Sabtu, 05 Mei 2012

Gempa Aceh Tambah Beban pada Patahan Aktif

Suara Merdeka

28 April 2012 | 09:55 wib
Gempa Aceh Tambah Beban pada Patahan Aktif
 0
 
  18

JAKARTA, suaramerdeka.com - Beban pada patahan-patahan aktif yang tersebar di seluruh Indonesia diprediksi akan semakin bertambah setelah gempa bumi kembali melanda Banda Aceh, April lalu.
Pakar Gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja menuturkan, jika ada gempa lagi di berbagai di Indonesia, maka gelombang maut Tsunami berpeluang besar kembali terjadi. Dia juga menyajikan sebuah jalur peta patahan di seluruh Indonesia, yang diklasifikasikan sebagai seismic gap.
Seismic gap adalah zona patahan yang diketahui keaktifannya tapi sudah lama tidak terjadi gempa di tempat tersebut. Ada kemungkinan, patahan tersebut sudah mengakumulasi energi gempa yang besar.
"Ancaman dari Patahan No. 1,2,3 ini menjadi bertambah tinggi setelah gempa besar yang terjadi di Lempeng Lautan Hindia tgl 11 April kemarin, karena gempa ini, dari analisis data GPS-Jaringan SuGAr LIPI-EOS, memberikan dampak menambah beban ke No. 1, 2, 3.  Terlihat bahwa ketika gempa terjadi Segmen No. 1 tertekan sampai  puluhan centimeter ke arah Timur," kata Danny.
Menurutnya, patahan No. 1,2 dan 3 harus mendapat perhatian lantaran terletak di zona megathrust Sumatra-Selat Sunda inilah Megathrust No. 2 yang terletak di perairan Mentawai adalah yang paling detail diteliti sehingga paling banyak datanya lantaran di sekitar wilayah ini memang sering terjadi gempa sehingga rawan menambah beban.
"Dengan berbagai gempa-gempa besar yang bertubi-tubi  terjadi disekitarnya akan membuat No.2 makin dekat ke 'waktu ledak'nya karena "stress" pada zona patahan ini akan makin tinggi," jelasnya.
Untuk patahan No. 1, yakni segmen Simelue, menyimpan energi gempa yang cukup besar, setelah terjadi rentetan gempa mulai tahun 2004. Diperkirakan, gempa yang bisa terjadi di wilayah ini berkekuatan 8 skala richter.
Patahan No.3, yaitu Megathrust Selat Sunda-Selatan Jawa selama ratusan tahun tidak pernah terjadi gempa. Walaupun data untuk wilayah ini masih sedikit, namun peneliti memperkirakan lempeng ini dapat menyebabkan gempa hingga 9 skala richter.
"Walaupun bahayanya belum terdefinisi dengan baik tapi sangat penting untuk diwaspadai mengingat wilayah ini amat sangat vital, khususnya DKI Jakarta, dari  sudut populasi, investasi, dan bank informasi serta infrastruktur-infrastruktur negara yang  sangat vital," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar