Minggu, 13 Mei 2012

Mimpi Rusia Ikut Terhempas di Gunung Salak?


Mimpi Rusia Ikut Terhempas di Gunung Salak?

Ini bisa jadi kecelakaan terbesar bagi pesawat buatan pabrik legendaris, Sukhoi.

JUM'AT, 11 MEI 2012, 06:36 WIB
Elin Yunita Kristanti
Sukhoi Superjet100, kebanggan Rusia yang terhempas di Gunung Salak (RIA Novosti)

VIVAnews - Ibarat sebuah mobil melaju kencang dan menabrak tembok, Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) menghantam tebing curam di Gunung Salak, Jawa Barat, dengan kemiringan hanya 80 derajat, nyaris tegak lurus. Foto dari pantauan udara menunjukkan, vegetasi di area bekas tubrukan pesawat tercukur habis.

Tim penyelamat mengaku melihat tubuh sejumlah korban di antara puing-puing pesawat, meski nasib 45 orang yang ada di dalamnya belum dipastikan. Belum ada tim yang berhasil menuju lokasi yang medannya sulit itu.

Selain menimbulkan duka bagi keluarga para korban yang masih menunggu kepastian, tragedi Sukhoi di Gunung Salak adalah pukulan telak bagi dunia penerbangan Rusia, negara produsennya.

Seperti dimuat situs NDTV, Sukhoi Superjet 100 adalah pesawat penumpang terbaru yang dibikin Rusia sebagai upaya mengangkat industri penerbangan sipil pasca krisis Uni Soviet. Jika terkonfirmasi musibah ini menyebabkan korban dalam jumlah besar, itu akan menjadi kecelakaan terbesar pesawat buatan pabrik legendaris, Sukhoi.

Mimpi Rusia menjadi pemeran penting dalam pasar penerbangan modern, terancam pupus, ikut terhempas di Gunung Salak.

Padahal, keberadaan SSJ-100 di Indonesia adalah bagian dari tur promosi ke enam negara Asia. Pesawat itu berjenis sedang yang bisa mengangkut 98 penumpang bisa menempuh jarak 4.600 kilometer. Menjadi pesaing pesawat jenis serupa buatan Brasil, Embraer dan buatan Kanada, Bombardier.

Sejauh ini, SSJ-100 baru digunakan dua maskapai, Aeroflot, Rusia dan Armavia, Armenia. Sampai insiden kecelakaan terjadi, Indonesia berpotensi menjadi klien terbesar pesawat itu.

Proyek Superjet adalah patungan antara perusahaan Sukhoi dan Alenia Aeronautica asal Italia. Sebelum tragedi ini, SSJ-100 pernah mengalami kecelakaan kecil saat digunakan Aeroflot.

Beberapa hari lalu, SSJ-100 melenceng dari landasan pacu saat mendarat di Kota Kazan, Rusia. Tak ada korban dalam insiden ini. Sementara, Maret lalu, jadwal penerbangan pesawat ini dikurangi, akibat masalah di bagian bawah pesawat.

Sebelumnya, Sukhoi Superjet Aeroflot terpaksa di-grounded karena masalah pada AC. Sementara Desember lalu, masalah pada chassis memaksa penerbangan Minsk-Moskow terbang tanpa penumpang.

Tidak Menyerah
Namun, menurut Pravda, Kamis 10 Mei 2012 malam, insiden ini tak lantas memupuskan ambisi Rusia. Sebab, menurut para ahli, negara itu menggantungkan harapan pada SSJ-100 untuk berkiprah dalam industri pesawat terbang sipil.

Kementerian  Perindustrian dan Perdagangan Rusia mengungkapkan, biaya untuk proyek Sukhoi Superjet ini mencapai 34 miliar rubel, termasuk di dalamnya 16 miliar dari anggaran pemerintah. Sebelum 2029, Sukhoi menargetkan penjualan sekitar 800 pesawat jet. Berdasarkan katalog, harga satu unit SSJ-100 berkisar US$31,7 juta.

Pesawat kebanggan Rusia bahkan direncanakan akan digunakan sebagai alat transportasi para pejabat negara.

Hingga saat ini, operator SSJ-100 belum mau buka suara soal nasib perdagangan pesawat itu pasca insiden. "Kami berharap, insiden di Jakarta tak mempengaruhi pesawat Superjet. Pesawat yang menabrak gunung telah terdaftar di Kementerian Industri dan Perdagangan. Investigasi akan dilakukan untuk menyelidiki insiden tersebut," kata sumber yang dekat dengan Kementerian Rusia.

"Kecelakaan itu pasti akan memperlambat program, merusak reputasi, namun, itu tidak akan menghentikan program Superjet. Pesawat itu tetap akan dijual di pasar dalam negeri dan luar negeri," kata bRuslan Pukhov, direktur pusat analisis strategi dan teknologi.
Sementara ahli, Aleksei Sinitsky mengatakan, "tentu saja, tak ada yang bisa menutup mata terhadap kejadian itu. Namin, soal nasib penjualan SSJ-100 itu tergantung dari para pembeli." (ren)


• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar