Minggu, 13 Mei 2012

Kisah Tim Evakuasi Sukhoi di Gunung Salak


Kisah Tim Evakuasi Sukhoi di Gunung Salak

Kesulitan medan dan keangkeran Gunung Salak sudah terkenal di kalangan pendaki gunung."

MINGGU, 13 MEI 2012, 03:06 WIB
Desy Afrianti, Oscar Ferri
Serpihan pesawat Sukhoi Superjet-100. (REUTERS/ Stringer)

VIVAnews - Berada di kawasan Sukabumi-Bogor, Jawa Barat, Gunung Salak terbilang pendek dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya di Jawa Barat.

Puncak Manik menjadi paling tinggi di antara tiga puncak lainnya yang dimiliki Salak, yakni 2355 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandingkan dengan Gunung Gede yang memiliki ketinggian 2958 mdpl, atau Pangrango 3019 mdpl.

Namun, kesulitan medan dan keangkeran Gunung Salak sudah terkenal di antara kalangan pendaki gunung. Selain memiliki banyak jalur pendakian, Gunung Salak juga merupakan salah satu kawasan hutan hujan di Indonesia. Wajar, bila hutan di Gunung Salak sangat lebat, sama halnya Gunung Gede-Pangrango.

Keangkeran Gunung Salak tentunya juga sudah diakui oleh warga sekitar di perkampungan di kawasan kaki gunungnya. Banyak cerita dan hal mistik yang berkembang dari setiap kejadian yang pernah terjadi di gunung tersebut. Apakah itu sering hilangnya para pendaki maupun kecelakaan, termasuk jatuhnya pesawat.

Dan kecelakaan pesawat terbaru adalah jatuhnya Sukhoi Superjet-100 yang membawa 37 penumpang dan 8 awak, Rabu 9 Mei 2012. Cerita-cerita di luar logika pun mengiringi peristiwa yang dapat dikatakan sebagai tragedi itu.

Satu dari sekian cerita-cerita aneh adalah pengalaman para petugas evakuasi yang menelusuri jalur menuju lokasi jatuhnya pesawat komersil buatan Rusia tersebut. Salah satu petugas perbekalan angkutan TNI Angkatan Darat, Sersan Dua Purnahadi, memiliki pengalaman mistik saat menyuplai pasokan logistik bagi para tim evakuasi yang berangkat dari Posko Pusat Evakuasi Embrio Penangkaran Sapi, Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Dia bersama para anggota perbekalan angkutan lainnya memang harus siap siaga kapan pun menelusuri jalur evakuasi yang bukan merupakan jalur umum para pendaki gunung itu. Dengan medan terbilang sangat sulit dan terjal, dia bersama anggota lainnya itu harus melewatinya sambil membawa pasokan logistik bagi para personil tim evakuasi di atas.

Selama berkali-kali naik turun itu, Purnahadi pun tak jarang melihat "sesuatu" di jalur evakuasi. "Sering saya melihat. Misalnya melihat perempuan di pinggir jalur yang saya lewati sambil menangis," kata dia, Sabtu malam, 12 Mei 2012.

Tak hanya itu, dia juga sering berpapasan dengan sosok "dunia lain" ketika melintasi jalur. Umumnya, yang ia lihat adalah sosok menyerupai manusia. Namun, meski anggota lainnya yang turut membawa pasokan logistik tidak melihat apa yang dilihatnya, Purnahadi enggan memberi tahu rekannya itu.

"Sebenarnya saya sendiri merinding. Apalagi kalau saya kasih tahu ke teman saya, panik yang ada," kata dia. "Tapi kan kita enggak ganggu mereka, dan mereka sebenarnya juga enggak ganngu kita. Berpapasan ya sudah begitu saja."

Purnahadi pun selalu memperingati rekan-rekan atau relawan lainnya jika hendak naik ke atas. "Kalau yang cowok, saya bilang jangan membawa benda-benda seperti jimat. Kalau ada relawan cewek yang ikut bantu, saya selalu tanya, apakah sedang datang bulan? Kalau iya, saya larang naik ke atas," ujarnya.

Lain lagi cerita yang dimiliki oleh petugas tim Badan SAR Nasional yang menjadi bagian dari tim evakuasi. Operator Radio Komunikasi Basarnas di Posko Embrio, Agustamin bercerita, ada empat anggota Basarnas yang ikut menjadi personel evakuasi bertahan di atas tebing yang ditabrak pesawat Sukhoi Superjet-100.
Mereka bertahan di atas untuk memantau anggota evakuasi lainnya menuruni tebing guna mencapai dasar lembah, tempat di mana diduga para jenazah korban berada.

Saat malam tiba, keempatnya pun terpaksa bermalam di atas tebing yang berada di Puncak Manik itu. Namun, salah satu petugasnya mendengar beberapa kali teriakan minta tolong dari dasar lembah. Anak buahnya yang bernama Firdaus itu pun melaporkan apa yang didengarnya itu melalui alat komunikasi handy talkie.

"Saya tanya teriakannya seperti apa. Dia jawab, seperti ada suara perempuan berteriak tolong-tolong, kata Agus. Tak hanya itu, ada juga suara laki-laki berteriak, sakit-sakit."

Mengetahui hal itu, Agus meminta agar anak buahnya berusaha konsentrasi dan menghiraukan suara-suara teriakan itu. "Saya tidak tahu apakah itu halusinasinya dia atau benaran. Karena tiga anak buah saya yang lain tidak mendengar," kata Agus.
Dia juga meminta kepada anak buahnya itu, agar tidak berspekulasi bahwa masih ada korban yang hidup di dasar lembah.

Tidur bergelantungan
Jika dua petugas di atas memiliki cerita menyeramkan, maka salah seorang anggota Komandan Pasukan Khusus (Kopassus), Sersan Satu Abdul Haris memiliki pengalaman unik. Tidur bergelantungan.

Haris sendiri adalah salah satu komandan regu di Tim Charlie. Tim yang terdiri atas 255 personil gabungan TNI, Polri, Basarnas, Tagana, PMI, dan lainnya itu menjadi tim ketiga yang diberangkatkan untuk mengevakuasi para korban.

Haris mengatakan, lokasi jatuhnya pesawat setelah menabrak tebing adalah sebuah lembah dengan kedalaman lebih dari 500 meter. Karenanya tim evakuasi pun harus menyusuri tebing dengan kemiringan 85 derajat itu dengan menggunakan tali sling guna mencapai dasar lembah, tempat di mana jenazah para korban ditemukan bersama serpihan puing pesawat.

"Yang turun ke bawah itu anggota Tim Kopassus bersama Tim Garuda. Tapi Tim Garuda itu naik lagi ke atas karena medan yang sangat sulit," katanya.

Saat menyusuri tebing yang masih lebat dengan tanaman dan pohon-pohon kecil itu dia bersama anggota lainnya mengalami kesulitan. Karena ternyata tali sling yang memang cuma sepanjang 250 meter itu tak mampu menjangkau ke dasar lembah. "Akhirnya kita sambung lagi dengan tali sling lainnya," ujar Haris.

Kesulitan yang dialami tim Kopassus itu rupanya memakan waktu yang lama mengatasinya. "Kita sampai atas tebing itu jam empat sore. Makanya pas raffling itu, sudah gelap," kata Haris.

Karena tak mau mengambil risiko memaksakan terus turun, sementara naik ke atas secara fisik sudah tak kuat, maka Haris pun bermalam di tebing itu dengan cara bergelantungan pada seutas tali sling. "Sudah kaya kera, kita tidur bergelantungan," ujar Haris.

Usaha para pasukan khusus itu tidak sia-sia. Ketika esok hari mereka mencapai dasar lembah dan menyusurinya, Haris beserta rekan-rekannya menemukan satu sosok jenazah dengan kondisi yang nyaris masih utuh. Sosok itu yang kemudian diduga kuat adalah pilot pesawat Sukhoi Superjet-100 asal Rusia, Alexander Yablontsev.


• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar