Minggu, 04 Maret 2012

Unsur Islam dalam Seni dan Budaya Aceh

 Unsur Islam dalam Seni dan Budaya Aceh
Kesenian Aceh pada dasarnya mempunyai ciri yang amat nyata, ya itu Islam didalamnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh Islam yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Aceh, terutama dalam kehidupan masyarakat Aceh masa lampau.
Dalam masyarakat Aceh masa kini ajaran Islam itu tetap dipandang sebagai nilai yang esensial dan masih sangat besar pengaruhnya sekalipun disamping itu pengaruh dari budaya modern mulai besar pula. Dengan kata lain telah terjadi pergeseran. Malah dalam beberapa nilai konflik nilai-nilai dalam masyarakat Aceh sekalipun  nilai-nilai Islam masih tetap dominan.
Mari kita lihat sekilas sejarah mengenai beberapa budaya dan seni Aceh diantara sekian banyak budaya dan seni kebanggaan masyarakat Aceh.
Seudati.
Seudati merupakan perpaduan antara seni tari, seni suara, seni sastra, karena selain dari menari, para pelaku juga sekaligus meyakinkan kisah-kisah yang tersusun secara bersajak dan dilagukan dengan berbagai lagu, pada permulaan sejarahnya, seudati itu berfungsi sebagai tari pahlawan yang dilaksanakan untuk melepaskan pasukan tentara yang akan berangkat ke medan juang dalam peperangan melawan musuh,- menyambut pasukan tentara yang pulang dari medan perang, lebih kalau pasukan itu pulang dengan membawa kemenangan, media dakwah, karena dalam kisah yang diucapkan bersajak itu, dapat diselipkan berbagai ajaran yang perlu didakwahkan.
Akan tetapi kemudian oleh karena kesenian tersebut sangat digemari oleh rakyat, maka diadakan juga pada waktu-waktu yang lain, bahkan dikampung-kampung. Akhirnya fungsi berubah menjadi hiburan rakyat dan dipertandingkan dengan pemungutan bayaran. Mula-mula tidak semalam suntuk, akan tetapi waktu pertandingan terjadi berbalas kisah, karena masing-masing tidak mau kalah, maka akhirnya sampai pagi hari, mataharilah yang memisahkan kedua belah pihak, akibatnya semua orang yang menikmati hiburan tersebut terpaksa tidur semalam suntuk, tidak sempat mencari rizki untuk belanja rumah tangga, disamping itu juga lama kelamaan timbul efek samping lainnya, yaitu terjadi perzinaan dan pencurian dikampung-kampung yang bersangkutan dan yang berdekatan, oleh karena itulah ulama Aceh membencinya, malah mengharamkannya, judi haramnya itu, bukan haram zaty, artinya bukan haram seudati atau keseniannya, melainkan haram karena akibat sampingan yang merusak masyarakat, kalau hal ini dapat dihindarkan tidak masalah.
Para pelaku seudati terdiri dari delapan orang penari ditambah satu atau anak seudati yang bagus suaranya, oleh karena para seudati terdiri dari delapan orang maka dinamakan saman berasal dari bahasa Arab yang berarti delapan, dan oleh karena dalam permainan itu diceritakan bermacam-macam terutama sewaktu pertandingan, maka dinamakan ratooh.
Pakaian para penari terdiri dari baju kaos lengan panjang celana panjang berwarna hitam atau putih yang agak genting pada bagian lutut dan kain sarung sutera berlipat dua dililit dipinggang, kemudian disisi plah sebilah rencong, lambang pahlawan Aceh dihulunya diikat denga kain kuning atau hijau, dikepalanya di ikat daster sutera yang dalam bahasa Aceh disebut “tangkulok sutera”
Oleh karena seudati sangat digemari oleh segenap masyarakat Aceh, maka dalam konferensi PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang berlangsung di kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada tahun 1964 dibicarakan juga hukumnya, untuk keperluan itu maka dibentuklah sebuah tim penelaah yang terdiri dari tokoh-tokoh yang bertugas dijawatan agama keresidenan Aceh, akan tetapi karena situasi belum mengizinkan karena masih berlangsungnya perlawanan fisik melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia lagi, tambah pula ada antara anggota tim itu meninggal dunia, maka tim tersebut tidak dapat menyelesaikan tugasnya. Namun dalam rapat-rapat telah terdapat titik terang, asal saja dalam pelaksanaannya dapat dihindari hal-hal yang negatif.
Laweut
Perkataan laweut berasal dari perkataan “seulaweut” (seulaweut dalam bahasa Indonesia) ini juga merupakan antara seni tari, seni suara dan seni sastra. Tari ini lebih mirip dengan tari seudati, hanya pelakunya terdiri dari gadis-gadis, oleh karena itu juga dinamakan dengan nama “seudati inong” (Seudati Perempuan) tarin seudati ini berasal dari Aceh Pidie.
Unsur Islam dalam seni rupa.
Seni rupa juga berkembang di Aceh, akan tetapi perkembangannya sekarang tidak menonjol sebagaimana keadaan pada masa lampau, seni rupa yang berkembang di Aceh adalah seni arsitektur, seni ukir, dan seni dalam membuat sulaman, anyaman, keramik, kopiah meukutop dan rencong, seni pahat dan seni lukis tidak berkembang pada masa lampau, dari keduanya hanya seni lukis yang mulai berkembang sekarang, sebab tidak berkembangnya seni pahat dan seni lukis pada masa lampau di Aceh juga karena ajaran Islam.
Setelah datangnya agama Islam maka pengaruh hindu yang ada di Aceh dihilangkan, maka dilarang membuat patung atau gambar mahluk yang bernyawa, baik manusia maupun hewan, larangan tersebut berdasarkan hadist ya itu: “ siapa yang melukis atau menggambar sebuah gambar, maka dia akan disiksa tuhan sampai dia bisa memberinya bernyawa, tapi selamanya tidak mungkin memberikan lukisan atau patung itu bernyawa” (Saleh Kasim, 1986).
Seni arsitektur
Tercermin dari rumoh Aceh yang sekarang masih ada sisa-sisanya, bentuk dari rumah tradisional Aceh ini memanjang dari arah timur ke barat yang maksudnya dibuat demikian adalah untuk memudahkan menentukan arah kiblat. Dibagian sebelah barat maupun sebelah timur sejajar dengan kuda-kuda dan letaknya agak keluar, terdapat tolak angin (tulak angen) yang sepenuhnya berisi ukiran-ukiran yang merupakan kaligrafi yang berasal dari ayat-ayat al-Quran.
Demikian pula pada pintu rumah yang disebut juga Pinto Aceh serta pada kisi-kisi dan bingkai jendela terdapat juga ukiran-ukiran yang bermotif alam (misalnya bunga) dan kaligrafi huruf Arab. Selain daripada itu, dalam mendirikan rumah Aceh tradisional didirikan upacara yang bersifat religius, seperti halnya mengadakan peusijuek, yang hal itu sebenarnya merupakan sisa-sisa kebudayaan sebelum Islam datang, yaitu animisme dan dinamisme yang berbau magis, namun dalam upacara itu telah dimasukkan ajaran Islam, misalnya membacakan doa secara Islam bila acara mendirikan rumah itu selesai, disamping hal-hal tersebut diatas masih dapat juga ditelusuri unsur-unsur Islam yang terdapat dalam arsitektur Rumoh Aceh ( Rumah Aceh), misalnya dari struktur ruangan-ruangan yang terdapat dalam rumah itu yang ada kaitan dengan peranan-peranan daripada penghuninya. Jadi unsur Islam dalam seni arsitektur Aceh sangat jelas.
Anyaman
Anyaman berkembang di Aceh sampai dengan sekarang, akan tetapi yang masih maju di daerah-daerah pedalaman, akan tetapi didaerah perkotan anyaman tersebut sudah minim, anyaman tersebut dibuat dari daun lontar dan pandan dalam bahasa Aceh dinamakan sikee, anyaman yang biasa dibuat adalah tikar, diantaranya adalah tikar sembahyang dan tikar orang mati, tikar sembahyang khusus dibuat untuk maksud itu (tikar sajadah) dan disamping itu bentuk juga memperlihatkan unsur Islam.
Bagian depan menyerupai kubah mesjid, dan bagian pinggirnya menyerupai gigi buaya sebanyak lima buah yang melambangkan bahwa seorang yang sedang bersembahyang tidak boleh melakukan kegiatan lain ( misalnya berbicara) akan tetapi harus kusyuk seakan-akan orang itu (hatinya) berbicara dengan tuhan.
Rencong
Timbul Rencong di Aceh juga karena pengaruh Islam. Banyak simbol-simbol pada rencong yang memperlihatkan unsur Islam didalamnya. Didalam buku RENCONG karangan T. Syamsyuddin dan M. Nur Abas ( 1981:5) dijelaskan arti dari simbol pada rencong sebagai berikut:
- Gagang Rencong yang melekuk kemudian melebar pada bagian sikunya berupakan aksara arab BA
- Bujuran gagang tempat genggaman merupakan aksara SIN
- Bentuk-bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi pada gagangnya merupakan aksara MIM
- Lajur-lajur besi pada pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara LAM
- Ujung-ujung yang runcing dengan datar sebelah atas dan bagian bawah sedikit melekuk ke atas merupakan aksara HA.
Rangkaian dari dari aksara BA, MIM, LAM, dan HA itu mewujudkan kata, dengan demikian jelas bahwa rencong merupakan perwujudan dari ayat al-quran yang dalam bentuk alat yang tajam dijadikan sebagai alat perang guna mempertahankan agama Islam dari rong-rongan orang yang anti Islam.
Unsur Islam juga dapat ditelusuri dari cara membuatnya . untuk membuat sebuah rencong adakalanya dilakukan dengan cara ilmu ghaib yaitu dengan mengurutkan besi atau logam bahan rencong dengan  jari tangan dengan membaca mantra-mantra dari ayat al-quran sehingga ia benar-benar ampuh sebagai senjata.
Inilah sekilas tentang seni dan budaya Aceh yang penuh dengan nilai-nilai religius dan heroik, selama ini banyak daripada generasi Aceh yang tidak mengenal akan budaya nenek moyang mereka, mereka lebih mengenal akan budaya-budaya asing (budaya barat) yang sama sekali tidak cocok dengan kultur kita masyarakat Aceh  ini merupaka sebuah dilema bagi kelestarian budaya yang sangat kita cintai ini, padahal seharusnya kita harus bangga dengan budaya kita itu yang berbeda dengan budaya-budaya lain yang ada di dunia ini.
Semua pihak harus bangkit dan bersatu menyelamatkan budaya kita, semua kita harus mempunyai rasa memiliki dan rasa mencintai terhadapa budaya yang kita miliki, setiap bangsa yang lupa akan budayanya maka bangsa tersebut akan kehilangan jati diri. Mari kita bangkitkan kembali rasa cinta terhadap budaya kita kepada segenap generasi kita sejak dini sebelum semuanya terlambat.
Oleh Eka Januar Ketua Komunitas Budaya Negeri Kota Lhokseumawe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar