Senin, 14 Mei 2012

Kisah Dibalik Evakuasi Korban Sukhoi


Kisah Dibalik Evakuasi Korban Sukhoi
JAKARTA (EKSPOSnews): Dengan pakaian loreng yang lusuh dan wajah terlihat lelah, Mayor Paskhas S Tambunan memberikan kesaksiannya kepada wartawan dalam proses evakuasi korban Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Dengan tidak mengenal lelah, pasukan khusus TNI AU itu bahu membahu dengan tim evakuasi lainnya dari berbagai kesatuan TNI termasuk Polri dan warga untuk mencari korban pesawat nahas yang mengangkut 45 penumpang tersebut.

"Saya bersama pasukan berangkat dari Bandung dan sampai di Puncak dua Gunung Salak pada Kamis (10/5) pagi," katanya.

Sesampainya di Puncak dua itu, ia mengakui jika timnya menemukan rombongan relawan lainnya yang akan turun kembali dengan alasan peralatan yang belum lengkap untuk menuruni dasar jurang.

Jumlah personel yang ikut dalam proses pencarian itu, sebanyak 14 orang. Kemudian dirinya memutuskan untuk memecah pasukannya guna mencapai lokasi atau titik pesawat jatuh yang berada di bawah puncak satu gunung tersebut yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Salak dan Halimun itu.

Ditambahkan, Kopral Musidi bersama anggota Paskhas itupun turun ke kaki Puncak satu hingga pada pukul 10.20 WIB pada hari yang sama, sampai ke dasar jurang setelah 1,5 jam menyusuri sungai. "Sesampainya di lokasi, kita pun melakukan observasi," katanya.

Setelah menelusuri lokasi musibah itu, timnya menemukan tiga jenazah, yakni satu jenazah ditemukan di sungai dan dua sisanya ditemukan di "air frame" (rangka pesawat).

"Satu jenazah itu diduga awak pesawat karena melihat dari pakaiannya berwarna biru dan kulit putih," tambahnya.

Satu jenazah itu, kondisinya sudah memprihatinkan karena cairan tubuhnya sudah mencair terus menerus hingga tubuhnya menyusut dan tidak menunjukkan orang Rusia yang bertubuh tinggi besar.

Sedangkan dua korban lagi dalam keadaan tidak utuh dan terlihat terbakar. "Selanjutnya kami menyerahkan ke Basarnas," katanya.

Selain itu, pasukannya menemukan kondisi seluruh landing gear dalam keadaan lengkap, sayap lengkap. "Sedangkan body pesawat kemungkinan tertimbun longsoran tanah setinggi 40 meter atau kira-kira 10 meter kubik tanahnya dari permukaan tanah," katanya.

S Tambunan baru turun ke posko pada Minggu (13/5) setelah empat hari berada di lokasi musibah tersebut demi menolong korban musibah Sukhoi.

Memasukkan korban ke kantong Demikian pula kisah anggota Mapala UI, Ridwan Hakim yang menemukan korban pesawat yang sudah tidak utuh itu di tebing yang ditabrak pesawat Sukhoi Superjet 100 itu.

"Kita menemukan tubuh korban itu di bawah tebing sekitar 10 meter dari atas punggungan pada Kamis (10/5) pukul 10.15 WIB Setelah melakukan 'rappeling'," katanya yang ikut evakuasi itu bersama dua anggota Mapala UI lainnya.

Lokasi temuan itu antara Puncak satu dan Puncak dua di ketinggian 2.005 Meter di atas permukaan laut (Mdpl). "Kami memperkirakan dasar jurang itu berjarak antara 400 sampai 500 meter dari lokasi temuan itu," katanya.

Setelah menemukan tubuh yang tidak utuh itu, dirinya bersama tim evakuasi dari marinir memasukkannya keempat kantong jenazah.

Ia memperkirakan korban yang ditemukan itu diduga satu berjenis kelamin pria dan dua berjenis kelamin wanita karena dirinya melihat dari pakaian dalamnya.

"Kita menemukan tubuh yang tidak utuh itu di dalam mirip "slab" tebing tersebut," katanya.

Selain itu, dirinya juga menemukan KTP atas nama Nur Ermawati kelahiran tahun 1987, pecahan uang 100 dolar AS, paspor atas nama Ganis Arman, laptop, kamera digital, dan iphone. "Kondisi alat elektroniknya keadaan terbakar," katanya.

Saya hanya bersama dua rekannya lainnya menuju lokasi dengan menggunakan jalur Loji.(antara)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar