Minggu, 04 Maret 2012

Musisi Terasing Mencari Status


Musisi Terasing Mencari Status

 PENAMPILAN beberapa anak yang ber-piercing, berdandan ala punk akan sering kita jumpai saban malam minggu di Halte depan Taman Budaya Aceh. Mereka sebagian juga menjadi musisi Punk. Fenomena ini juga berelasi dengan semakin seringnya konser atau festival atau parade musik yang diselenggarakan di Aceh. Mungkin ini salah satu hikmah damai!
Tapi tentu saja beberapa catatan masih perlu menjadi pembelajaran bagi kita, bagaimana dalam konteks kita sekarang, segala sesuatunya telah diregulasi dengan aturan agama. Ada beberapa nama band asal ibu kota yang gagal tampil di Aceh karena tidak diterima oleh beberapa oknum yang sering membawa nama agama dan bertindak sebagai polisi Tuhan.
Alasan bahwa musik tidak sesuai dengan ajaran agama tentu masih perlu kita kaji lebih dalam. Karena dalam sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara, musik adalah salah satu metode penyebaran Islam. Pembatasan dan pemisahan penonton berdasarkan jenis kelamin diyakini dapat mereduksi ketimpangan moral yang dikhawatirkan dapat terjadi ketika pementasan musik dilaksanakan.
Masalah yang lain yang sering dihadapi oleh para musisi, khususnya di Aceh, yaitu masyarakat kita yang masih menganggap sebelah mata posisi dan profesi seorang musisi.
Hal ini juga terlihat dalam salah satu film dokumenter yang akan diputar di Episentrum Ulee Kareng, Jumat, 20 November 2009 mendatang. Film yang berjudul “Musisi Mencari Status” yang disutradari oleh Ary Agung Wibowo dan M. Leo Zainy (2008) akan menjadi bagian dari Program ScreenDoc! Regular bulan November yang akan membawa tema tentang “Musik, Jendela Melihat Realita Sosial”.
Film ini menampilkan sisi kehidupan salah seorang personil band lokal yang terkenal di Lamongan, Tani Maju. Leo, sang penabuh drum, bercerita tentang suka dukanya menjadi seorang musisi. Film ini dibuka dengan aksi panggung band Tani Maju, yang menyanyikan lagu kata per kata yang kemudian disahut oleh penonton konser. Para musisi berpakaian dan berdandan nyentrik.
Leo adalah seorang penabuh perkusi di band Tani Maju. Leo bercerita tentang bagaimana kehidupannya ketika memilih untuk menjadi seorang musisi. “Musisi tidak dianggap sebagai profesi yang menjanjikan di masyarakat. Dan banyak masyarakat yang mengganggap remeh profesi musisi. Musisi bukan profesi yang layak dan banyak orang tua yang malu jika anaknya menjadi musisi”.
Leo menghadapi banyak tantangan ketika memutuskan kariernya sebagai musisi. Mar’ah, kakak Leo, mengatakan bahwa banyak orang tua yang tidak suka pada penampilan para musisi, karena mereka suka bereksperimen dengan penampilannya, misalnya rambut yang gondrong, tidak rapi, dsb.
Tapi tantangan terbesarnya datang dari orang tua Sofie, mantan pacarnya. Leo berniat untuk membangun hubungan yang serius dengan Sofie, tetapi terkendala, dan menyebabkan kisah asmaranya kandas, hanya karena orang tua Sofie yang agamis tidak suka dengan musik dan malu memiliki menantu seorang musisi!
Suka duka tersebut membuat Leo memilih untuk mencari pekerjaan lain yang lebih disukai oleh orang-orang yang dia sayang, yaitu orang tuanya dan pacarnya. Dan dia memilih untuk menjadi seorang guru. Guru seni di SDN Klojen. Karena basis ilmu seninya yang kental, kelas Leo menjadi kelas yang sangat ditunggu oleh muridnya, “Leo seperti idola”, kata Ibu Yuli, kolega Leo di SDN Klojen.
Cerita di atas mengingatkan kita pada sosok Rafli, maestro musik Aceh dan pentolan grup Kande. Tapi ceritanya berbeda. Rafli meninggalkan profesinya sebagai guru di MIN Setui, Banda Aceh, dan berfokus untuk menjadi seorang musisi. Mungkin menjadi musisi di Aceh lebih menjanjikan![]
Oleh Rizki Alfi Syahril

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar