Sabtu, 19 Mei 2012

Parasut Diteliti, Kecelakaan Sukhoi Janggal


Parasut Diteliti, Kecelakaan Sukhoi Janggal 
Jumat, 18/05/2012 | 11:09 WIB
ANTARA/Jafkhairi
ANGGOTA Kopassus mengangkat jenazah pilot pesawat Sukhoi Super Jet 100 Aleksandr Yablontsev di Curug Nangka, Tamansari, Bogor, Jabar, Sabtu (12/5). Jenazah ditemukan di kedalaman 500 meter di bawah pu
JAKARTA-Simpang siur, ada tidaknya parasut di Sukhoi Superjet 100 yang  menabrak Gunung Salak, Bogor pekan lalu mulai terkuak. Benda menyerupai parasut itu diserahkan Kopassus kepada Danrem 061 Surya Kencana Kolonel Infantri Anton Mukti Putranto selaku pengendali operasi Tim SAR Gabungan. Parasut hanya satu kejanggalan, banyak hal-hal tak sesuai standar yang diduga memicu kecelakaan Sukhoi.
Parasut yang ditemukan sudah dalam kondisi setengah terbakar itu berwarna oranye. Sekilas ukurannya seperti parasut standar. Terlihat bahwa benda yang ditemukan 100 meter dari badan pesawat tersebut selain memiliki warna oranye sebagai warna dasar, berwarna putih di bagian dalamnya. Di beberapa bagian tampak gosong akibat terbakar. Pada parasut itu, terdapat tali-tali, kanopi, dan harnest.
Pada Kamis (17/5) malam tadi, pihak Komando Pasukan Khusus (Kopassus) menyerahkan parasut terjung payung itu. Parasut itu diserahkan kepada Danrem. Penyerahan dilakukan di Posko Kopassus di Pasir Pogor, Bogor, Jawa Barat pukul 19.45.
Mayor Achmad Munir, staf Penerangan Kopassus mengatakan penyerahan parasut berwarna oranye kombinasi putih itu sebagai penegasan bahwa memang benar anggota Kopassus menemukannya. Parasut tersebut ditemukan oleh anggota Kopassus saat melakukan penyisiran untuk mencari korban pesawat Sukhoi SuperJet 100 di lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
"Parasut itu ditemukan Kopassus di tengah hutan. Kita serahkan ke Danrem biar nanti diteruskan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sebagai bukti bahwa memang benar kita menemukan parasut itu," terang Munir.
Sebelumnya, 7 personel Kopassus yang berhasil menuruni tebing curam dalam proses membuka jalur dan evakuasi, menemukan jasad seorang pria berkewarganegaraan asing yang tergantung dengan parasut di pohon. Kepala RS Polri Brigjen Agus Prayitno kemudian menegaskan tidak ada penumpang yang memakai parasut.
Kemudian pihak KNKT Rusia dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusumah mengatakan memang benar ada parasut dalam pesawat Sukhoi nahas itu. Parasut itu merupakan bagian dari survival kit yang ada dalam kontainer di pesawat. Nah, ketika pesawat menabrak tebing gunung dan pecah berkeping-keping, kontainer survival kit terbuka dan isinya berhamburan, termasuk parasut tersebut.
"Berkaitan dengan parasut yang ditemukan itu berada dalam boks suatu kontainer dalam pesawat yang digunakan jika pesawat harus mendarat secara darurat," ujar anggota KNKT Rusia, Sergey Korostiev.
Janggal
Ada sejumlah kejanggalan dari peristiwa jatuhnya Sukhoi Superjet 100 Rusia yang jatuh di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pekan lalu. Berikut sejumlah kejanggalan dari Sukhoi Rusia.
Terkait Sinyal Pemancar Lokasi Bahaya (Emergency Located Transmitter/ELT) misalnya, ELT Sukhoi Superjet tak menyala kala menabrak tebing. Seharusnya ELT akan menyala saat pesawat berbenturan dengan benda keras atau menerjang air.
Lebih anehnya, frekuensi ELT milik Sukhoi belum dilaporkan ke pengelola sinyal ELT seperti Badan SAR Nasional dan penangkap sinyal di Australia dan Singapura. ELT Sukhoi yang ditemukan ternyata berbeda frekuensi. ELT Sukhoi menggunakan frekuensi 121.5,203 Mhz, sedangkan alat penangkap frekuensi Indonesia berada pada 121.5,406 Mhz, seperti pesawat Boeing.
Tak hanya itu, sebenarnya rute penerbangan kedua Sukhoi dijadwalkan dari rute Halim menuju Pelabuhan Ratu. Rute tersebut normal dilakukan dan termasuk daerah aman.
Pihak ATC memperbolehkan pilot turun ke 6.000 kaki. Namun setelah melakukan sekali putaran 360 derajat, pesawat keluar dari Atang Sanjaya dan hilang kontak. Dalam peraturan penerbangan, pilot harus izin ke ATC bila keluar dari fligt plan.ins

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar