Senin, 07 Mei 2012

Sekolah Agama Kurang Perhatian


Radar Bogor
Senin, 07 Mei 2012 , 11:34:00
 
PRIHATIN: Acep memperlihatkan atap kelas yang rusak, kemarin. Saeful/ Radar Bogor
RUMPIN–Di tengah upaya membangun kualitas pendidikan, sekolah agama yang dikelola swasta dinilai kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
Salah satunya, Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Baqiyatush Shalihat di bawah naungan Yayasan Al-Baqiyatush Shalihat.

Pengurus Yayasan Al-Baqiyatush Shalihat, Acep Muhib mengatakan, sejak 1985 sekolah yang berdiri di RT 05/02, Kampung Liwu, Desa Kampungsawah tersebut baru satu kali mendapat bantuan berupa imbal swadaya untuk rehab ringan sebesar Rp30 juta.

“Bantuan terakhir sekitar tahun 2005. Setelah itu, belum ada lagi,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Saat ini, kata dia, semua ruang yang terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang kantor, 1 ruang perpustakaan dan 2 ruang toilet rusak cukup parah pada bagian atap dan lantai.

Sekolah juga mengalami kekurangan meubeler dan fasilitas pendukung untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Kondisi ini membuat sekolah agama satu-satunya di wilayah Rumpin ini menjadi kurang diminati.

Menurut dia, saat ini jumlah siswa Mts hanya 59 siswa terdiri dari 3 rombel untuk kelas kecil. Sementara, jumlah siswa MA hanya 30 siswa.

Padahal, di era 90-an hingga 2000, jumlah siswa yang masuk ke sekolah tersebut bisa mencapai tiga rombel untuk tiap angkatan. Madrasah tersebut juga mendapat predikat cukup baik dalam berbagai kegiatan lom­ba dari mulai kemah kreatif, lomba baris-berbaris serta berbagai ke­giatan lainnya. “Jumlah siswa kita merosot, salah satu sebab mung­kin karena kondisi bangunan yang kurang representatif,” katanya.

Yayasan yang dipimpin Munawar Mansyur itu, lanjut dia, bisa saja mengajukan perubahan status sekolah dari Mts menjadi SMP dari MA menjadi SMA atau SMK, seperti yang marak terjadi karena dampak dari minimnya perhatian pemerintah.

Namun, pria yang juga menjabat Kepala Departemen of Agribussines Faculty of Science and Technology, UIN Syarifhidayatullah Jakarta tersebut mengatakan, Mts dan MA sebagai lembaga pendidikan, justru menjadi kebutuhan sebagai benteng akidah dan akhlak di tengah arus modernitas dewasa ini. “Kita akan terus bertahan sesuai dengan khitah (tujuan awal) pembangunan sekolah ini,” ujarnya.

Ia berharap, Pemkab Bogor meningkatkan perhatian terhadap madrasah. Sekolah juga harus dipandang sebagai lembaga untuk mencerdaskan siswa dan membangun akhlak siswa, bukan tempat untuk mencetak tenaga kerja.

Wakil Kepala Mts, Mustopa menambahkan, kondisi ruang kelas yang kurang baik, membuat siswa dan guru kehilangan gairah pada kegiatan KBM. “Suasana kelas menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan KBM. Dengan kondisi sekarang, gairah belajar berkurang,” tuturnya. (ful)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar