Rabu, 16 Mei 2012

Sukhoi Keluar Jalur Tanpa Izin Menara Kontrol?


foto
tur ke asia sukhoi superjet 100 jatuh di indonesia

Sukhoi Keluar Jalur Tanpa Izin Menara Kontrol?

TEMPO.CO Jakarta:Pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta menduga pesawat Sukhoi Superjet 100 keluar jalur area joy flight di atas Landasan Udara Atang Sanjaya, Bogor. Deputi Senior General Manager PT Angkasa Pura II Mulya Abdi mengatakan, dari pantauan menara, pesawat Sukhoi sempat melakukan orbit (memutar) satu kali di area Atang Sanjaya lalu keluar jalur dan kemudian hilang kontak.

Mulya menuturkan, pesawat Sukhoi melakukan orbit lalu kemudian keluar dari jalur penerbangan di Atang Sanjaya dengan tidak meminta izin. "Pertanyaannya, mengapa dia keluar? Perintahnya belum sampai untuk keluar melakukan orbit,"� kata Mulya di kantornya, kemarin. "�Menjadi kewajiban bagi pilot untuk meminta persetujuan ATC jika ingin meninggalkan area."

Menurut Mulya, pesawat Sukhoi melakukan kontak dengan ATC saat di ketinggian 10 ribu kaki. Kemudian, ATC mengarahkan ke area Landasan Udara Atang Sanjaya. Saat di atas Atang Sanjaya, pilot Sukhoi meminta untuk turun dari 10 kaki menjadi 6.000 kaki. �ATC membolehkannya karena dinilai aman,� ujarnya.

Setelah minta turun ke 6000 kaki, pilot meminta izin kepada ATC untuk melakukan orbit. Posisi saat itu masih di Atang Sanjaya yang berjarak sekitar 7 mil dari Gunung Salak. Pihak ATC menilai aman untuk melakukan putaran. Namun, menurut Mulya, pesawat Sukhoi sudah keluar jalur joy flight di Atang Sanjaya tanpa meminta izin ATC.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 melakukan joy flight (demo terbang) dari Bandar Udara Halim Perdanakusuma menuju Pelabuhan Ratu pada Rabu lalu. Namun saat menuju Pelabuhan Ratu, pesawat yang baru diproduksi pada 2011 ini putus kontak dan mengalami kecelakaan di Gunung Salak Bogor.

Mulya enggan menyalahkan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas insiden itu. Menurut dia, semuanya akan terungkap dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi. "�Tunggu saja hasil KNKT. Semua data ATC sudah kami serahkan,"� ujarnya.

Di tempat terpisah, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menyatakan adanya gumpalan awan di sekitar Gunung Salak saat pesawat Sukhoi melintas. Menurut Deputi Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN Thomas Djamaluddin, kesimpulan ini berdasarkan pada analisa data yang dilakukan LAPAN serta Badan Meteorologi dan Geofisika. "�Menurut analisis LAPAN, itu awan cummolonimbus. Tapi menurut BMKG itu awan biasa saja," kata Thomas.

Menurut dia, awan cummolonimbus terdeteksi berada di sekitar Gunung Salak antara pukul 14.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB atau saat pesawat Sukhoi hilang kontak dengan menara pemantau. Awan cummolonimbus merupakan awan guruh yang berbentuk gumpalan.

Meski LAPAN dan BMKG sepakat bahwa ada awan menggumpal saat Sukhoi nahas melintas, Thomas belum dapat memastikan penyebab jatuhnya Sukhoi adalah karena gumpalan awan tersebut. "Apakah awan itu membahayakan dan mempengaruhi pilot untuk menurunkan ketinggian, itu yang belum jelas betul dan belum diketahui," katanya. "Ini yang perlu dikroscek lewat data penerbangan."

AFRILIA S | PRIHANDOKO | BERNADETTE C | SUKMA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar