Minggu, 04 Maret 2012

Kebudayaan dan Peradaban Aceh

Kebudayaan dan Peradaban Aceh

 SELAMA ini, seni dan budaya salah dipahami di Aceh. Begitu kita sebut seni budaya, alam pikiran orang langsung terbayang tarian ranup lampuan, tari seudati, pertunjukan rapai atau tari saman. Kesalahan pemahaman tersebut terjadi karena saat pemerintah menggelar acara seni menyebutnya pertunjukan ‘seni budaya’ dan tidak ada dari penyelenggara itu yang menjelaskan arti budaya, seni, kebudayaan atau peradaban.
Kekeliruan pemahaman tersebut harus kita perbaiki bersama. Budaya adalah cara hidup sebuah bangsa atau kelompok masyarakat yang diwariskan turun temurun. Budaya menyangkut semua hal, seperti agama, cara mencari nafkah, cara berkomunisasi dan semacamnya.
Belum majunya gerakan kebudayaan di Aceh karena beberapa faktor, di antaranya kesalah pahaman tadi, yang mengakibatkan tidak adanya budayawan sejati di Aceh. Belum ada seorang pun yang pantas disebut budayawan di Aceh, namun secara spesifik ada beberapa orang yang bisa disebut seniman, penulis, pelukis dan semacamnya.
Aceh perlu tokoh penggerak dan pembangun budaya di zaman ini, kebudayaan dan peradaban adalah kunci dari nilai masa depan untuk aceh masa kini. Jika ada orang yang berani menghadirkan dirinya sebagai penggerak dan pembangun kebudayaan dan peradaban di zaman ini, maka ia harus melawan paradigma kuno tentang seni budaya dan harus sedikit radikal.
Adanya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Pekan Melayu Raya (PMR) dan sederetan expo dan perhelatan seni budaya lainnya menjadi acuan nilai tentang kepedulian tersebut. Namun sampai kini, baik PKA, expo, PMR belum menunjukkan sebuah even yang berkualitas. Belum ada stansarisasi pertunjukan di Aceh.
Selama ini, sebuah even yang dilaksanakan dengan dana miliaran masih dikemas dengan format seratus juta, itulah yang terjadi pada PKA, PMR dan ekspo-ekspo di Aceh yang mencerminkan pengelolanya belum professional atau sengaja dikemas asal-asalan untuk keuntungan beberapa orang.
Pemerintah, baik propinsi maupun kabupaten kota, seharusnya memilih orang yang ahli dan mencintai seni budaya untuk mengelola hal yang terkait kebudayaan dan seni, bukan para pencari swaka ekonomi dengan menjual nama budaya, kalau mau berbisnis, silakan terjun ke dunia bisnis profesional jangan menjual kebudayaan. Budaya dan peradaban saling terkait seperti mata uang logam, yang satu tidak berguna tanpa ada yang lain.
Di Aceh, pengubah peradaban dan budaya yang pertama kali adalah Sultan Aceh pertama, Ali Mughayat Syah. Dalam dunia sastra ada Hamzah Fanshuri, yang mengubah arah sastra dunia sastra Aceh dan membentuk format seni sastra Melayu.
Sultan Iskandar Muda juga telah mengubah budaya dan peradaban dengan membawa pasukan menaklukkan negeri-negeri di Sumatra dan semenanjung Melayu. Dalam dunia kemiliteran, Lakseumana Keumalahayati adalah tokoh pembaharu pengubah peradaban Aceh.
Di Aceh modern, Hasan Tiro pengubah peradaban dalam dunia pemikiran nasionalisme dan politik. Dalam kebudayaan dan seni secara luas, belum ada pembaharu di Aceh moderen. Ini disayangkan bagi sebuah kumpulan orang yang punya perasaan etnisentrik tinggi seperti Aceh. Peradaban Aceh dalam dunia politik telah diubah oleh Hasan Tiro, sementara di bidang budaya belum ada yang melakukannya.
Di bidang pendidikan juga belum terlihat siapaun yang jadi pembaharu, yang bermimpi perbaikan ke arahnya ada, namun semua masih konvensional. Bahkan, jatidiri sistem budaya pendidikan Aceh seperti dayah-dayah kini ada yang sudah dibaur dengan sistem jadi-jadian perguruan tinggi, bukan malah menyempurnakan sistem yang telah ada atau membuat sistem baru secara total.
Masalah lain dalam pendidikan di Aceh, banyak mata pelajaran atau fakultas yang dimunculkan tidak berfungsi membangun peradaban karena semuanya didoktrin berpikir agar menjadi hamba pemerintahan setelah lulus yakni menjadi pegawai negeri yang tidak kreatif.
Dalam  bidang seni, peradaban Aceh masa silam masih berpengaruh dan jadi acuan kemajuan dunia Melayu seperti dilakukan oleh Hamzah Fanshuri dengan cara menyusun seni katanya dalam syair-syair. Hasil peradaban Aceh masa silam dalam musik dapat kita lihat dari rapai sekarang.
Dalam seni tutur kini masih tersisa rukon, dan sebagainya, namun itu tidak mengubah peradaban bidang seni di negeri lain, artinya peradaban Aceh masa silam memang kuat, tapi tidak sekuat peradaban bangsa lain seperti di barat yang kini mempengaruhi peradaban dunia, termasuk di Aceh.
Dalam seni tulis, di zaman moderen belum ada yang bisa dibanggakan dari seni Aceh, walau ada beberapa buku tulisan orang Aceh, tidak ditulis dalam bahasa Aceh dan tidak membangkitkan semangat Aceh untuk maju. Dalam seni lukis ada muncul beberapa nama, walau belum bisa mencatat kekhasan sebagai pembawa perubahan dalam dunia penuh warna tersebut.
Kesalahan pemerintah Aceh dalam mengurus seni budaya dan peradaban, yakni menganggap seni budaya adah pertunjukan seni seperti tarian dan rapai saja. Kesalahan lain adalah dengan menguasai dana kesenian oleh sanggar pendopo, baik di tingkat propinsi dan kabupaten kota. Ini mengakibatkan kediktatoran dalam mengurus seni kebudayaan.
Kesalahan lain pemerintah dalam mengurus seni dan budaya adalah mempromosikan seni Aceh keluar, padahal sampai di sana negara tersebut menempatkan utusan kita di tempat tidak layak dan tidak ada penonton, serta tidak menguatkan potensi yang ada di daerah-daerah karena penangan hal seni budaya di pemerintahan bukan ahlinya dan bukan pencinta seni budaya. Ini berkesan memanfaatkan atau menjual nama seni dan budaya untuk jalan-jalan ke luar negeri karena kepentingan kelompok dan keluarga penjabat saja. Solusi untuk memajukan seni dan budaya serta peradaban di Aceh adalah dengan mengadakan kongres seni budaya dan peradaban Aceh.[]
Oleh Thayeb Loh Angen, Inisiator Lembaga Budaya Saman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar