Sabtu, 26 Mei 2012

Kemendag: Tata Niaga Bawang Merah Akan Dibenahi


A A A
Ekonomi - Hari ini Pkl. 00:15 WIB
Kemendag: Tata Niaga Bawang Merah Akan Dibenahi
(Ant/Zabur Karuru/Koz/mes). Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan (kiri) berdialog dengan pemetik bawang merah saat meninjau proses pengeringan bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, Jumat (25/5). 
Kementerian Perdagangan akan membenahi tata niaga komoditi bawang merah agar menguntungkan semua pihak baik petani maupun konsumen.
Jakarta, (Analisa). Kementerian Perdagangan (Kemendag) Jumat (25/5) meninjau secara langsung perkembangan harga dan produksi bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan menyatakan akan membenahi tata niaga untuk komoditas tersebut.
"Disparitas harga di tingkat produsen dan konsumen terlihat tinggi. Kami sangat ingin mengupayakan agar disparitas ini mengecil dan harga bawang dapat stabil di tingkat harga yang menguntungkan petani dan tidak memberatkan konsumen," kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. 

Oleh karena itu, tata niaga bawang merah harus menguntungkan semua pihak, baik petani maupun konsumen, kata Mendag dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat. 

Saat ini, lanjut Gita, harga bawang merah cenderung meningkat seiring belum masuknya masa panen raya. Panen raya jatuh pada Juni hingga September, sedangkan pada periode Maret-Mei biasanya produksi bawang mengalami titik terendah. 

Berdasarkan data Paguyuban Petani Agropolitan, harga bawang merah di tingkat produsen di Brebes, Jawa Tengah, pada 24 Mei 2012, tercatat Rp9.500/kg, sedangkan harga rata-rata di pasar tradisional Brebes Rp11.000/kg. 

Sementara itu, harga bawang merah secara nasional di tingkat eceran pada minggu ke-4 Mei 2012, berdasarkan data dari Badan Pusat Statisik (BPS) mencapai Rp18.690/kg. 

"Dalam membenahi tata niaga bawang merah, pemerintah akan mengusahakan agar produksi tidak terlalu terkonsentrasi pada bulan tertentu," kata Gita. Selain itu pengembangan budidaya bawang merah akan disesuaikan dengan wilayah yang memiliki potensi, sehingga tidak terkonsentrasi di satu daerah saja. 

Menurut Gita, pemerataan produksi bawang merah dan waktu panennya akan menyeimbangkan "supply dan demand" yang menciptakan harga yang wajar baik di tingkat petani maupun konsumen. 

"Selanjutnya, efisiensi biaya produksi bawang merah, khususnya di Kabupaten Brebes, akan ditingkatkan, sehingga di satu sisi budidaya bawang merah dapat menguntungkan petani, namun di lain sisi harga di tingkat eceran tidak terlalu tinggi," kata Gita. 

Proses produksi yang efisien, akan meningkatkan daya saing bawang merah lokal terhadap bawang merah impor. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo menambahkan bahwa pemerintah akan mengatur agar masa impor bawang merah tidak tumpang tindih dengan masa panen raya. 

"Kami akan mengusahakan agar impor dilakukan pada saat tingkat produksi bawang merah dalam negeri mengalami defisit, sehingga harga tetap stabil dan kebutuhan konsumen tetap dapat dipenuhi," kata Gunaryo. 

Menurut Gunaryo, pengolahan bawang merah sangat penting untuk dilakukan guna meningkatkan nilai tambah, mencegah jatuhnya harga pada masa panen serta memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah dengan harga terjangkau karena bawang merah dibuat lebih tahan lama. 

Sebagai informasi, Brebes merupakan sentra produksi bawang merah yang sangat penting jika dilihat dari kontribusinya terhadap produksi bawang merah nasional. 

Pada 2010, produksi bawang merah Kabupaten Brebes tercatat sebesar 400.501 ton, dengan kontribusi sebesar 79,09 persen terhadap total produksi bawang merah di seluruh wilayah Jawa Tengah, yaitu 506.357 ton atau 38,18 persen terhadap produksi bawang merah nasional 1.048.934 ton. (Ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar