Senin, 14 Mei 2012

Sukhoi Superjet Sempat Memutari Gunung Salak


foto
Heli Super Puma milik TNI AU mengangkat kantong jenazah korban pesawat Sukhoi Superjet 100 dari Puncak Salak 1, Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/5). ANTARA/Dhoni Setiawan

Sukhoi Superjet Sempat Memutari Gunung Salak

TEMPO.COJakarta- Penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 masih menjadi misteri. Namun, data yand diungkap laporan utama majalah Tempo edisi 14 Mei 2012 menunjukkan sebelum pesawat menabrak lereng Gunung Salak ternyata Sukhoi sempat memutari Gunung Salak sekali.

Data itu terlihat dalam peta jalur yang dianalisis oleh tim penyelamat beberapa jam setelah pesawat dinyatakan hilang. Arah pesawat dari Halim Perdanakusuma menuju selatan ke arah Pelabuhan Ratu, Sukabumi.

Menurut Mulya Lubis, Deputi Senior General Manager Air Traffic Control Soekarno-Hatta, di atas kawasan bandara Atang Sanjaya, Bogor, pilot Sukhoi minta izin menurunkan ketinggian dari 10.000 kaki menjadi 6.000 kaki.

"Kami izinkan menambah ketinggian karena wilayah udara itu aman," kata Mulya Budi, Deputi Senior General Manager Air Traffic Control Soekarno-Hatta. Di kawasan itu pula pilot meminta izin melakukan orbit (memutar ke kanan).

Menurut laporan utama Tempo yang berjudul"Sebelum Menembus Kumulonimbus", terungkap  peta yang dianalisis tim penyelamat. Dari pete itu diduga pesawat dari Atang Sanjaya terbang ke arah Tenggara, terbangdi antara Gunung Salak dan Gunung Gede. Pesawat lalu memutar ke kanan dan memutari Gunung Salak lalu ke kanan lagi ke arah Jakarta. Setelah satu putaran, entah mengapa pesawat Sukhoi ini memutari lagi Gunung Salak. Ada kesaksian warga Tenjolaya, Bogor, melihat pesawat terbang rendah. "Itu pertama kalinya di atas kampung kami ada pesawat terbang rendah," kata seorang warga.

Saksi mata warga  Cidahu, Sukabumi, mengatakan melihat pesawat terbang rendah sambil memainkan sayapnya. Pesawat yang menuju gunung kemudian menghilang ke dalam awan.

Belakangan, diketahui pesawat hilang dari radar. ATC memasukkan Sukhoi ke status incerfa, sebuah keadaan di mana pesawat tidak bisa dikontak tapi belum diduga mengalami kecelakaan. Kontak terakhir ada di koordinat 6.43.08 Lintang Selatan dan 106.43.15 Bujur Timur. Pesawat itu ada di ketinggian: 6.200 kaki (1.890 meter).

Sunaryo, konsultan PT Trimarga Rekatama, perusahaan rekanan Sukhoi di Indonesia, memastikan pengecekan peta dan kontur jalur sudah dilakukan pilot sebelum terbang. Ketinggian Gunung Salak dan peringatan cuaca buruk sudah dihitung Yablonstev saat masih di Halim. Dengan bobot terbang 45 ton, pesawat ini didesain masih bisa dikendalikan dalam cuaca buruk.

BAGJA HIDAYAT | PRAMONO | AYU CIPTA | ANGGA SUKMA | RINA WIDIASTUTI |ANWAR SISWADI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar