Sabtu, 12 Mei 2012

Antara Tragedi Sukhoi di Gunung Salak & Garuda 152 di Sibolangit


Antara Tragedi Sukhoi di Gunung Salak & Garuda 152 di Sibolangit

Nograhany Widhi K - detikNews
Jumat, 11/05/2012 16:47 WIB
GA 152 di Sibolangit (airdisaster.com)
Jakarta Dunia kedirgantaraan Indonesia kembali berduka karena tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Sebelumnya, di Indonesia juga pernah terjadi tragedi serupa yang menimpa pesawat Garuda Indonesia 152 yang menabrak tebing di Sibolangit, Sumatera Utara (Sumut).

Apakah penyebab kecelakaan Sukhoi sama dengan penyebab kecelakaan GA 152 di Sibolangit? Dari wikipedia, kecelakaan GA 152 di Sibolangit diketahui akibat miskomunikasi antara ATC dengan pilot yang menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung. Pesawat tersebut meledak dan terbakar, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya.

Pada Kamis (10/5/2012) petang kemarin, Ketua Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi, dalam jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusumah, mengatakan Sukhoi mengalami kecelakaan pada ketinggian 5.800 kaki dan dan berada di tebing dengan kemiringan 85 derajat.

"Saya pastikan tadi pagi sesudah kami menemukan lokasi, kami yakinkan bahwa pesawat sudah terjadi kecelakaan," jelas Tatang.

"Jadi dia seperti Controlled Flight Into Terrain (CFIT) pada ketinggian 5.800 feet, itu sangat tinggi, pada kemiringan 85 derajat," imbuh Tatang.

Controlled Flight Into Terrain adalah sebuah istilah yang artinya sebuah pesawat yang laik terbang dan tidak mengalami kerusakan serta di bawah kendali pilotnya, tanpa sengaja terbang dan menabrak terrain/daratan, obstacle/penghalang, atau air. Penerbangnya biasanya tidak sadar sampai akhirnya terlambat untuk menghindar.

Analisa tentang kecelakaan itu lantas bertebaran, mulai mempertanyakan rute joyflight yang tidak lazim karena menuju ke arah gunung, pilot meminta izin dari 10 ribu ke 6 ribu kaki di wilayah Gunung Salak, sinyal darurat yang tidak berfungsi hingga sinyal telepon genggam yang menyala.

Belakangan diketahui, rute joyflight itu atas permintaan pilot yang sudah dikoordinasikan oleh PT Trimarga Rekatama, agen Sukhoi di Indonesia. Jadi, rute itu pun tidak serta merta diputuskan mendadak. Rute itu sudah didiskusikan lebih dahulu. Para penerbang ini juga sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Mengenai berbagai analisa yang bertebaran itu, KNKT tidak mau berspekulasi sampai investigasi selesai.

"Menabrak atau tidak akan ada investigasi sendiri. Itu kelihatannya kami belum menemukan tanda-tanda badan pesawat pecah beberapa bagian. Kami juga belum bisa memastikan penyebab. Itu yang akan kami cari tahu. Mengenai kenapa pesawat bisa turun, nah bagaimana izinnya dan lain-lain itu yang akan kami cari tahu ," jelas Tatang.

CFIT itulah yang terjadi saat Garuda Indonesia GA 152 bernomor registrasi PK-GAI tujuan Jakarta-Medan menabrak tebing atau gunung di Sibolangit pada 26 September 1997. Pesawat saat itu menancap pada tebing yang nyaris 90 derajat, sekitar pukul 13.30 WIB.

Menurut situs airdisaster.com, pesawat berjenis Airbus300-220 itu menabrak tebing, patah dan terbakar. Ada miskomunikasi antara Air Traffic Controller (ATC) dan pilot saat itu, yaitu antara 'Left' dan 'Right'. Saat itu GA 152 hendak mendarat ke Bandara Polonia, Medan. Cuaca saat itu dilaporkan terbatas, hanya 600-800 meter karena terhalang asap dari kebakaran hutan.

Ada kebingungan petugas ATC apakah GA 152 itu membelok ke kiri atau ke kanan. Hanya 10 detik setelah mengkonfirmasi, pesawat itu menabrak tebing di daerah berhutan. Serpihan ditemukan di dekat Desa Pancur Batu, 3 ribu kaki di atas permukaan laut. Sekitar 222 penumpang dan 12 awak tewas.

Entah mengapa, tak ada laporan final KNKT soal GA 152 di situsnya. Padahal laporan final kecelakaan pesawat Silk Air di Sungai Musi yang terjadi setelah kecelakaan itu pada 19 Desember 1997 sudah dipublikasikan pada 14 Desember 2000.

Namun, dari situs avweb.com, didapat transkrip rekaman dari menara ATC dengan pilot GA 152. Berikut potongan rekaman percakapan itu pada detik-detik Garuda menabrak tebing:

ATC:GIA 152, turn right heading 046 report established localizer

GIA 152: Turn right heading 040 GIA 152 check established.

ATC: Turning right sir.

GIA 152: Roger 152.

ATC: 152 Confirm you're making turning left now?

GIA 152: We are turning right now.

ATC:152 OK you continue turning left now.

GIA 152: A (pause) confirm turning left? We are starting turning right now.

ATC: OK (pause) OK.

ATC: GIA 152 continue turn right heading 015.

GIA 152: (scream) Allahu akbar! (Translation: God is great!) 

(nwk/asy)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar