Minggu, 20 Mei 2012

Pakar IPB Minta Masyarakat Waspadai Buah Impor


AgriBisnis Sabtu, 19 Mei 2012 08:00 WIB
Mengandung Fungisida Berbahaya
MedanBisnis – Bogor. Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Ahmad Sulaeman mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai buah impor.
"Harga buah impor yang dijual di "supermarket" Indonesia kadang lebih murah dibanding harga di negara asalnya. Hal ini tentu saja membuat kita heran sekaligus bertanya, mengapa buah tersebut bisa dijual dengan harga murah?," katanya melalui Kantor Humas IPB di Bogor, Rabu (16/5).

Ahmad menjelaskan lebih lanjut temuannya tentang buah impor ini. Ia mengemukakan bahwa satu terminal buah di Rotterdam Belanda yang luasnya hampir sama dengan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng terdapat gudang pendingin sebagai tempat menyimpan buah. Dimaksud, usia penyimpanannya ada yang mencapai dua tahun, dan yang paling muda adalah enam bulan.

Agar buah tahan di suhu dingin,  tidak kering dan tidak keriput, katanya, maka kulit buah dilapisi lilin. Dalam lilin itu juga ditambahkan fungisida agar buah tidak berjamur.

Menurut dia, hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa fungisida yang biasa ditambahkan adalah jenis fincocillin yang bersifat anti-androgenic yang sama sifatnya seperti DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Anti-androgenic ini, katanya, menimbulkan efek mandul pada serangga.

Ia menjelaskan, sebagaimana diketahui, DDT adalah insektisida "tempo dulu" yang pernah disanjung setinggi langit karena jasa-jasanya dalam penanggulangan berbagai penyakit yang ditularkan vektor serangga. "Tetapi kini penggunaan DDT di banyak negara di dunia terutama di Amerika Utara, Eropa Barat dan juga di Indonesia telah dilarang," katanya.

Ahmad mengatakan, menjadi jelas bahwa buah impor tidak lepas dari pestisida. Dari berbagai penelitian, katanya, orang mengonsumsi pangan yang mengandung residu pestisida, walaupun dalam kandungan yang rendah tenyata mampu menyebabkan demaskulinisasi, jadi mengganggu perkembangan organ reproduksinya.

Karenanya, tidak mengherankan jika sekarang banyak banci atau "kaum alay", padahal kalau menengok tahun 1960-an, yang disebut banci itu adalah mereka yang punya kelamin ganda.  Misalnya, pelari nasional dari Tasikmalaya akhirnya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki, karena sejak dilahirkan ia memiliki kelamin ganda.

Sementara kejadian pada zaman sekarang, para banci ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki. "Itu terjadi setelah 30-40 tahun penggunaan pestisida atau revolusi hijau pertama," katanya.

Menurut dia, harus diakui bahwa banyaknya "kaum alay" sekarang ini adalah dampak dari revolusi hijau pertama, dan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara.  Dampak lain dari pestisida adalah pada anak-anak.

Ahmad mengemukakan, banyak anak yang baru minum ASI (air susu ibu) saja bisa keracunan DDT, akibat sang ibu mengonsumsi sayur dan buah yang terpapar pestisida. Hal ini dapat mengganggu perkembangan mental dan kognitif anak.

Ahmad menjelaskan, satu penelitian di negara Meksiko yang membandingkan anak yang biasa mengonsumsi pangan organik (tanpa pestisida) dan non-organik (disemprot pestisida).  Hasilnya, anak yang selalu terpapar pestisida tidak mampu menggambar, sekalipun gambar garis yang sederhana. Sebaliknya, anak yang biasa mengonsumsi pangan organik disebutkan mampu menggambar dengan bagus. 

Kemudian beberapa risiko penyakit juga dimungkinkan berkembang pada anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, seperti penyakit leukemia dan termasuk autis. Untuk itu, Ahmad mengimbau agar masyarakat kembali beralih ke buah lokal dan penuh khasiat, seperti manggis, bisbul, nangka dan masih banyak lagi. "Sayangnya, pasar buah kita, terutama di "supermarket", masih didominasi buah impor," katanya.

Dari 225 jenis buah dan sayur segar yang dijual di swalayan, kata dia, 60%-80% merupakan buah impor.  "Kecuali di Bali, komponen lokalnya masih tinggi. Tapi umumnya buah yang ada di "supermarket" di Indonesia, 60%-80% masih impor," katanya.

Karena itu, ia menegaskan lagi bahwa penggemar buah segar perlu ekstra waspada, terutama pecinta buah impor, seperti anggur, pir dan apel.  "Apalagi jika sedang ada promo buah impor dengan harga yang sangat murah," katanya. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar