Sabtu, 19 Mei 2012

Endriartono: Sukhoi Jenis Tempur, Termasuk Tercanggih


Endriartono: Sukhoi Jenis Tempur, Termasuk Tercanggih

Tribunnews.com - Sabtu, 19 Mei 2012 14:02 WIB
Share
Email
Print
 Text  +  
Endriartono: Sukhoi Jenis Tempur, Termasuk Tercanggih
tribunnews.com
Pesawat tempur Sukhoi 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Terkait dengan jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Mantan Panglima TNI, Endriartono Sutarto, menilai perlu menunggu hasil pengkajian penyebab jatuhnya pesawat sebelum menarik kesimpulan.
"Kita lihat dulu mengapa jatuhnya, kita tidak bisa mengkaliam pesawat ini buruk. Pesawat secanggih apapun jika tidak ditangani dengan betul maka yang terjadi dia bisa jatuh," ujar Endriartono saat ditemui usai menghadiri gelaran kegiatan seni dan budaya, wayang bertajuk "Ruwatan untuk Negeri", di Kampus UI Depok, Jumat malam (18/5/2012).
Terkait rencana pembelian pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100, apakah sebaiknya ditunda atau diteruskan. Endriartono mengatakan hal tersebut sebaiknya diputuskan jika sudah diketahui penyebab jatuhnya pesawat.
"Kita lihat dulu, jika memang itu akibat dari ketidakcanggihan pesawat mungkin kita perlu berpikir ulang untuk membelinya. Tetapi jika ini akibat dari human error atau cuaca kan belum tentu pesawatnya buruk . Maka perlu dikaji secara lebih mendalam lagi, intinya harus dicari tahu dulu," tutur Endriartono kepada wartawan.
Mengenai keberadaan Pesawat Sukhoi jenis pesawat temput, Endriartono mengatakan Sukhoi merupakan salah satu pesawat tercanggih di kelasnya, dan dirinya pada saat menjabat panglima TNI memang termasuk yang merekomendasikan Sukhoi.
"Sukhoi itu salah satu pesawat tempur tercanggih di dunia dan di kelasnya. Saya termasuk Panglima yang berinisiatif membeli Sukhoi. Pada 2003, beli 4 Sukhoi. Dan terbukti sampai hari ini kita tidak punya permasalahan sama sekali dengan Sukhoi untuk jenis pesawat tempur," ujarnya.
Sedangkan untuk jenis pesawat penumpang, Endriartono mengaku tidak begitu memahami kondisi dan kecanggihan pesawat seperti apa
"Saya juga baru tahu bahwa Sukhoi membuat pesawat komersial, saya tidak tahu seberapa canggihnya mereka membuat pesawat komersial, karena awal sekali Sukhoi adalah pabrik untuk pesawat tempur," terang Endriartono.
Intinya, Endriartono menekankan perlunya penyelidikan lebih mendalam untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat sebelum mengambil kesimpulan dan keputusan terkait pembelian pesawat tersebut.

Penulis: bahri kurniawan  |  Editor: Johnson Simanjuntak  |  Sumber: Tribun Jakarta
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar