Jumat, 09 Maret 2012

Genjring Bonyok (Subang Jawa Barat)

Genjring Bonyok
Written by Ferdy Fedinand   
Rabu, 15 Desember 2010 16:56


GENJRING BONYOK
1.Asal-usul dan Perkembangan Genjring Bonyok
Genjring Bonyok adalah jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang yang mempunyai alat musik utama bedig dan genjring. Kesenian tersebut mulai lahir dan berkembang di Kampung Bonyok Desa Pangsor Kecamatan Pagaden. Genjring Bonyok merupakan kesenian yang terinspirasi dari kesenian Genjring Rudat.
Genjring Bonyok mulai lahir sebelum kemerdekaan atau pada zaman perkebunan P & T Lands. Pada waktu itu kampung Bonyok atau wilayah Desa Pangsor dikenal dengan daerah kontrak. Selain Genjring Bonyok ada beberapa jenis kesenian yang berkembang antara lain Kendang Penca, Ketuk Tilu, dan Wayang Golek. Kesenian tersebut berkembang sesuai dengan keinginan masyarakat yang membutuhkan hiburan.
Alat music(waditra) yang digunakan pada awal perkembangannya hanya menggunakan satu buah bedug,tiga buah Genjring.Kemudian Genjring Bonyok mengalami perkembangan dengan menambahkan atau memadukan alat musik dari kesenian yang sedang berkembang pada waktu itu.
Seniman yang memiliki peranan penting dalam mendirikan dan mengembangkan Genjring Bonyok yaitu Talam dan Sutarja. Mereka membuat kreasi dalam setiap pertunjukan, sehingga Genjring Bonyok dapat dikenal oleh masyarakat. Beberapa periode perkembangan Genjring Bonyok:
-Tahun 1967 Genjring Bonyok baru mempunyai lima orang personil (nayaga) yaitu orang yang menabuh bedug dan empat orang yang menabuh Genjring.
-Tahun 1969 mulai memasukan terompet dan nayaga bertambah menjadi enam orang.
-Tahun 1982 Genjring Bonyok memasukan jenis alat musik seperti gendang, kulanter, goong besar,goong kecil,dua buah kenong, dan kecrek.
-Tahun 1987 Genjring Bonyok mulai menggunakan sinden dan juru kawih dan lagu yang dilantunkannya yaitu lagu ketuk tilu.
Genjring Bonyok sudah banyak melakukan pertunjukan, hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa even terdahulu antara lain pada tahun 1971 mengadakan pagelaran di gedung Rumentang Siang Bandung, tahun 1977 mengikuti Festival Genjring Bonyok se-Jawa Barat yang diikuti oleh 24 grup,tahun 1978 mengadakan pagelaran di GOR Saparua Bandung,tahun 1979 pagelaran di Gedung Gubernur yang diikuti 3 grup dari 3 kabupaten,tahun 1980 pagelaran pada acara HUT Kabupaten Subang, tahun 1985 mengadakan pagelaran di TMII anjungan Jawa Barat dan Genjring Bonyok mulai ditampilkan di TVRI pusat Jakarta, tanggal 17 Agustus 1989 mengadakan pagelaran di lapangan Gasibu pada acara gelar senja dengan memasukan penari dari siswa-siswi sekolah, tanggal 1 Oktober 1989 mengisi pembukaan pameran Kabuten Subang.
Dengan demikian pagelaran Genjring Bonyok tiada hanya sebagai alat helaran pada saat hajatan, akan tetapi Genjring Bonyok dapat dipagelarkan di atas panggung, dan Genjring Bonyok juga bisa memakai penari dengan koreografi yang baik.
Maka fungsi kesenian Genjring Bonyok sangat beraneka ragam antara lain mengadakan pagelaran pada acara hajatan dengan cara melakukan helaran secara bersamaan dengan kesenia lainnya, misalnya dengan kesenian sisiangan. Mengadakan pagelaran pada acara-acara yang dianggap penting atau acara kedinasan.
2. Pertunjukan atau Penyajian Genjring Bonyok
Beberapa unsur yang penting yang sangat menunjang dalam pagelaran Genjring Bonyok yaitu Waditra (alat musik), nayaga (penabuh alat musik), juru kawih (sinden), penari,busana.
a.Waditra (alat musik)
Alat musik yang digunakan yaitu:
-1 buah bedug berfungsi untuk mengatur ketukan dipukul dengan cara-cara tertentu untuk membuat bunyi yang enak didengar.
-3 buah genjring yang berfungsi untuk membuat irama yang bersahutan dan mengimbangi alunan alat musik lain.
-1 buah gendang berfungsi mengatur irama dan memberi tekanan musik.
-1 buah kulanter berfungsi mengikuti irama.
-1 buah goong besar berfungsi untuk menutup akhir irama.
-1 buah goong kecil berfungsi untuk mengiringi irama.
-1 buah terompet berfungsi untuk membawakan melodi.
-2 buah kenong berfungsi mengimbangi irama.
-1 buah kecrek berfungsi untuk mempertegas dan mengatur irama.
b. Nayaga (penabuh alat musik)
Pada saat di atas panggung nayaga mengambil posisi duduk. Sinden duduk paling depan, dan diikuti oleh peniup terompet yang sejajar dengan penabuh gendang dan penabuh kecrek. Baris selanjutnya penabuh genjring dan penabuh ketuk, dan di belakangnya penabuh bedug dan penabuh goong. Kalau memakai penari biasanya berada di depan sinden. Pada saat helaran Genjring Bonyok biasanya bersamaan dengan kesenian lain, misalnya kesenian Sisingaan. Genjring Bonyok berada di posisi belakang setelah kesenian Sisingaan, dengan urutan posisi personil seperti posisi di atas panggung.
c. Juru Kawih
Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Sinden dalam pagelaran adalah lagu-lagu ketuk tilu seperti gotrok,kangsreng,awi garambat,buah kawung,dan torondol.
d. Penari
Penari Genjring Bonyok pada saat tertentu memakai para penari khusus yang sesuai dengan koregrafi. Sedangkan pada saat mengadakan heleran para penari terdiri dari masyarakat yang ikut menari secara spontanitas dan memriahkan helara.
e. Busana
Busana yang dipakai oleh personil Genjring Bonyok diantaranya:
-Nayaga: baju kampret, celana pangsi,iket,semplak,selendang.
-Juru Kawih: kabaya, selendang, sanggul, dan hiasan bunga melati.
-Penari: laki-laki:kampret,celana pangsi,iket,selandang.
Perempuan:kabaya,selendang,sanggul.
Demikianlah ringkasan mengenai kesenian khas kabupaten Subang ini...harapnya dengan adanya informasi ini menjadi buah bakal untuk di mas ayang akan datang agar tidak punah.
Dikutip dari http://ferdy-skynet.blogspot.com/2010/03/genjring-bonyok.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar