
Ra
Bali Ssa.png
(Ṣa)
Sa sapa
Dantya
(gigi)
Bali Ta.png
(Ta)
Ta
Bali Tha.png
(Tha)
Ta tawa
Bali Da.png
(Da)
Da
Bali Dha.png
(Dha)
Da madu
Bali Na.png
(Na)
Na
Bali La.png
(La)
La
Bali Sa.png
(Sa)
Sa danti
Osthya
(bibir)
Bali Ba.png
(Ba)
Ba
Bali Bha.png
(Bha)
Ba kembang
Bali Pa.png
(Pa)
Pa
Bali 8, Pha.png
(Pha)
Pa kapal
Bali Ma.png
(Ma)
Ma
Bali Wa.png
(Wa)
Wa

[sunting] Pangangge

Pangangge (lafal: /pəŋaŋge/) atau dalam bahasa Jawa disebut sandhangan, adalah lambang yang tidak dapat berdiri sendiri, ditulis dengan melekati suatu aksara wianjana maupun aksara suara dan memengaruhi cara membaca dan menulis aksara Bali. Ada berbagai jenis pangangge, antara lain pangangge suara, pangangge tengenan (lafal: /t̪əŋənan/), dan pangangge aksara.

[sunting] Pangangge suara

Bila suatu aksara wianjana (konsonan) dibubuhi pangangge aksara suara (vokal), maka cara baca aksara tersebut akan berubah. Contoh: huruf Na dibubuhi ulu dibaca Ni; Ka dibubuhi suku dibaca Ku; Ca dibubuhi taling dibaca Cé. Untuk huruf Ha ada pengecualian. Kadangkala bunyi /h/ diucapkan, kadangkala tidak. Hal itu tergantung pada kata dan kalimat yang ditulis.
Warga aksara Aksara Bali Huruf Latin Alfabet Fonetis Internasional Letak penulisan Nama
Kanthya
(tenggorokan)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali Pepet.png
e; ě [ə] di atas huruf pepet
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Tedong.png
ā [aː] di belakang huruf tedung
Talawya
(langit-langit lembut)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali Ulu.png
i [i] di atas huruf ulu
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Ulu-Sari.png
ī [iː] di atas huruf ulu sari
Murdhanya
(langit-langit keras)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali G. Rarepa.png
re; ṛ [rə] di bawah huruf guwung macelek
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Guwung Macelek matedung.png
[rəː] kombinasi di belakang dan bawah huruf guwung macelek matedung
Dantya
(gigi)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali G. La mapepet.png
le; ḷ [lə] kombinasi di atas dan bawah huruf gantungan La mapepet
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali G. La mapepet matedung.png
[ləː] kombinasi di atas, bawah, dan belakang huruf gantungan La mapepet lan matedung
Osthya
(bibir)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali Suku.png
u [u] di bawah huruf suku
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Suku-Ilut.png
ū [uː] di bawah huruf suku ilut
Kanthya-talawya
(tenggorokan & langit-langit lembut)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali Taleng.png
e; é [e]; [ɛ] di depan huruf taling
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Taleng-Detya.png
e; ai [e]; [aːi] di depan huruf taling detya
Kanthya-osthya
(tenggorokan & bibir)
Suara hresua
(vokal pendek)
Bali Taleng-Tedong.png
o [o]; [ɔ] mengapit huruf taling tedung
Suara dirgha
(vokal panjang)
Bali Taleng-Detya-Tedong.png
o; au [o]; [aːu] mengapit huruf taling detya matedung

[sunting] Pangangge tengenan

Pangangge tengenan (kecuali adeg-adeg) merupakan aksara wianjana yang bunyi vokal /a/-nya tidak ada. Pangangge tengenan terdiri dari: bisah, cecek, surang, dan adeg-adeg. Jika dibandingkan dengan aksara Dewanagari, tanda bisah berfungsi sama seperti tanda wisarga; tanda cecek berfungsi seperti tanda anusuara; tanda adeg-adeg berfungsi seperti tanda wirama.
Simbol Alfabet Fonetis
Internasional
Letak penulisan Nama
Bali Bisah.png
[h] di belakang huruf bisah
Bali Surang.png
[r] di atas huruf surang
Bali Cecek.png
[ŋ] di atas huruf cecek
Bali Adeg-Adeg.png
- di belakang huruf adeg-adeg

[sunting] Pangangge aksara

Pangangge aksara letaknya di bawah aksara wianjana. Pangangge aksara (kecuali La) merupakan gantungan aksara ardhasuara. Pangangge aksara terdiri dari:
Simbol Alfabet Fonetis
Internasional
Nama
Bali G. Ra, Cakra.png
[r] guwung/cakra
Bali G. Wa, Suku-Kembung.png
[w] suku kembung
Bali G. Ya, Nania.png
[j] nania

[sunting] Gantungan

Karena adeg-adeg tidak boleh dipasang di tengah dan kalimat, maka agar aksara wianjana bisa "mati" (tanpa vokal) di tengah kalimat dipakailah gantungan. Gantungan membuat aksara wianjana yang dilekatinya tidak bisa lagi diucapkan dengan huruf "a", misalnya aksara Na dibaca /n/; huruf Ka dibaca /k/, dan sebagainya. Dengan demikian, tidak ada vokal /a/ pada aksara wianjana seperti semestinya. Setiap aksara wianjana memiliki gantungan tersendiri. Untuk "mematikan" suatu aksara dengan menggunakan gantungan, aksara yang hendak dimatikan harus dilekatkan dengan gantungan. Misalnya jika menulis kata "Nda", huruf Na harus dimatikan. Maka, huruf Na dilekatkan dengan gantungan Da. Karena huruf Na dilekati oleh gantungan Da, maka Na diucapkan /n/.
Gantungan dan pangangge diperbolehkan melekat pada satu huruf yang sama, namun bila dua gantungan melekat di bawah huruf yang sama, tidak diperbolehkan. Kondisi dimana ada dua gantungan yang melekat di bawah suatu huruf yang sama disebut tumpuk telu (tiga tumpukan). Untuk menghindari hal tersebut maka penggunaan adeg-adeg di tengah kata diperbolehkan.[7]

[sunting] Pasang pageh

Dalam lontar, kakawin dan kitab-kitab dari zaman Jawa-Bali Kuno banyak ditemukan berbagai aksara wianjana khusus, beserta gantungannya yang istimewa. Penulisan aksara seperti itu disebut pasang pageh, karena cara penulisannya memang demikian, tidak dapat diubah lagi.[8] Aksara-aksara tersebut juga memiliki nama, misalnya Na rambat, Ta latik, Ga gora, Ba kembang, dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena setiap aksara harus diucapkan dengan intonasi yang benar, sesuai dengan nama aksara tersebut. Namun kini ucapan-ucapan untuk setiap aksara tidak seperti dulu.[9] Aksara mahaprana (hembusan besar) diucapkan sama seperti aksara alpaprana (hembusan kecil). Aksara dirgha (suara panjang) diucapkan sama seperti aksara hrasua (suara pendek). Aksara usma (desis) diucapkan biasa saja. Meskipun cara pengucapan sudah tidak dihiraukan lagi dalam membaca, namun dalam penulisan, pasang pageh harus tetap diperhatikan.
Pasang pageh berguna untuk membedakan suatu homonim. Misalnya:
Aksara Bali Aksara Latin
(IAST)
Arti
Asta Bali.png
asta adalah
Astha Bali.png
astha tulang
Ashtha Bali.png
aṣṭa delapan
Pada Bali.png
pada tanah, bumi
Paada Bali.png
pāda kaki
Padha Bali.png
padha sama-sama

[sunting] Aksara maduita

Aksara maduita khusus digunakan pada bahasa serapan. Umumnya orang Bali menyerap kata-kata dari bahasa Sanskerta dan Kawi untuk menambah kosakata. Contoh penggunaan aksara maduita:
Aksara Bali Aksara Latin
(IAST)
Arti
Buddha Bali.png
Buddha Yang telah sadar
Yuddha Bali.png
Yuddha perang
Bhinna Bali.png
Bhinna beda
Dengan melihat contoh di atas, ternyata ada huruf konsonan yang ditulis dua kali. Hal tersebut merupakan ciri-ciri aksara maduita.

[sunting] Angka

Aksara Bali Aksara Latin Nama (dalam bhs. Bali)
Aksara Bali Aksara Latin Nama (dalam bhs. Bali)
Bali 0.png
0 Bindu/Windu
Bali 5.png
5 Lima
Bali 1.png
1 Siki/Besik
Bali 6, E.png
6 Nem
Bali 2, Lalenga.png
2 Kalih/Dua
Bali 7.png
7 Pitu
Bali 3, O.png
3 Tiga/Telu
Bali 8, Pha.png
8 Kutus
Bali 4.png
4 Papat
Bali 9.png
9 Sanga/Sia
Menulis angka dengan menggunakan angka Bali sangat sederhana, sama seperti sistem dalam aksara Jawa dan Arab. Bila hendak menulis angka 10, cukup dengan menulis angka 1 dan 0 menurut angka Bali. Demikian pula jika menulis angka 25, cukup menulis angka 2 dan 5. Bila angka ditulis di tengah kalimat, untuk membedakan angka dengan huruf maka diwajibkan untuk menggunakan tanda carik, di awal dan di akhir angka yang ditulis.
Di bawah ini contoh penulisan tanggal dengan menggunakan angka Bali (tanggal: 1 Juli 1982; lokasi: Bali):

Aksara Bali Transliterasi dengan Huruf Latin
Bali, 1 Juli 1982.
Bali, 1 Juli 1982.

Pada contoh penulisan di atas, angka diapit oleh tanda carik untuk membedakannya dengan huruf.

[sunting] Tanda baca dan aksara khusus

Ada beberapa aksara khusus dalam aksara Bali. Beberapa di antaranya merupakan tanda baca, dan yang lainnya merupakan simbol istimewa karena dianggap keramat. Beberapa di antaranya diuraikan sebagai berikut:
Simbol Nama Keterangan
Bali Carik1.png
Carik atau Carik Siki. Ditulis pada akhir kata di tengah kalimat. Fungsinya sama dengan koma dalam huruf Latin. Dipakai juga untuk mengapit aksara anceng.
Bali Carik2.png
Carik Kalih atau Carik Pareren. Ditulis pada akhir kalimat. Fungsinya sama dengan titik dalam huruf Latin.
Bali Pamungkah.png
Carik pamungkah. Dipakai pada akhir kata. Fungsinya sama dengan tanda titik dua pada huruf Latin.
Center Pasalinan. Dipakai pada akhir penulisan karangan, surat dan sebagainya. Pada geguritan bermakna sebagai tanda pergantian tembang.
Bali Panti.png
Panten atau Panti. Dipakai pada permulaan suatu karangan, surat dan sebagainya.
Bali Pamada.png
Pamada. Dipakai pada awal penulisan. Tujuannya sama dengan pengucapan awighnamastu, yaitu berharap supaya apa yang dikerjakan dapat berhasil tanpa rintangan.
Bali Omkara.png
Ongkara. Simbol suci umat Hindu. Simbol ini dibaca "Ong" atau "Om".

[sunting] Font Aksara Bali

Font Aksara Bali untuk komputer pertama kali dibuat adalah Bali Simbar. Font ini dibuat oleh I Made Suatjana dengan memanfaatkan alokasi dari kodifikasi ASCII untuk dikamuflasekan ke dalam bentuk karakter Aksara Bali. [10]. Namun, font ini memiliki kelemahan yaitu hanya terbatas dalam keperluan pengetikan menggunakan templat untuk Microsoft Word.
Sejak tahun 2006, Aksara Bali telah masuk ke dalam standar Unicode dan memiliki kodifikasi U+1B00–U+1B7F. Dengan adanya standar Unicode ini, karakter-karakter Aksara Bali bisa digunakan untuk berbagai keperluan yang lebih luas seperti penulisan halaman internet, surat elektronik, blog, dsb. Namun karena implementasi yang sangat rumit, penggunaan Unicode dari Aksara Bali masih terbatas dalam sistem operasi Linux dan keluarganya saja. Sistem operasi BlankOn Linux merupakan distribusi Linux pertama yang menyediakan font dan sistem input untuk Aksara Bali semenjak versi 6.0 (Ombilin). [11]

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Surada, hal. 6-7.
  2. ^ Susungguhnya Sa termasuk konsonan alveolar, namun secara tradisional dimasukkan ke dalam konsonan dental.
  3. ^ Dibaca /ə/ bila tertulis di akhir kata/pada suku kata terakhir.
  4. ^ Disamakan saja atau diberi tedung.
  5. ^ disebut Da madu murdania.
  6. ^ Jarang ditemukan dalam aksara Bali. Disamakan saja dengan Da madu murdania, hanya diberi tedung.
  7. ^ Tinggen, hal. 27.
  8. ^ Simpen, hal. 44.
  9. ^ Tinggen, hal. 7
  10. ^ Situs resmi font Bali Simbar, diakses tanggal 5 Maret 2011
  11. ^ Catatan rilis BlankOn 6.0, diakses tanggal 5 Maret 2011

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Adeg-adeg

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Adeg-adeg.
Adeg-adeg adalah tanda yang dipakai untuk mematikan bunyi vokal /a/ atau /ə/ pada suatu aksara wianjana (huruf konsonan) dalam sistem penulisan dengan menggunakan aksara Bali. Hal ini disebabkan karena semua huruf konsonan dalam aksara Bali diikuti dengan bunyi /a/ atau /ə/. Tanda adeg-adeg hanya boleh ditulis pada akhir kalimat, atau tepat sebelum tanda carik. Sebagai pengecualian, tanda adeg-adeg boleh ditulis di tengah kata/kalimat untuk menghindari gantungan aksara yang bertumpuk tiga.[1] Fungsi adeg-adeg sama seperti fungsi tanda wirama dalam aksara Dewanagari.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Penggunaan

Dalam aksara Bali, huruf konsonan tidak ditulis seperti dalam huruf Latin atau Yunani, tetapi seperti dalam aksara Dewanagari. Selama huruf konsonan tersebut tidak dibubuhi oleh tanda vokal, maka huruf tersebut dibaca dengan bunyi /ə/ atau /a/. Untuk membuat suatu kata, cukup dengan merangkai huruf yang ada.
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin
ma - na - ka
ba - pa - ka
Untuk menghilangkan bunyi vokal /a/ pada huruf terakhir pada dua kata di atas, maka digunakanlah tanda adeg-adeg pada akhir kata, sebab vokal /a/ yang akan dihilangkan terletak di akhir kata.
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin
ma - na - k
ba - pa - k
Adeg-adeg tidak boleh dipakai di tengah kata/tengah kalimat, karena masih ada aksara swara maupun wianjana yang mengikutinya.[1] Aksara yang boleh dilekati tanda adeg-adeg harus terletak di akhir kata/akhir kalimat/sebelum tanda carik. Sebagai pengganti adeg-adeg, maka digunakanlah gantungan aksara. Fungsi gantungan sama seperti adeg-adeg, yaitu mematikan bunyi vokal /a/ pada aksara yang dilekatinya. Setiap huruf memiliki gantungannya sendiri, sebagian lagi tidak memilikinya.

[sunting] Aturan khusus

[sunting] Panggangge tengenan

Adeg-adeg tidak berhak ditulis melekat pada aksara yang sudah memiliki Pangangge tengenan sendiri. Maksudnya, huruf tersebut tidak perlu diberi adeg-adeg, sebab sudah ada yang mewakilinya (mewakili bunyinya).[2] Aksara yang mewakili itu disebut Pangangge tengenan. Yang termasuk Pangangge tengenan yaitu:

Cecek
Cecek merupakan huruf Nga yang sudah dimatikan bunyi vokal /a/-nya. Lambang cecek mewakili bunyi /ŋ/ ("ng").

Bisah
Bisah merupakan huruf Ha yang sudah dimatikan bunyi vokal /a/-nya. Lambang bisah mewakili bunyi /h/.

Surang
Surang merupakan huruf Ra yang sudah dimatikan bunyi vokal /a/-nya. Lambang surang mewakili bunyi /r/.
Maka dari itu, huruf Nga tidak perlu dilekati oleh adeg-adeg supaya dibaca /ŋ/, sebab tanda cecek sudah mewakili huruf Ng. Demikian pula huruf Ha dan Ra, keduanya tidak perlu dilekati oleh adeg-adeg supaya dibaca /h/ dan /r/, sebab sudah diwakili oleh tanda bisah (untuk /h/) dan surang (untuk /r/). Namun, cecek dan bisah hanya boleh dipakai di akhir kata, sama seperti adeg-adeg. Selain itu, ada aturan khusus mengenai penggunaan cecek. Misalnya, cecek boleh dipakai di tengah kata dengan syarat untuk menghindari tumpukan gantungan (tumpuk telu).[2]

[sunting] Pemakaian di tengah kata

Biasanya, pemakaian adeg-adeg di tengah kata digantikan oleh gantungan aksara. Gantungan dan pangangge diperbolehkan melekat pada satu huruf yang sama, namun bila dua gantungan melekat di bawah huruf yang sama, tidak diperbolehkan. Kondisi dimana ada dua gantungan yang melekat di bawah suatu huruf yang sama disebut tumpuk tiga (tumpuk telu). Untuk menghindari hal tersebut maka penggunaan adeg-adeg di tengah kata diperbolehkan.[1]
Misalnya pada kata "Tamblingan", dipakai adeg-adeg untuk mematikan huruf Ma. Bila tidak menggunakan adeg-adeg, maka gantungan La akan melekat di gantungan Ba, dan gantungan Ba akan melekat di bawah huruf Ma. Bila adeg-adeg ditulis di tengah kata, maka ditulis sebagai berikut:
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin
Ta - m - b - li - nga - n

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ a b c Tinggen, hal. 27.
  2. ^ a b Tinggen, hal. 31.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Cakra (guwung)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Cakra (guwung)
Aksara Jawa Aksara Bali

Letak penulisan: Di bawah aksara yang dilekatinya.
Cakra atau Guwung (lafal: /gʊwoŋ/) adalah sebuah pangangge (lambang yang melekati suatu huruf) dalam aksara Jawa dan Bali, yang melambangkan bunyi /r/. Guwung atau Cakra juga merupakan pasangan/gantungan aksara Ra. Guwung atau Cakra termasuk kelompok aksara ardhasuara, atau semi vokal. Guwung atau Cakra ditulis dibawah aksara yang dilekatinya, sama seperti gantungan aksara.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Penggunaan

Guwung digunakan pada kata yang berpola KKV (konsonan + konsonan + vokal) atau KKKV (konsonan + konsonan + konsonan + vokal). Contoh kata yang berpola KKV adalah: "dra", "pri", "tra", dan sebagainya. Contoh kata yang berpola KKKV adalah: "stra", "ntra", "ndra", dan sebagainya. Bila kata-kata tersebut disalin dari huruf Latin menjadi aksara Bali, maka huruf Latin R diganti dengan Guwung.
Suku kata berpola KKV
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin
tra
t - ra
pri
p - ri

[sunting] Guung macelek

Guwung macelek.
Dalam aksara Bali, guwung atau cakra tidak boleh ditulis berdampingan dengan pepet. Contohnya pada kata "Krêsna" dan "Trêsna" (ê dibaca seperti huruf e pada kata "kemana", "kenapa"). Agar guwung dan pepet tidak ditulis berdampingan, maka digunakanlah guung macelek (lafal: /gʊ-woːŋ/ /mə-cə-lək/). Guung macelek itu sendiri juga merupakan gantungan aksara Ra repa.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.

Carik (aksara Bali)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Carik
Carik siki Carik kalih Carik pamungkah
Carik adalah salah satu tanda baca dalam sistem penulisan aksara Bali. Secara harfiah, kata carik (bahasa Bali) berarti "selesai" (bahasa Indonesia).[1] Carik siki memiliki fungsi sama seperti tanda koma dalam huruf Latin. Bila carik siki ditulis dua kali dan jaraknya berdekatan, maka namanya berubah menjadi "carik kalih".
Carik kalih atau Carik pareren (lafal: /pərɛrɛn/; secara harfiah berarti "penghenti") adalah salah satu tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan aksara Bali, yang fungsinya sama seperti tanda titik dalam sistem penulisan huruf Latin. Carik pareren digunakan saat mengakhiri kalimat, di akhir judul suatu karangan, dan pada kidung/kakawin.
Carik pamungkah berfungsi seperti tanda titik dua dalam huruf Latin. Biasanya dipakai untuk mengawali dialog.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Penggunaan

Tanda pasalinan.
Carik siki digunakan untuk mengakhiri kalimat sejenak, sama seperti fungsi tanda koma dalam huruf Latin.[2] Selain itu, carik siki juga digunakan dalam kakawin, dan kedudukannya sama seperti saat menulis kalimat. Apabila ada angka yang ditulis di tengah kalimat, maka carik siki digunakan untuk membedakan mana yang angka, mana yang huruf, agar tidak terjadi kekeliruan dalam membaca. Sebab, beberapa angka Bali bentuknya mirip dengan aksara Bali. Saat menulis angka di tengah kalimat, maka angka tersebut dimulai dengan carik siki, dan diakhiri pula dengan carik siki. Selain itu, carik siki digunakan saat membuat singkatan dengan menggunakan aksara Bali.
Carik pareren atau Carik kalih biasanya digunakan di akhir sebuah kalimat. Carik pareren menandakan bahwa kalimat itu sudah diakhiri, sama seperti fungsi tanda titik pada huruf Latin. Selain itu, apabila ada dua carik kalih yang mengapit angka nol, maka terbentuklah tanda pasalinan, yang biasanya dipakai untuk mengakhiri surat atau karangan. Pada geguritan, tanda pasalinan tersebut dipakai sebagai pergantian tembang.

[sunting] Contoh penggunaan

Aksara Bali Alihaksara
Bali, 1 Juli 1982.
Bali, 1 Juli 1982.
Keterangan: Penulisan tanggal menggabungkan huruf dan angka. Huruf dipakai untuk menulis nama bulan, angka dipakai sebagai penunjuk tanggal dan tahun. Dalam sistem penulisan aksara Bali, penulisan angka di tengah kalimat (dan juga dalam penulisan tangal) harus diapit dengan tanda carik. Pada contoh di atas, angka 1 yang menunjukkan tanggal, diapit oleh tanda carik siki, demikian pula angka 1982 yang menunjukkan tahun. Karena angka 1982 terletak di akhir kalimat, maka ia tidak diakhiri dengan tanda carik, melainkan tanda carik kalih.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Simpen, hal. 45.
  2. ^ Tinggen, hal. 25.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen A.B., I Wayan. 1985. Kamus Bahasa Bali. Denpasar: PT. Mabhakti.


Cecek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Cecek.
Cecek (lafal: /tʃəˈtʃəʔ/) adalah salah satu pangangge tengenan (lambang yang melekati suatu huruf) dalam aksara Bali yang melambangkan bunyi /ŋ/ (ng). Cecek bisa ditulis di akhir kata dan di tengah kata, tergantung aturannya. Cecek merupakan pengganti huruf Nga yang dilekati oleh adeg-adeg.[1]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Fungsi

Fungsi cecek sama seperti tanda anuswara dalam huruf Dewanagari.[2] Cecek memberi efek agar suatu aksara wianjana (huruf konsonan) mendapat bunyi sengau dari pengucapan /ŋ/ (ng). Contohnya, kata "pasa" bila dilekati oleh cecek maka menjadi "pasang"; kata "sara" bila dilekati oleh cecek maka menjadi "sarang"; kata "lara" bila dilekati oleh cecek maka menjadi "larang"; dll. Aturan ini dianjurkan agar tidak perlu memberi adeg-adeg pada aksara "Nga".

[sunting] Aturan penggunaan

Seperti pangangge tengenan lainnya, cecek tidak boleh ditulis sembarangan, harus mengikuti aturan menulis yang sudah ditetapkan.

[sunting] Di akhir kata

Selain untuk menghindari gantungan bertumpuk, pemakaian cecek di tengah kata tidak diperbolehkan. Kata-kata seperti: "nangka", "jangka", "langka", "semangka", tidak diperbolehkan memakai cecek, sebab huruf Ng terletak di tengah kata. Kata-kata seperti: "bangkuang" dan "bangkiang" (bahasa Bali), diperbolehkan memakai cecek hanya untuk huruf Ng yang terletak di akhir kata. Cecek patut ditulis di akhir kata, apabila kata tersebut diakhiri dengan bunyi /ŋ/ (ng). Contoh kata: "pasang", "pisang", "lubang", "senang", dll. Tidak dianjurkan memakai adeg-adeg untuk melekati huruf Nga di akhir kata agar berbunyi /ŋ/.
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin Keterangan
Pa – sa – ng Penulisan kata "pasang" yang benar dengan menggunakan aksara Bali. Jika dieja, kata tersebut dibentuk dari huruf Pa, Sa, dan tanda cecek (bunyi Ng). Suku kata terakhir dibubuhi tanda cecek agar dibaca "ng".
Pa – sa – ng Penulisan kata "pasang" yang salah dalam aksara Bali. Huruf Nga tidak perlu dibubuhi tanda adeg-adeg agar dibaca Ng. Dianjurkan memakai tanda cecek.

[sunting] Bunyi suku kata yang sama

Cecek patut ditulis apabila suatu kata terdiri dari beberapa suku kata yang bunyi vokalnya sama dan mengandung bunyi /ŋ/ pada setiap suku katanya. Contoh kata (dalam bahasa Bali): "pongpong", "mongpong", "sungsung", "Klungkung", dan sebagainya.

[sunting] Menghindari gantungan bertumpuk tiga

Cecek patut ditulis apabila suatu kata mengandung pola KKKV (konsonan-konsonan-konsonan-vokal), dimana huruf konsonan yang pertama dari pola tersebut berbunyi /ŋ/. Contohnya (dalam bahasa Bali): "ngkla", "ngkli". Contoh (dalam bahasa Bali) kata: "cangkling", "jungklang", "jungkling", dan sebagainya. Huruf Ng pada kata tersebut (yang sudah digarisbawahi) harus ditulis dengan cecek jika disalin menjadi tulisan Bali, meskipun tidak terletak di akhir kata.

[sunting] Contoh penggunaan


[sunting] Lihat pula

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Tinggen, hal. 31.
  2. ^ Surada, hal. 3

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.

Layar (surang)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Layar (surang)
Aksara Jawa Aksara Bali

Letak penulisan: Di atas aksara yang dilekatinya.
Layar adalah salah satu sandhangan (tanda diakritik) dalam aksara Jawa. Dalam aksara Bali, Layar disebut Surang, dan tergolong ke dalam pangangge tengenan (sama seperti sandhangan dalam aksara Jawa). Layar atau surang identik dengan cakra atau guwung, karena melambangkan fonem /r/. Perbedaannya terletak pada letak penulisan dan pola suku kata yang dilekatinya.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Penggunaan dan aturan

Layar atau surang digunakan pada suku kata yang berpola KVK (konsonan-vokal-konsonan) maupun KKVK (konsonan-konsonan-vokal-konsonan), dimana konsonan terakhir adalah fonem /r/. Contoh suku kata yang dimaksud adalah: sar, tar, swar, plar, dll.
Dalam aksara Bali, fonem /r/ (Ra, Ra repa, guwung, surang) dan nasal /ɳ/ (Na rambat) sama-sama merupakan warga murdhania (konsonan retrofleks (tarik-belakang), meskipun menurut fonologi sesungguhnya Ra merupakan konsonan alveolar) dalam aksara Bali. Maka dari itu, dalam peraturan aksara Bali, apabila fonem /r/ diikuti dengan nasal /n/, secara otomatis fonem /n/ tersebut menjadi /ɳ/.[1] Secara sederhana, apabila dalam suatu kata terkandung surang (/r/), dan diikuti oleh aksara Na kojong (/n/), maka Na kojong tersebut berubah menjadi Na rambat (/ɳ/). Contoh kata yang dimaksud adalah: warna, karna, parna, dsb. Bila disalin ke dalam aksara Bali, huruf n pada kata-kata tersebut ditulis dengan Na rambat.
Layar atau surang dapat ditulis berdampingan dengan pepet atau ulu. Dalam penulisannya, pangangge suara (pepet dan ulu) didahulukan, lalu diikuti dengan surang.
Contoh penggunaan surang saat suatu huruf sudah dilekati oleh tanda pepet dan ulu.

[sunting] Surang dalam aksara Bali

Dalam peraturan penulisan aksara Bali, bentuk duita terjadi karena perubahan bentuk dari akar kata menjadi kata.[2] Contoh:
  • budh menjadi buddha
  • cit menjadi citta
Dalam peraturan penulisan aksara Bali pada zaman dahulu terdapat aturan yang berbunyi sebagai berikut:
Saluiring kruna lingga, yening aksarane ring arep masurang, ring pungkur wenang maduita.[2]
Terjemahan
Dalam kata dasar, bila suku kata di depan diberi tanda surang, suku kata yang mengikutinya wajib ditulis seperti bentuk duita.
Karena adanya aturan tersebut, maka kata-kata (khususnya dari bahasa Sanskerta) yang mengandung surang ditulis seperti bentuk maduita, meskipun penulisannya dalam aksara lain yang masih satu leluhur dengan aksara Bali (umpama Dewanagari) tidak demikian karena sudah tidak dipakai lagi.[3] Contoh:
Aksara
Dewanagari
Transliterasi
aksara Dewanagari
(IAST)
Aksara Bali
(dulu)
Transliterasi
aksara Bali (IAST)
कर्ण Karṇa Karṇna
सूर्य Sūrya Sūryya
Namun, aturan tersebut dihapus dalam Pasamuhan Agung Bahasa Bali tahun 1963, karena kurang dapat dipertanggungjawabkan dan penulisannya tidak sesuai dengan artikulasi bunyi.[4] Selain itu, dalam bahasa Sanskerta, kata-kata yang mengandung fonem /r/ di antara dua suku kata belum tentu ditulis dalam bentuk duita. Maka dari itu, kini ditemui perubahan sebagai berikut:
Aksara
Dewanagari
Transliterasi
aksara Dewanagari
(IAST)
Aksara Bali
(kini)
Transliterasi
aksara Bali (IAST)
कर्ण Karṇa Karṇa
सूर्य Sūrya Sūrya

[sunting] Lihat pula

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Simpen, hal. 27.
  2. ^ a b Tinggen, hal. 18.
  3. ^ Tinggen, hal. 42.
  4. ^ Tinggen, hal. 43.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Nania

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Nania
Nania adalah salah satu pangangge (bahasa Jawa: sandhangan) dalam aksara Bali. Nania juga merupakan gantungan aksara Ya. Dalam aksara Bali, gantungan aksara ardhasuara (semivokal) merupakan pangangge aksara. Karena Ya termasuk ke dalam aksara ardhasuara, maka nania termasuk pangangge aksara.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Penggunaan

Nania digunakan pada suku kata berpola KKV (konsonan-konsonan-vokal), dimana bunyi /j/ merupakan konsonan[1] yang didahului oleh konsonan. Contoh suku kata: "tya" (lafal: /t̪ja/; konsonan /t̪/ dan /j/, vokal /a/); "nya" (lafal: /nja/; konsonan /n/ dan /j/, vokal /a/).
Pada kalimat, nania digunakan pada kata yang mengandung bunyi /j/ namun didahului oleh konsonan. Contoh kalimat: “ambil yoyo.” Pada kalimat tersebut, huruf Y ditulis setelah huruf L, atau /j/ didahului konsonan /l/. Baik huruf Y maupun L ditulis pada kata yang berbeda, namun kalimat sama. Jika kalimat tersebut disalin menjadi aksara Bali, maka huruf Y disalin menjadi nania, dan ditulis di bawah huruf La.
Dalam bahasa Bali, nania digunakan pada kata-kata yang mengandung bunyi /ja/ yang diucapkan dengan cepat. Contoh: tabia (/t̪abjə/), abian (/abjan/), bangkiang (/baŋkjaŋ/), dsb.
Berbeda dengan aturan menulis huruf Latin di Indonesia, dimana huruf N dan Y membentuk fonem nasal palatal (/ɲ/), dalam aksara Bali, fonem tersebut dilambangkan dengan sebuah huruf saja. Nania tidak digunakan apabila mengalihaksarakan "nya" sebagai bunyi nasal palatal (/ɲa/), namun digunakan bila "nya" dianggap sebagai bunyi konsonan rangkap (/nˈja/). Dalam IAST, dipakai huruf Ñ agar tidak rancu dengan Ny sebagai dua huruf satu fonem.

[sunting] Variasi bentuk

Nania dapat ditulis dengan berbagai cara yang berbeda sesuai dengan aksara yang dilekatinya. Selain itu, nania dapat ditulis serangkai dengan guwung.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Dalam peraturan aksara Bali, huruf Ya dianggap sebagai konsonan semivokal.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Pamada

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pamada
Pamada.
Keterangan
 · Merah: Ma
 · Biru: Nga
 · Ungu: Ja
 · Hijau: Pa
Pamada adalah salah satu tanda baca dalam aksara Bali. Tanda ini biasanya terletak di awal kakawin, judul karangan, dsb. Tanda ini merupakan gabungan dari 4 simbol dalam aksara Bali. Tanda ini dipakai sebagai permohonan agar suatu pekerjaan dapat berjalan lancar.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Bentuk

Bentuk
utuh
Komponen
Ma Nga Ja Pa
Pamada merupakan gabungan dari 4 karakter tertentu dalam aksara Bali. Empat tanda tersebut, yaitu:
  • gantungan Ma ()
  • aksara Nga ()
  • gantungan Ja ()
  • gempelan Pa ()
Empat tanda tersebut dipilih karena bila digabung, maka akan terbentuk kata "mangajapa". Kata tersebut berarti "mohon anugrah supaya selamat sentosa". Bila dua tanda pamada mengapit tanda windu (nol) dalam aksara Bali, maka akan beralih fungsi menjadi tanda carik agung.

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Pamada berfungsi sebagai tanda dimulainya suatu kakawin, judul karangan, dan ucapan suci, misalnya mantra-mantra. Sedangkan fungsi tanda carik agung hampir sama dengan tanda pamada, yaitu mengawali judul karangan. Makna tanda Pamada itu sendiri sama dengan pengucapan awighnamastu, ucapan suci dalam agama Hindu yang berarti "semoga berhasil tanpa halangan". Tanda Pamada dipakai dengan harapan agar apa yang ditulis dapat berjalan dengan lancar.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Panten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Panten
Bali Panti.png
Panten atau Panti adalah salah satu tanda baca dalam aksara Bali. Tanda ini biasanya terdapat pada awal bab atau awal paragraf dalam buku. Tanda ini terbentuk dari gantungan aksara Ma dan gempelan Pa.[1]

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Panten berfungsi sama seperti pamada, yaitu mengawali penulisan dengan harapan agar yang ingin ditulis dapat terlaksana dengan lancar tanpa halangan. Panten digunakan sebagai tanda pembuka suatu paragraf, surat, essai, dan geguritan. Panten juga digunakan untuk mengawali judul suatu cerita, atau suatu bab. Dalam surat, panten biasanya hanya terdapat pada paragraf awal.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Tinggen, hal. 26.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Pepet (Hanacaraka)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pepet
Aksara Jawa Aksara Bali

Fonem: [ə]

Letak penulisan: di atas aksara yang dilekatinya.
Pepet (lambang IPA: ə; dibaca dengan "e" seperti pada "penat") adalah salah satu tanda vokalisasi dalam aksara Jawa dan Bali yang melambangkan vokal /ə/ (vokal madya). Bila dialihaksarakan menjadi huruf Latin, pepet ditulis sebagai huruf E dengan tanda ̆ di atasnya (ĕ) untuk membedakannya dengan huruf E yang melambangkan vokal depan tertutup (/e/). Namun sering ditemui bahwa pepet dialihaksarakan sebagai E (tanpa diakritik), sedangkan E yang melambangkan vokal depan tertutup ditulis É.[1]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Dalam aksara Jawa dan Bali, pepet memberi vokal /ə/ pada huruf konsonan yang dilekatinya. Pepet ditulis di atas aksara yang dilekatinya. Pepet boleh ditulis berdampingan dengan simbol layar/surang dan cicak/cecek, dengan syarat bahwa pepet ditulis lebih dahulu, setelah itu diikuti oleh layar/surang atau cicak/cecek.
Baik dalam aksara Jawa maupun Bali, tidak ada aksara tersendiri yang melambangkan vokal /ə/. Vokal /ə/ hanya terdapat dalam tanda (vokalisasi) pepet. Sebagai tanda vokalisasi, pepet tidak dapat ditulis sendiri. Huruf vokal /ə/ yang berdiri sendiri diperoleh dengan mengkombinasikan pepet dengan huruf vokal A atau konsonan Ha.[2][3]

Suku (Hanacaraka)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Suku
Aksara Jawa Aksara Bali

Fonem: [u]

Letak penulisan: di bawah aksara yang dilekatinya
Suku adalah tanda vokalisasi yang melambangkan vokal /u/ pada aksara Jawa dan Bali. Dalam aksara Jawa, ia termasuk sandhangan suara (kelompok tanda vokalisasi), sedangkan dalam aksara Bali termasuk pangangge suara, identik dengan sandhangan suara. Karena merupakan sandhangan/pangangge, suku tidak dapat berdiri sendiri, karena hanya berupa tanda saja, bukan aksara tersendiri. Suku melekati huruf konsonan.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Bentuk

Perbedaan antara suku dalam aksara Jawa dengan suku dalam aksara Bali adalah variasi cara penulisan. Suku dalam aksara Jawa dibuat lebih panjang dan runcing sedangkan suku dalam aksara Bali dibuat lebih pendek dan tumpul.
Aksara Jawa Aksara Bali
Suku Suku mendut/
dirga mendut
Suku Suku ilut/
suku kered

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Dalam aksara Jawa dan Bali, suku memiliki fungsi yang sama, yaitu memberi vokal /u/ pada huruf konsonan. Suku ditulis di bawah huruf konsonan. Suku juga boleh ditulis di bawah pasangan/gantungan aksara.

[sunting] Suku dalam aksara Bali

Dalam aksara Bali, selain suku biasa, ada 2 suku lainnya, yaitu suku ilut (suku kered) dan suku kembung (gantungan Wa). Keduanya memiliki kemiripan dengan suku murda dan pasangan Wa dalam aksara Jawa. Karena suku dapat ditulis pada gantungan aksara, maka cara penulisannya juga berbeda-beda.

[sunting] Suku ilut

Beberapa contoh perubahan bentuk suku bila melekati gantungan aksara.
Suku ilut disebut juga suku kered. Tanda ini melambangkan vokal /uː/ atau /u/ panjang. Dipakai untuk menuliskan kata-kata asing dengan aksara Bali, misalnya bahasa Kawi dalam lontar, atau untuk bahasa Bali serapan. Dalam bahasa Bali sekarang, suara /u/ panjang dan pendek tak bisa dibedakan lagi, namun dari segi penulisan masih tetap dipertahankan. Suku ilut ditulis lebih kecil bila melekati gantungan aksara, khususnya bila garis akhir gantungan tersebut mengarah ke bawah. Namun bila garis akhir gantungan tersebut ke atas, maka suku ilut ditulis berbeda. Hal ini juga berlaku untuk nania.

[sunting] Suku kembung

Suku kembung identik dengan gantungan Wa dan tidak bisa dibedakan. Suku kembung digunakan untuk suku kata yang berpola KKV (konsonan-konsonan-vokal), dimana konsonan yang kedua adalah /w/. Suku kembung dapat ditulis serangkai dengan tedung.

[sunting] Perubahan penulisan

Dalam aksara Bali, penulisan suku mengalami beberapa perubahan bila melekati suatu gantungan (lihat gambar di sebelah kanan).
  1. Suku dan suku ilut ditulis lebih kecil, biasanya untuk gantungan aksara yang garis akhirnya mengarah ke bawah (lihat gambar 1 dan 2). Untuk gantungan aksara La, Ba, Na rambat, dan Ga gora, yang garis akhirnya mengarah ke atas, penulisan garis akhirnya dilanjutkan agar mengarah ke bawah, sehingga suku dapat melekatinya.
  2. Suku ditulis tidak melekati gantungan aksara (lihat gambar 3), biasanya untuk gantungan yang garis akhirnya mengarah ke atas, yaitu gantungan yang termasuk pangangge aksaraYa, Ra, Wa – kecuali La.
  3. Suku ilut/suku kered mengalami perubahan bentuk bila melekati pangangge aksara (kecuali La) dan Ja jera yang garis akhirnya mengarah ke atas (lihat gambar 4). Garis akhir Pa kapal juga mengarah ke atas, namun bentuk suku dan suku ilut yang melekatinya tidak dimodifikasi.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Taling

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Taling
Aksara Jawa Aksara Bali

Letak penulisan: di depan aksara yang dilekatinya.
Taling adalah tanda vokalisasi dalam aksara Jawa dan Bali. Taling melambangkan vokal /eː/ dan /ɛ/. Di Bali, kadangkala taling disebut taleng (lafal: /t̪alɛŋ/). Bila dikombinasikan dengan tarung/tedung, maka akan beralih fungsi menjadi tanda vokalisasi /oː/.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Aksara Jawa dan Bali merupakan abugida, dimana setiap huruf konsonan diikuti oleh vokal /a/. Taling berfungsi mengubah vokal /a/ pada huruf konsonan yang dilekatinya sehingga menjadi /eː/ atau /ɛ/.
Taling ditulis di depan huruf konsonan yang dilekatinya. Taling bisa dikombinasikan dengan layar/surang yang melambangkan fonem retrofleks /r/, dan cicak/cecek yang melambangkan fonem nasal /ŋ/.
Dalam aksara Bali, taling yang melekati huruf Ha dipakai sebagai pengganti huruf E kara, khususnya bagi kata-kata dalam bahasa Bali asli yang diawali vokal /eː/ atau /ɛ/ pada suku kata pertamanya.

[sunting] Tanda vokalisasi ai

Tanda vokalisasi ai
Dirga muré (Jawa); Taling detya (Bali)
Aksara Jawa Aksara Bali

Letak penulisan: di depan aksara yang dilekatinya.
Dirga muré atau taling detya (di Bali juga disebut taling marepa) adalah tanda vokalisasi yang melambangkan diftong (vokal rangkap) /aːi/. Namun, dalam bahasa Bali, diftong tersebut seringkali meluluh menjadi vokal /eː/. Biasanya taling detya ditulis untuk kata-kata dalam bahasa Bali serapan (biasanya dari bahasa Kawi dan Sanskerta).

[sunting] Kombinasi dengan tarung (tedung)

Baik dalam aksara Jawa maupun Bali, taling yang dikombinasikan dengan tarung/tedung berubah fungsi menjadi tanda vokalisasi /oː/. Dalam aturan penulisan, taling ditulis terlebih dahulu, diikuti oleh konsonan, dan diakhiri oleh tarung/tedung.
Bila huruf konsonan yang ingin diberi tanda vokalisasi berwujud pasangan/gantungan aksara yang ditulis ke bawah, penulisan taling dan tarung/tedung tidak digeser ke bawah. Dalam kasus seperti itu, perlu diperhatikan bahwa pasangan/gantungan aksara-lah yang diberi tanda vokalisasi, bukan huruf konsonan yang dilekati oleh pasangan/gantungan aksara tersebut.
Tarung/tedung yang dikombinasikan dengan taling repa (dalam bhs. Bali juga disebut taling detya) akan menjadi tanda vokalisasi /aːu/. Aturan penulisannya sama seperti cara mengkombinasikan taling dengan tarung/tedung.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.

Tarung (tedung)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tarung (tedung)
Aksara Jawa Aksara Bali

Fonem: [o]; [ɔ]

Letak penulisan: Di belakang aksara yang dilekatinya.
Tarung atau tedung[1] adalah tanda vokalisasi dalam aksara Jawa dan Bali. Tarung atau tedung melambangkan bahwa konsonan/vokal yang dilekatinya diucapkan lebih panjang dari biasanya. Jika dikombinasikan dengan taling, maka konsonan yang dilekatinya dibaca dengan vokal /o/ atau /ɔ/.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Kombinasi tedung dengan huruf konsonan menurut aksara Bali. Tedung menyatu dengan garis akhir aksara yang bersangkutan. Namun terdapat pengecualian pada beberapa aksara.
Baik dalam aksara Jawa maupun Bali, Tarung atau tedung berfungsi sebagai pembentuk aksara dirgha, atau huruf yang fonemnya diucapkan dengan vokal /a/ yang lebih panjang. Misalnya dalam aksara Bali, bila dilekati oleh tarung/tedung, maka huruf Ka dibaca /kaː/; huruf Ba kembang dibaca /bʰaː/; dan sebagainya. Bila dialihaksarakan menjadi huruf Latin, maka Ka yang diberi tedung ditulis Kā, Ba kembang yang diberi tedung ditulis Bhā, dan demikian seterusnya.
(na) + (a) = (nā)
(ka) + (a) = (kā)
Dalam aksara Jawa, tarung ditulis di belakang konsonan yang dilekatinya. Penulisannya pun terpisah. Sedangkan dalam aksara Bali, tedung ditulis di belakang, namun menyatu dengan konsonan yang dilekatinya. Pengecualian hanya berlaku bagi huruf Ba, Nga, Ja, Nya, Ka mahaprana, Ca laca, Ja jera, dan Pa kapal.
Selain membuat huruf konsonan dibaca lebih panjang, tarung/tedung juga membuat huruf vokal dibaca lebih panjang. Misalnya, bila diberi tarung/tedung, maka huruf A dibaca /aː/, huruf U dibaca /uː/, dan sebagainya. Dalam aksara Jawa, huruf vokal yang diberi tarung adalah A, U, dan O. Huruf I dan E memiliki variasi bentuk antara mana yang suara pendek dan suara panjang. Sedangkan dalam aksara Bali, hampir seluruh huruf vokal diberi tedung agar dibaca lebih panjang, kecuali E dan La lenga. Dalam aksara Bali, selain A, semua huruf vokal yang diberi tedung ditulis terpisah.
Vokal panjang
Aksara Jawa Aksara Bali
Ā Ō Ū Ā Ō Ū
Dalam aksara Bali, meskipun garis akhir aksara Nya () tampak seperti tedung, sesungguhnya itu bukan tedung. Bukan pula merupakan aksara Ba () yang dilekati oleh tedung ().

[sunting] Kombinasi dengan taling

Tarung/tedung yang dikombinasikan dengan taling (tanda vokalisasi /e/) akan menjadi tanda vokalisasi /o/. Menurut aturan penulisan, taling ditulis terlebih dahulu, diikuti oleh huruf konsonan, diakhiri oleh tarung/tedung.
(é) + (ba) + (a) = (bo)
(é) + (na) + (a) = (no)
Bila huruf konsonan yang ingin diberi tanda vokalisasi berwujud pasangan/gantungan aksara yang ditulis ke bawah, penulisan taling dan tarung/tedung tidak digeser ke bawah. Dalam kasus seperti itu, perlu diperhatikan bahwa pasangan/gantungan aksara-lah yang diberi tanda vokalisasi, bukan huruf konsonan yang dilekati oleh pasangan/gantungan aksara tersebut.
Tarung/tedung yang dikombinasikan dengan taling repa (dalam bhs. Bali juga disebut taling detya) akan menjadi tanda vokalisasi /aːu/. Aturan penulisannya sama seperti cara mengkombinasikan taling dengan tarung/tedung.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ Istilah tedung lazim digunakan di Bali. Kadangkala disebut tedong.

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.


Wisarga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Wisarga
Wignyan (Jawa); Bisah (Bali)
Aksara Jawa Aksara Bali

Letak penulisan: di belakang aksara yang dilekatinya
Wisarga adalah sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti "menyalurkan; melepaskan". Dalam fonologi bahasa Sanskerta (siksha), wisarga (juga disebut visarjanīya oleh ahli tata bahasa) adalah nama dari bunyi [h], ditulis <h> dalam IAST, <H> Harvard-Kyoto, <ः> dalam Dewanagari. Wisarga adalah alofon dari /r/ dan /s/ pada akhir sebuah ucapan.
Dalam aksara Bali, tanda wisarga ‹ः› disebut bisah, dan dalam aksara Jawa disebut wignyan. Dalam aksara Bali, ia dianggap sebagai salah satu pangangge tengenan yang melambangkan bunyi /ɦ/ atau /h/.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Bisah (wisarga) dalam aksara Bali

Bisah memberi efek agar suatu aksara wianjana mendapat desahan dari pengucapan huruf "H". Contohnya, kata "mara" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "marah"; kata "basa" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "basah"; kata "pisa" bila dilekati oleh bisah maka menjadi "pisah"; dll. Aturan ini dianjurkan agar tidak perlu memberi adeg-adeg pada aksara Ha.

[sunting] Penggunaan

[sunting] Di akhir kata

Bisah digunakan pada kata-kata yang mengandung bunyi /h/ pada akhir kata. Maka dari itu, ia ditulis pada akhir kata, tepatnya pada suku kata terakhir. Contoh kata yang mengandung bunyi /h/ pada suku kata terakhir, yaitu: "basah", "pisah", "asah", "desah", dll. Meskipun huruf Ha yang dilekati oleh adeg-adeg dapat dipakai untuk melambangkan bunyi /h/, penggunaan tanda bisah sangat dianjurkan, karena aturan penulisannya memang demikian.
Aksara Bali Ejaan dengan huruf Latin Keterangan
desah
de - sa - h Penulisan kata "desah" yang benar dalam aksara Bali. Suku kata terakhir mendapat tanda bisah agar dibaca dengan desahan /h/.
desah
de - sa - h Penulisan kata "desah" yang salah dalam aksara Bali. Huruf Ha tidak perlu dibubuhi dengan tanda adeg-adeg agar kata tersebut dibaca dengan desahan /h/. Dianjurkan menggunakan tanda bisah.
Bisah tidak boleh digunakan apabila hembusan /h/ terletak di tengah kata dan tidak diikuti oleh huruf konsonan. Sebagai gantinya digunakan huruf Ha untuk menggantikan bisah. Contohnya (dalam bahasa Bali) kata: "cihna", "jihwa", "Brahma", dan sebagainya. Namun ada pengecualian untuk kata duhka (bahasa Bali), yang berasal dari kata dur dan kha.

[sunting] Suku kata yang sama

Bisah patut digunakan apabila ada suatu kata yang terdiri dari suku kata yang sama, dan suku kata tersebut mengandung bunyi /h/ yang tidak diikuti vokal /a/. Apabila kata tersebut diluluhkan menjadi kata kerja (bahasa Bali: kapolahang), tetap memakai bisah, meski suku katanya berubah karena peluluhan tersebut. Contoh (dalam bahasa Bali) kata: "cahcah" (jika diluluhkan menjadi "nyahcah"), "kohkoh" (jika diluluhkan menjadi "ngohkoh"), dan sebagainya. Huruf H (yang digarisbawahi) pada kata tersebut wajib diganti dengan bisah apabila disalin ke dalam aksara Bali.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Catatan kaki

[sunting] Referensi

  • Tinggen, I Nengah. 1993. Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha.
  • Surada, I Made. 2007. Kamus Sanskerta-Indonesia. Surabaya: Penerbit Paramitha.

Wulu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Wulu (ulu)
Wulu (Jawa); Ulu (Bali)
Aksara Jawa Aksara Bali

Fonem: [i]

Letak penulisan: di atas aksara yang dilekatinya
Wulu adalah salah satu tanda sandhangan suara dalam aksara Jawa. Dalam aksara Bali disebut ulu dan merupakan salah satu pangangge (sandhangan) suara. Baik dalam aksara Jawa maupun Bali, wulu memiliki fungsi yang sama, dan ditulis di atas aksara yang dilekatinya.

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Bentuk

Bentuk dan fungsi tanda wulu dalam aksara Jawa memengaruhi tanda ulu dalam aksara Bali. Perbedaan terletak pada variasi cara penulisan.
Aksara Jawa Aksara Bali
Wulu Wulu melik Ulu Ulu sari

[sunting] Fungsi dan penggunaan

Aksara Jawa dan Bali merupakan abugida, dimana setiap huruf konsonan mengandung vokal /a/ dan membutuhkan tanda vokalisasi untuk mengubah vokal tersebut. Wulu atau ulu mengganti vokal /a/ dengan vokal /i/ pada aksara yang dilekatinya. Wulu atau ulu ditulis di atas aksara yang dilekatinya, dan dapat ditulis berdampingan dengan tanda sandhangan/pangangge lainnya yang harus ditulis di atas aksara, misalnya layar/surang dan cecak/cecek.

[sunting] Ulu dalam aksara Bali

Selain ulu biasa, terdapat 3 macam ulu lainnya dalam aksara Bali, yaitu ulu sari, ulu ricem, dan ulu candra. Ulu sari merupakan pangangge suara yang banyak dijumpai setelah ulu biasa, sedangkan ulu ricem dan ulu candra hanya dijumpai pada kitab-kitab berbahasa Kawi dan Sanskerta, karena pemakaiannya terbatas, dan termasuk ke dalam jenis aksara modre[1] (aksara yang dipakai dalam mantra dan rajah, diyakini mengandung kekuatan gaib). Selain itu, ulu ricem dan ulu candra bukanlah tanda vokalisasi, melainkan tanda nasalisasi.
Ulu sari Ulu ricem Ulu candra
Ulu sari.png
Ulu ricem 1.png
Ulu ricem 2.png
Ulu candra 1.png
Ulu candra 2.png

[sunting] Ulu sari

Ulu sari disebut juga Sucika (śucika). Ia adalah pangangge suara yang melambangkan fonem vokal /iː/ atau suara /i/ panjang. Bentuknya seperti ulu yang diberi tanda carik. Biasanya ditulis pada kata-kata non-Bali yang ditulis dengan aksara Bali, misalnya nama Dewa-Dewi Hindu, nama tokoh dalam wiracarita Hindu, nama lokasi di India, dan kata asing (Sanskerta dan Kawi) yang diserap menjadi bahasa Bali. Sama seperti ulu, tanda ini ditulis di atas aksara yang dilekatinya.

[sunting] Ulu ricem

Ulu ricem adalah pangangge suara osthya dalam aksara Bali.[1] Ulu ricem merupakan tanda nasalisasi labial. Aksara yang dilekatinya mengandung fonem nasal /m/. Ulu ricem hanya dipakai pada kitab berbahasa Sanskerta, misalnya Weda.

[sunting] Ulu candra

Ulu candra termasuk pangangge suara anunasika.[1] Ulu candra sama seperti ulu ricem, yaitu tanda nasalisasi. Tanda ini juga ditemui dalam aksara Dewanagari, dengan nama Candrabindu. Aksara yang dilekati oleh ulu candra mengandung fonem nasal /ŋ/. Dalam huruf Latin IAST, sering ditulis dengan huruf ṁ. Ulu candra terdiri dari 3 bagian:[2]
  • bagian yang paling bawah, garis lengkung seperti bulan sabit, disebut ardhacandra, sebagai lambang sakti (energi) atau Prakerti. Dilambangkan dengan huruf A.
  • bagian tengah, lingkaran/noktah, disebut bindu, sebagai lambang matahari. Dilambangkan dengan huruf U.
  • bagian teratas, garis meruncing ke atas/segitiga sama kaki (trikona), disebut nada, sebagai lambang Siwa atau phalus. Dilambangkan dengan huruf M.
Bila ketiga simbol tersebut disatukan, maka akan membentuk suku kata Aum yang suci bagi umat Hindu. Ulu candra hanya dipakai pada aksara suci Hindu, misalnya Omkara dan Dasāksara.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ a b c Simpen, hal. 9.
  2. ^ Puja, hal. 175.

[sunting] Referensi

  • Simpen, I Wayan. Pasang Aksara Bali. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Tingkat I Bali.
  • Puja, Gede. 1985. Agama Hindu untuk Kelas II SLTA. Penerbit Maya Sari.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar