Minggu, 04 Maret 2012

9 NILAI BUDAYA YANG UTAMA PADA ORANG BATAK TOBA :

Saya mencoba untuk mendeskripsikan (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang  Utama pada Masyarakat Batak Toba. Memang masih banyak Nilai Budaya Batak Toba yang lain,  yang mana mungkin menjadi bahasan teman-teman yang lain ?

1.    KEKERABATAN
      Yang mencakup hubungan premordial sukun , kasih sayang atas dasar hubungan darah dan, kerukunan  unsur-unsur Dalihan Na Tolu( Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), nHatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena  pernikahan, solidaritas marga dan lain lain.

2.    RELIGI :
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.

3.    HAGABEON
       Banyak keturunan dan panjang umur. Satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang sering disampaikan  pada  saat  upacara  pernikahan  adalah  ungkapan  yang   mengharapkan   agar   kelak
       pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16.
Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting.  Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak.
Ini erat  hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba , bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang huta.
Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah personil yang besar.
Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG ( seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri  sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.

4.    HASANGAPON

Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih
kejayaan. Nilai     ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.

5.    HAMORAON
       Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang
       Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

6.    HAMAJUON
           Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat
       mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu , Sumatra Timur
       dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya      telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara  atau meningkatkan daya          saingnya.

7.    HUKUM
      
       Patik dohot uhum , aturan dan hukum . Nilai  patik dohot dan  uhum merupakan  nilai  yang  kuat di
       sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum
       merupakan dunia orang Batak.
       Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup        orang   Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang      memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan  hukum di Indonesia yang        mencatat nama orang  Batak dalam daftar pendekar pendekar  Hukum , baik sebagai Jaksa , Pembela          maupun Hakim.

8.    PENGAYOMAN
       Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang
       disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi.
       Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang
       sangat mendesak.

9.    KONFLIK
       Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada
       Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini.
       Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan  Angkola-Mandailing.
       Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan  meraih hasil nilai
       budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan  sumber konflik yang
       abadi bagi orang Toba.

( dikutip tanpa merubah dari skripsi penulis : POLA DAN FUNGSI KEKERABATAN MASYARAKAT BATAK TOBA, Sebuah
Studi Deskripsi Pada Perkumpulan Marga Napitupulu, Boru dan Bere di Kotamadya
Surabaya.  - ANTROPOLOGI - Universitas Airlangga, Surabaya. 1992)

EVENT BY :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar