Sabtu, 26 Mei 2012

Karakter di Pendidikan Kita


Opini - Hari ini Pkl. 00:04 WIB
Oleh : Nasib Tua Lumban Gaol. Karakter masyarakat Indonesia (Bangsa) saat ini boleh disimpulkan sudah mengalami kemerosotan yang membahayakan. Dan dengan kondisi yang demikian ini, kehancuran Negara pun semakin di depan mata, ibarat telur diujung tanduk, tinggal menantikan detik-detik kejatuhan telur tersebut. Apakah kita mengingini hal ini terjadi?
Saya tidak sedang menakut-nakuti, tetapi berbagai peristiwa kriminal yang terjadi saat ini menjadi bukti bahwa Negara kita sekarang sedang terancam bahaya-degredasi karakter. Karakter penduduk Indonesia yang membangun menuju kemajuan sudah sulit ditemukan. Tetapi karakter kriminalitas begitu subur berkembang, seperti pemberitaan dari media cetak maupun elektronik–dari berbagai kasus yang terjadi. 

Semisalnya saja kasus korupsi yang terjadi saat ini. Setiap hari, kita pasti disajikan dengan permasalahan korupsi yang kejelasannya begitu sulit ditemukan. Seperti kasus Bank Century, Wisma Atlet, dan berbagai kasus lainnya, yang tidak kunjung tuntas. Sebenarnya, masalah korupsi ini bisa diselesaikan apabila para pemimpin negeri ini, terlebih para penegak hukum memiliki karakter yang baik, tidak sebagaimana yang ada sekarang. 

Selain itu, ada lagi tindakan kriminalitas, seperti pencurian, pembunuhan, perampokan, pengeboman, dan lain sebagainya yang tidak kunjung tuntas. Aparatur penegak hukum pun seolah nyaman dengan kondisi melarat yang dialami oleh rakyat kecil.

Sebenarnya, hemat penulis, pemimpin kita saat ini sudah kehilangan hati nurani. Yang mana mereka memperkaya diri sendiri, tanpa peduli dengan rakyat yang dipimpinnya. Dan memang, kondisi yang demikian inilah yang terus berlarut-larut, sehingga menyebabkan masyarakat pun bagaikan anak ayam yang ditinggalkan oleh induknya –hidup tidak lagi mendapatkan perlindungan. Jadi, karena hilangnya perlindungan kepada masyarakat, maka tidak jarang pula berbagai tindakan kriminallitas dilakukan oleh masyarakat. 

Timbulnya berbagai tindakan kriminalitas yang sedang dipertontonkan sebagian penduduk negeri ini, terutama para pemimpin adalah karena adanya pengalpaan akan pengkarakteran pribadi (menjadikan peserta didik yang berkarakter) dari pelaksanaan pendidikan kita. Yaitu, sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Sisdiknas tahun 2003 Bab I pasal (1), mengembangkan potensi diri individu untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, mampu mengendalikan diri, berkepribadian, cerdas, berakhlak mulia, serta berketerampilan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Akibatnya, pendidikan kita hanya mengarahkan manusia untuk memiliki segudang ilmu pengetahuan tanpa memahami makna pentingnya melakukan kebaikan dan kebenaran. Dan, tidak jarang pula orang yang memaksakan segala cara hanya untuk dapat memenuhi kepuasan dirinya sendiri, tanpa peduli dengan orang lain. Meskipun usaha yang dilakukan itu sebenarnya merugikan dirinya sendiri dan orang lain, bahkan Negara ini sendiri. Inilah kondisi parah penduduk tanah air ibu pertiwi ini akibat bobroknya moral warga Negara kita.

Mengetahui kegagalan pendidikan kita dalam upaya menghasilkan manusia yang cerdas dan berhati nurani ini, maka sudah saatnya kita mencari obat yang mujarab untuk mengatasinya. Karena jika tidak, cepat atau lambat Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI) ini hanya akan tinggal menyisahkan kenangan pahit–bubar atau terpecah belah, tinggal sejarah. Itulah memang resiko yang dihadapi oleh Negara apabila Negara tersebut mengabaikan bidang pendidikan.

Pendidikan adalah alat vital yang menentukan kemajuan suatu Negara. Oleh karena itu, apabila suatu negara gagal dalam membenahi pendidikannya, tentu Negara tersebut akan mengalami kegagalan dalam mensejahterakan warga negaranya. Demikian juga sebaliknya apabila Negara tersebut berhasil membenahi pendidikannya, tentu Negara itu akan berhasil dalam mensejahterakan warga negaranya. Jadi, obat mujarab untuk memperbaiki kemerosotan karakter bangsa ini adalah melalui pelaksanaan pendidikan kita.

Kartini(dalam Koesoema, 2010:45) mengatakan bahwa, "sebuah bangsa akan memiliki karakter kalau penduduknya tidak tinggal selamanya dalam kegelapan pengetahuan, melainkan hidup dalam terangnya pemikiran dari akal budi manusia yang terbukti telah membawa bangsa-bangsa lain mengenyam kemajuan." Pendidikan begitu berperan besar menerangi kegelapan pengetahuan umat manusia karena dari pendidikanlah umat manusia semakin menyadari siapa sebenarnya dirinya, dan dari pendidikan pula sebenarnya karakter manusia terbentuk.

Oleh karena itu, cara yang paling tepat untuk, memperbaiki karakter penduduk negeri ini, yang dilakukan pemerintah selaku pengambil kebijakan adalah melaksanakan pendidikan secara berkarakter. Hemat penulis kita tidak perlu lagi menghilangkan esensi pendidikan yang telah tertuang dalam Undang Undang Sisdiknas tahun 2003 dengan mengatakan pendidikan karakter. Karena karakter itu sebenarnya haruslah diperbaiki dan dibentuk melalui ketiga jalur pendidikan yang ada–baik di pendidikan formal, in formal, dan non formal. Penyebutan pendidikan karakter sebenarnya hanya mengacaukan makna pendidikan kita. Bukankah dalam proses pendidikan itu karakter seseorang itu dibentuk (diperbaiki)? Oleh karena itu, dengan adanya pernyataan "Urgensi Pendidikan Karakter" sebenarnya membuat esensi pendidikan itu kehilangan roh untuk memanusiakan manusia. Manusia yang bebas dari kebodohan, penindasan, dan karakter yang buruk.

Dengan demikian, masalah kemerosotan karakter bangsa ini adalah masalah pendidikan. Karena itu, pemerintah haruslah sesegera mungkin merumuskan kembali kurikulum pendidikan nasional yang berbasis karakter. 

Dengan harapan supaya masalah yang timbul, seperti orang pintar mengkorupsikan uang rakyat atau melakukan tindakan kriminal lainnya tidak terus berulang-ulang terjadi. Atau rakyat kecil pun menjadi ikut-ikutan melakukan tindakan kriminal karena teladan buruk para pemimpin yang mengenyam pendidikan tinggi–tanpa karakter.***

Penulis adalah Alumnus Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Medan. Sebagai Tenaga Pendidik di Sekolah Pembangunan Nasional Medan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar