Minggu, 20 Mei 2012

Libatkan Anak SD, agar Batik Salem Tak Punah


SUARA PANTURA
20 Mei 2012
Libatkan Anak SD, agar Batik Salem Tak Punah
 
 
  
Batik semakin booming sejak UNESCO menetapkan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia. Sama halnya dengan sentra batik lainnya, pembatik di Kecamatan Salem, Brebes memperkenalkan batik sedini mungkin kepada anak-anak. Merekalah sebenarnya penentu nasib perbatikan Salem sekaligus penerus warisan budaya Indonesia.


SETENGAH berlari, sejumlah siswa berseragam pramuka menuju rumah sederhana yang hanya berjarak lebih kurang 100 meter dari sekolah mereka, SDN Bentar 01, Kecamatan Salem, Brebes. Di sana telah menunggu peralatan membatik seperti kain mori, canting, dan malam.

Dalam sekejap, dua di antara mereka, yakni Tika (9) dan Diah (9), sudah larut bersama ibu-ibu pembatik lainnya. Ya, keduanya memang memanfaatkan waktu istirahat sekolah untuk ikut membatik.

Adapun tempat mereka membatik merupakan rumah produksi ”Mitra Batik” milik pengusaha setempat, Warwin Sunardi. Meski rata-rata masih duduk di bangku SD mereka lincah memegang canting, tangannya menari-nari menggoreskan malam panas di atas kain.

Warwin Sunardi menyatakan tradisi membatik memang sudah dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Hal ini bertujuan agar mereka bisa melestarikan batik sebagai warisan leluhur.

ìKami sadar tidak mungkin selamanya akan menjaga warisan leluhur dan budaya bangsa ini. Merekalah sebenarnya pewaris dan penerus budaya bangsa ini,î ujarnya.

Anak-anak itu, lanjut Warwin, diajarkan mulai dari cara menggunakan canting hingga membuat pola. ”Pokoknya yang mudah-mudah dulu.”

Menurutnya, aktivitas anak-anak membatik lebih sering dilakukan siang hari setelah pulang sekolah antara pukul 13.00-15.00. Setelah itu aktivitas anak-anak dilanjutkan dengan menimba ilmu di Madrasah.

”Malamnya belajar. Sekolah tetap diutamakan,” kata dia.

Salurkan Kreativitas

Warwin menyatakan, pengenalan batik sejak dini tidak hanya sekadar melestarikan batik. Lebih dari itu, anak-anak juga lebih tersalurkan kreativitasnya dari pada menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau main playstation.

ìKalau yang sudah pandai, biasanya ikut membantu membatik. Dengan begitu mereka bisa punya uang jajan sendiri,î kata dia.

Menggantungkan nasib batik pada generasi muda memang bukan sesuatu yang muluk. Namun tak adil pula jika kelak mereka dipaksa untuk menjadi pembatik. Hal ini disadari betul oleh Warwin.

”Bagi kami yang penting mereka mengenal batik sebagai warisan leluhur,” kata Warwin yang memiliki keinginan mendirikan sanggar batik.  

Ya, lazimnya anak-anak mereka memiliki cita-cita tersendiri meski diantara mereka ada yang terang-terangan ingin menjadi pengusaha batik sukses.

ìSaya ingin menjadi pengusaha batik sukses sehingga bisa mengenalkan batik Salem kepada dunia,î kata Tika.

Diah menyatakan ingin menjadi guru. Ada pula yang ingin menjadi artis seperti yang diucapkan Sofi.

”Nanti kalau tampil di panggung pakai batik buatan Ibu Tika,”  celotehnya sambil melirik Tika.

Camat Salem HM Adnan SIP mengapresiasi upaya pembatik dalam mempertahankan dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya.

Menurut Camat, selain dengan cara memperkenalkan  batik sedini mungkin, para pembatik juga tetap menjalin silaturahmi sehingga tidak ada jarak pemisah antara generasi muda dan tua.

”Ini yang akan membuat tradisi membatik tetap lestari,” katanya. (Teguh Inpras-48)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar