Senin, 21 Mei 2012

Petani Bawang Impor Terancam Gulung Tikar


foto
TEMPO/Prima Mulia

Petani Bawang Impor Terancam Gulung Tikar  

TEMPO.COBrebes - Pemerintah Kabupaten Brebes akan merazia gudang pedagang yang sengaja menjual bawang merah impor saat musim panen raya. Sikap tegas ini terkait dengan peraturan Bupati Brebes Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pengendalian Bawang yang beredar di Brebes.

“Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) segera menutup usaha pedagang yang terbukti memasukkan bawang impor di gudang mereka,” kata Kepala Seksi Pemasaran Hasil, Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, Sodikin, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 21 Mei 2012.

Sikap tegas itu berlaku saat musim panen raya selama Juli, November, dan Desember pada tahun ini dengan hasil panen melimpah dari bulan lainnya. Sodikin telah menyiapkan satuan tugas yang siap merazia gudang milik saudagar bawang merah di Brebes saat panen.

Menurut Sodikin, saat ini harga jual bawang merah cenderung stabil dengan nilai jual dari petani antara Rp 7.000-9.000 per kilogram. Dengan begitu, ia berharap, saat panen raya pada Juli nanti masih stabil, sehingga petani terus mendapat untung.

Panen raya saat Juli, November, dan Oktober sepanjang tahun lalu mampu menghasilkan 142.114 ton. Jumlah ini tertinggi dari nilai kumulatif pada bulan-bulan lainnya. Sedangkan luasan lahan bawang merah di Brebes sekitar 25-30 ribu hektare.

Ketua Kelompok Tani Sumber Panggan Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Muhamad Subkhan, sepakat dengan sikap pemerintah daerah. Menurut dia, sikap tegas ini sesuai dengan keinginan petani yang memimpikan kesejahteraan dari bawang merah.

Ia mengaku harga jual bawang merah yang mencapai Rp 9.000 per kilogram saat ini menggembirakan bagi semua rakyat Brebes. Kondisi ini menjadi harapan generasi muda Brebes yang mengandalkan hasil penjualan bawang merah untuk biaya pendidikan mereka.

Subkhan menjelaskan keberadaan importir sering mengacaukan harga hasil panen di pasaran. Padahal keberadaan bawang merah brebes menjadi nadi ekonomi rakyat daerah secara umum. "Ketika harga bawang anjlok, sektor usaha lain ikut sepi,” katanya.

EDI FAISOL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar