Sabtu, 19 Mei 2012

Rekaman Sukhoi Berhasil Dibaca


19 Mei 2012
Rekaman Sukhoi Berhasil Dibaca
  • Evakuasi Korban Dihentikan
 0
 
  0
JAKARTA- Penyelidikan terhadap penyebab kecelakaan Sukhoi Superjet (SSJ) 100 kemungkinan akan berjalan lebih mudah dari yang diperkirakan. Pasalnya, rekaman memori Cockpit Voice Recorder (CVR) SSJ 100 bisa diunduh oleh tim investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 

Rekaman tersebut berhasil dibaca dengan kotak hitam baru dari Rusia yang cocok dengan memori CVR SSJ 100. “Hari ini (Jumat-red) kami baru saja mengunduh dan sukses. Data rekaman masih bagus,” ungkap koordinator tim investigasi KNKT, Prof Dr Mardjono Siswosuwarno di kantor KNKT, Jakarta, Jumat (18/5).  
Setelah menemukan CVR, Basarnas beserta tim SAR Rusia kini melanjutkan pencarian Flight Data Recorder (FDR) yang belum ditemukan.

Mardjono mengatakan, kondisi CVR SSJ 100 lebih bagus dibanding CVR pesawat Garuda Indonesia yang terbakar di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, 7 Maret 2007.

“Di Jogja sampai meleleh. Butuh satu setengah bulan untuk membacanya,” kata Guru Besar Teknik Penerbangan ITB itu.
Dia berharap, tiga dari empat kanal CVR bisa dibaca. Jika tiga kanal itu bisa didengar, dia yakin bisa mendapatkan data yang cukup untuk investigasi. CVR memiliki kemampuan merekam seluruh informasi di kokpit selama dua jam. 

Menurutnya, pembacaan data bisa selesai seminggu ke depan.Namun, ini tidak berarti sepekan lagi penyebab SSJ 100 menabrak Gunung Salak di Bogor, Jabar, 9 Mei lalu, bisa langsung diketahui. Penyelidikan panjang masih harus dilalui, salah satunya melakukan transkrip pembicaraan yang terekam CVR. 

Setelah proses transkrip selesai, akan dilakukan sinkronisasi data dengn FDR. Namun bila FDR tak ditemukan, dia mengaku tidak mempermasalahkan. ’’Pengandaiannya, tidak ada rotan akar pun jadi,’’ jelas Mardjono. Artinya, tim investigasi bisa mengesampingkan FDR. Analisis akan menggunakan data CVR dan rekaman Air Traffic Control (ATC) dengan pilot.

“Tapi saya yakin FDR ketemu. Alat itu diperlukan untuk membaca ketinggian pesawat,” urainya.
Optimisme KNKT bisa membaca CVR juga dilandasi alasan lain, salah satunya fakta bahwa benda itu ternyata diproduksi oleh Amerika Serikat. Itu dibuktikan dengan kode L3 Communicated di badan alat perekam suara tersebut.  “Tulisan itu menunjukkan alat ini bukan buatan Rusia,” terangnya.
KNKT saat ini baru bisa membaca black box yang dibuat Amerika dan Prancis. Karena CVR SSJ 100 buatan AS, maka KNKT tidak bakal kesulitan. 

Anggota tim investigasi, Capt FX Nurcahyo, mengungkapkan, proses transkrip kemungkinan tidak berbanding lurus dengan durasi penerbangan. Jika waktu joy flight kedua yang berakhir kecelakaan mencapai 21 menit, maka rekaman yang diperdengarkan kemungkinan lebih dari itu.

Pasalnya, tutur Nurcahyo, tim investigasi akan mulai mendengarkan rekaman dari sebelum pesawat take off. “Rekamannya bisa 30 menit. Sementara waktu transkrip bisa lima hingga enam jam,” ujarnya.
Untuk membaca memori CVR, KNKT dibantu Ketua KNKT Rusia Sergei Korostiev, yang ternyata merupakan rekan dari pilot SSJ 100, Alexander Yablontsev. Keberadaan Sergei akan memudahkan penyelidikan. “Akan sangat membantu, Sergei kenal dengan pilot Sukhoi,” ungkapnya.

Dihentikan

Sementara itu, mulai kemarin, Badan SAR Nasional (Basarnas) menghentikan proses evakuasi jenazah korban jatuhnya SSJ 100 di lereng Gunung Salak, Bogor, dengan pertimbangan sudah tidak menemukan lagi tanda-tanda jenazah. Hingga kemarin, 15 jenazah berhasil diidentifikasi oleh tim forensik gabungan Indonesia-Rusia. Kendati demikian, identitas jenazah tersebut dirahasiakan atas permintaan keluarga korban.
“Proses evakuasi terhitung sore ini, Jumat 18 Mei 2012, dihentikan,” ujar Ketua Basarnas, Marsekal Madya Daryatmo saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, pihaknya telah memperluas area pencarian korban hingga ke dasar jurang dengan kedalaman 1.000 meter dari punggung tebing sejak hari ketujuh evakuasi. Evakuasi itu dilakukan dengan cara menyisir sampai menggali reruntuhan. Namun Basarnas akan melakukan evakuasi ulang jika ditemukan lagi tanda-tanda korban.

Terpisah, Kepala RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur,  Brigjen Agus Prayitno, mengungkapkan, hingga kemarin total korban yang terdientifikasi 15 orang, terdiri atas 13 warga negara Indonesia (WNI) dan dua warga asing. 
“Lima wanita dan 10 laki-laki,” ujar Agus. Namun Agus menegaskan, pihaknya belum akan menyerahkan 15 jenazah tersebut ke keluarga korban dengan alasan tim forensik menunggu tim evakuasi yang masih bekerja di lapangan.
Menurutnya, penyerahan jenazah menunggu evakuasi dihentikan dan semua jenazah yang telah dievakuasi teridentifikasi.   

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri Kombes Boy Rafli Amar menjelaskan, pihaknya telah memberitahu keluarga korban bahwa jenazah keluarga mereka telah ditemukan dan teridentifikasi. Kendati demikian, jenazah tersebut belum bisa diserahkan, menunggu semua identifikasi selesai.
Boy mengatakan, proses identifikasi diperkirakan selesai dua minggu sejak dimulainya identifikasi jenazah, Sabtu (12/5). Boy menjelaskan, perawatan jenazah disesuaikan dengan agama korban. 
SSJ 100 jatuh di Gunung Salak saat joy flight untuk promosi pemasaran. Pesawat itu dilaporkan membawa delapan kru dan 42 penumpang. (bn,K24-43)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar