Sabtu, 05 Mei 2012

Ingin Wujudkan Sepak Bola Ramah Anak

Suara Merdeka

05 Mei 2012
Gus Yusuf Mengurus Bola
Ingin Wujudkan Sepak Bola Ramah Anak
 0
 
  0
image
Birokrat dan pengusaha mengurus sepak bola di Indonesia sudah biasa. Namun kiai menjadi pemimpin puncak klub, barangkali hanya KH Muhammad Yusuf Chudlori yang melakukannya. Banyak ide segar muncul dari kiai muda ini.
SORE itu di Stadion Madya Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf berdiri di antara tamu VVIP. Dia terlihat gusar. Ribuan orang sudah memadati tribune barat dan timur. Melalui ponsel, Gus Yusuf menghubungi seseorang. Ternyata, dia menelepon bagian tiket.
Pak Kiai tengah memastikan bahwa tiket yang dijual oleh panitia sesuai daya tampung stadion. Maklum, pertandingan sore itu sangat spesial, PPSM Kartika Nusantara melawan tim nasional. Dalam sejarah, itu adalah penampilan tim nasional untuk kali pertama di Magelang. 
Karena itu, penonton membeludak, mencapai sekitar 10 ribu orang. Wajar jika Gus Yusuf sebagai orang nomor satu di jajaran manajemen PPSMKN gusar menjelang pertandingan penting.
Semenjak PPSM merger dengan PS Kartika Nusantara yang kemudian berubah nama menjadi PPSMKN, Gus Yusuf ditunjuk sebagai Chief Executive Officer (CEO) di PT Magelang Soccer Academy (MSA). MSA adalah perusahaan yang mengelola PPSMKN dalam kompetisi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).
’’Saya memang suka sepak bola. Saya terenyuh ketika melihat PPSM tak lagi mendapat kucuran dana dari APBD. Nasibnya bagaimana? Masyarakat akan kecewa jika klub ini bubar. Maka siapa lagi yang peduli kalau bukan pecinta bola,’’ ujar bapak empat anak ini. 
Dari keinginan menyelamatkan klub itulah dia bersedia ditunjuk sebagai CEO, meski awalnya sempat menolak karena kesibukan mengurus Ponpes Asrama Perguruan Islam (API). Maklum, semenjak Mbah Dur (KH Abdurahman Chudlori) meninggal, urusan dakwah dan luar rumah tangga dilimpahkan kepadanya.
Ketika Suara Merdeka melihat jadwal pengajian di ruang tamunya, dari Mei hingga Juli hampir tak ada waktu luang. Mulai pagi hingga malam, Pak Kia dijadwalkan menghadiri pengajian di berbagai daerah di Jateng dan beberapa kota luar provinsi. Gus Yusuf mengambil libur satu hari dalam satu pekan tidak mengisi pengajian, yakni tiap Jumat. 
Di sela-sela syiar Islam, dia tetap komitmen terhadap amanah yang diberikan untuk mengelola industri sepak bola di Magelang. Tentu, gaya kepemimpinannya berbeda dengan bos-bos pada umumnya.
Pakai Sarung
Begitu juga dengan penampilan. Gus Yusuf datang ke kantor terkadang hanya mengenakan sarung dan berpeci, mirip kalau ingin pengajian. Biasanya, dia datang ke kantor jika ada rapat manajemen. Setelah memimpin rapat dua hingga tiga jam, dia pergi lagi, untuk menjalankan tugas ’’asli’’ yaitu mengisi pengajian atau terkadang seminar. 
Meski penampilannya lekat dengan tradisi pesantren, soal gagasan dan terobosan Gus Yusuf tak kalah dari bos-bos berdasi. Sejak Desember hingga kini, atau setengah musim kompetisi Divisi Utama, banyak ide dan program yang dicetuskannya mampu menggeliatkan industri sepak bola Magelang.
Pertama yang menjadi garapannya adalah sepak bola ramah anak dan sebagai wisata akhir pekan. Program sepak bola ramah anak ini maksudnya adalah, anak-anak bersama orang tua terjamin keamanan dan keselamatan selama menonton pertandingan di stadion hingga perjalanan pulang.
Sedangkan wisata akhir pekan adalah program mengajak keluarga di Magelang dan sekitarnya untuk berwisata melihat bola di stadion. Dia mencoba menghapus kesan angker dalam laga sepak bola. Tak boleh ada tawuran suporter dan tindak kekerasan lain yang menyelimuti laga sepak bola.
’’Meski belum 100%, Stadion Madya mulai musim ini sudah digunakan. Jika aset ini mangkrak tak digunakan tentu Pemkot rugi karena menanggung biaya perawatan. Karena itu, kami mencoba membuat tempat yang asyik untuk keluarga menghabiskan akhir pekan melihat pertandingan sepak bola,’’ kata mantan Ketua DPW PKB Jateng itu. 
Program wisata menonton sepak bola dan stadion ramah anak itu kini berjalan baik. Dalam setiap pertandingan, ratusan anak-anak —bahkan ada yang balita— bersama orang tua memenuhi tribune barat dan VIP. Ini membutkikan bahwa menonton sepak bola di Magelang aman dan nyaman.
Meski penjualan tiket belum bisa menutup operasional klub yang setiap bulan minimal Rp 500 juta, dia optimistis pada masa mendatang Magelang bakal menjadi daerah yang potensial untuk sebuah industri sepak bola. 
Menurut dia, untuk bisa hidup tanpa APBD, klub setidaknya membutuhkan waktu lima tahun. Menggarap bisnis sepak bola bukan perkara mudah. Tiket tak bisa menutup biaya operasional. Dalam hal merchandis, belum ada klub di Indonesia yang bisa mendapatkan keuntungan dari sektor ini.
’’PPSM juga jualan jersey, tapi daya beli masyarakat rendah. Dari ratusan kaos asli yang diproduksi Mitre, hanya beberapa yang laku,’’ kata pria kelahiran Magelang 9 Juli 1973 itu. 
Karena itu, sektor lain harus terus digali. Misalnya pertandingan melawan klub besar seperti timnas. Pernah juga mendatangkan Persija Jakarta.
Sambutan publik Magelang sangat luar biasa. Dari dua pertandingan, penonton diprediksi mencapai 10.000 orang. Pendapatan dari pertandingan uji coba melawan tim besar bisa sedikit membantu keuangan klub, yang dalam dua bulan terakhir mengalami kesulitan. 
Gus Yusuf juga harus ikut tombok. Dia memang tak mengatakan secara lugas kalau nombok, tapi ada informasi dari jajaran manajemen bahwa Pak Kiai itu sudah nombok ratusan juta untuk PPSMKN. (Sholahuddin al-Ahmed-43)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar