Kamis, 24 Mei 2012

Harga Bawang Anjlok, Petani Desak Impor Dilarang


foto
Bawang merah. TEMPO/Prima Mulia

Harga Bawang Anjlok, Petani Desak Impor Dilarang

TEMPO.COJakarta - Kalangan petani mendesak agar impor bawang merah tidak perlu lagi dilakukan. Mudahnya bawang impor masuk dari India, Vietnam, Filipina, dan Cina ini dinilai telah merusak harga bawang lokal hingga 50 persen dari semula.

Sekretaris Jenderal Dewan Bawang Merah Indonesia (DBMI), Juwari, menjelaskan per Mei tahun lalu harga bawang merah lokal turun drastis dari harga Rp 9.000 menjadi Rp 2.215 per kilogram. Akibatnya, banyak petani yang tidak mampu membayar pinjaman modalnya ke bank untuk biaya produksi.

Saat ini harga bawang lokal khususnya di Brebes Rp 3.500, sedangkan Rp 1.700 untuk bawang impor. "Bawang impor masuk ke Brebes dan dikemas seolah bawang lokal, lalu dipasarkan ke kota-kota di luar Jawa," ujar Juwari saat rapat dengar pendapat dengan Komisi Perdagangan Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 24 Januari 2012.

Masifnya bawang merah impor ini juga tecermin dari catatan Kementerian Perdagangan. Tahun lalu bawang merah yang diimpor mencapai 153 ribu ton, atau melonjak tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Karena tidak puas dengan pertemuan yang digagas bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Bea dan Cukai, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan, Asosiasi hari ini mengadu ke DPR.

Kebutuhan bawang nasional mencapai 160,8 ribu ton per tahun, sementara produksi bawang nasional mencapai 800 ribu ton per tahun. Kebutuhan ini dihitung dari konsumsi bawang merah tiap orang sebanyak 0,67 kilogram per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia 240 juta jiwa, seharusnya produksi bawang sudah surplus.

Tahun lalu produksi bawang merah nasional sebanyak 800 ribu ton dan diperkirakan stabil tahun ini. Daerah produsen bawang tersebar dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Lahan riil terdapat di Kabupaten Sampang, Sumenep, Probolinggo, Magetan, Nganjuk, Demak, Grobogan, Kendal, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi VI DPR, Aria Bima, meminta pemerintah segera menghentikan impor bawang merah ketika panen raya saat ini. Kalaupun harga bawang merah lokal lebih mahal ketimbang impor, hal itu dapat dimaklumi karena secara teknologi produksi nasional kalah dibanding negara lain seperti Thailand, Cina, dan India.

Meskipun bawang merah termasuk barang yang bebas ekspor dan impor, menurut dia, proteksi bisa dilakukan. “Kalau tahu kalkulasinya, Menteri Pertanian tahu kapan harus minta dukungan proteksi berupa impor bawang merah, sehingga barang impor tidak masuk bersamaan dengan saat panen raya.”

AYU PRIMA SANDI | UKKY PRIMARTANTYO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar