Rabu, 09 Mei 2012

Kembalikan Kejayaan Toraja sebagai Tujuan Wisata Kelas Dunia

PARIWISATA
Kembalikan Kejayaan Toraja sebagai Tujuan Wisata Kelas Dunia
 

Rabu, 9 Mei 2012
Para pemangku kepentingan Toraja (PHRI, Asita dan lain-lain) sepakat untuk mengembalikan masa kejayaan Toraja sebagai daerah tujuan wisata andal dan berkelas dunia. Pasalnya, daerah wisata pegunungan yang terletak 350 km di sebelah utara Makassar itu sudah cukup lama 'tertidur' sehingga kurang diminati pengunjung, khususnya wisatawan mancanegara (wisman).
"Kami menargetkan dalam waktu dua tahun ke depan (2014) kunjungan wisatawan bisa mencapai 175 ribu orang. Ini bukan hal mustahil, mengingat Toraja pernah punya masa kejayaan sebagai daerah tujuan wisata," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Syuaib Malombassi di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman Destination Management Organization (DMO) Toraja di Makassar Golden Hotel baru-baru ini.
Penandatanganan DMO Toraja dilakukan oleh Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (PDP) Kemenparekraf Firmansyah Rahim, Wagub Provinsi Sulsel Agus Arifin Nu'mang, Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung, Wakil Bupati Toraja Utara Frederik B Rombelayuk, serta para pemangku kepentingan (stakeholder) Toraja.
Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulsel, kunjungan wisatawan dalam dua tahun terakhir berkutat pada angka 75 ribu orang. Bahkan pasca-Bom Bali 2002, kunjungan hanya 35 ribu orang. Sementara pada masa kejayaan (sebelum tahun 1998) kunjungan wisman sempat menembus angka 360 ribu orang.
Tata Kelola
Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal. Buku-buku panduan wisata selalu mencamtumkan daerah ini sebagai tujuan wisata. Tak mengherankan jika bule bule ingin melihat daerah ini secara langsung. Misalnya, rumah adat tongkonan yang terdiri dari atap bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.
Masih banyak lagi daya tarik dari Tana Toraja, seperti upacara adat rambu solo (pemakaman) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Sedangkan di Toraja Utara ada tradisi sisamba atau pesta panen yang setiap tahun digelar di Desa Kende Api, Tikala Rantepao.
Selain pemandangan alam yang menawan, wisman juga dibuat terkagum-kagum ketika menyaksikan dari dekat penyimpanan jenazah di penampungan mayat berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.
Lebih lanjut menyangkut terpuruknya Toraja, diakui oleh Frederik B Rombelayuk. Tokoh masyarakat yang kini menjabat Wakil Bupati Toraja Utara ini menjelaskan, Tana Toraja mengalami booming kunjungan sejak dicanangkan sebagai daerah tujuan wisata pada 1974. Dua dekade setelah itu, kunjungan wisman masih terus mengalir hingga pertengahan 1990-an. Pada era 1998 - 2008, kunjungan wisman anjlok.
"Pariwisata di Toraja yang sedang lesu ini karena tata kelola destinasi pariwisata yang mencakup perencanaan, koordinasi, implementasi, dan pengendalian organisasi pariwisata," kata Frederik.
Sedangkan perwakilan stakeholder Toraja menilai berkurangnya kunjungan wisman karena sekarang banyak muncul destinasi menarik, seperti Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Raja Ampat (Papua), dan Pulau Lombok. "Toraja kan mengandalkan limpahan wisman dari Bali. Sekarang banyak travel agent yang menawarkan paket-paket menarik di luar Toraja, seperti Lombok, Wakatobi, dan Raja Ampat. Ini membuat wisman mengalami penurunan," kata Nico, dari Asosiasi Pariwisata Sulsel.
Harus Mandiri
Sementara itu, Dirjen PDP Kemenparekraf Firmansyah Rahim mengatakan, Toraja merupakan satu dari 15 DMO yang tengah digarap Kemenparekraf untuk menjadi destinasi andal. Kelima belas DMO yang dimaksud ialah Sabang, Toba, Kota Tua (Jakarta), Pangandaran, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Batur, Rinjani, Flores, Tanjung Puting, Derawan, Toraja, Bunaken, Wakatobi, dan Raja Ampat.
Ia melihat masih rendahnya kesadaran masyarakat akan manfaat kegiatan pariwisata menjadi salah satu penyebab sulit berkembangnya pariwisata Toraja.
Selain itu, Pemprov Sulsel juga belum menyediakan fasilitas jalan dan transportasi memadai. Misalnya, penerbangan Makassar - Toraja yang dibiarkan jalan di tempat. . Juga belum terjadwalnya event penting di Toraja.
"Ada hal-hal yang harus ditumbuhkan melalui kesadaran masyarakat dan campur tangan pemerintah setempat. Melalui DMO ini, kita melaksanakan program pengembangan dan pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan berbasiskan proses dimulai dari perencanaan hingga operasional dan pemantauan. Dengan begitu, program ini akan berjalan terus hingga tercapai tujuan bahwa pariwisata dapat dinikmati semua lapisan," kata Firmansyah Rahim.
Meski demikian, pihaknya juga tidak memaksakan setiap DMO menaikkan jumlah wisatawan secara signifikan, karena tetap harus harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Untuk Toraja, misalnya, para pemangku kepentingan pariwisata telah mematok 175 ribu wisatawan hingga 2014 karena mengandalkan wisata alam dan budaya.
Beda halnya dengan Pulau Komodo dan Tanjung Puting yang dipatok 50 ribu setiap tahunnya. Ini mengingat pariwisata di daerah itu harus menghormati kelestarian lingkungan. Sedangkan untuk Danau Toba, pemerintah menargetkan pada 2014, jumlah wisatawan dapat mencapai 365 ribu orang karena wilayahnya cukup besar.
"Dengan DMO, stakeholder dan masyarakat Toraja bisa berkreasi untuk mendatangkan wisatawan menurut kebutuhan masing-masing. Saya yakin, jika program DMO dilaksanakan, Toraja bisa menjadi tujuan wisata yang mandiri, tidak lagi mengandalkan limpahan dari daerah lain," kata Firmansyah Rahim. (Sadono Priyo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar