Selasa, 08 Mei 2012

Atas Bawah Batik


INGGRID KANSIL

Atas Bawah Batik

Bisa disebut anggota DPR Komisi VIII Inggris Kansil ini sepertinya menerapkan prinsip tiada hari tanpa batik. Entah itu busana, aksesori, sampai tasnya. Pokoknya wajib ada unsur batiknya. ”Semodern apa pun baju, saya pasti mengaplikasikan batik atau tenun,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung DPR, Senin (7/5/2012).
Apakah kegandrungannya akan batik lantaran menyandang status istri dari Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan? Inggris hanya tersenyum. Sejurus kemudian dia menekankan telah dikenalkan batik oleh Oma dan Opa-nya di tahun 1980-an. ”Sejak dulu saya sudah suka yang berbau tradisional. Mulai dari kuliner, interior rumah, tekstil, sampai fashion. Di situ banyak keunikannya,” terangnya panjang lebar.
Kecintaannya akan batik ikut mempengaruhi jalan hidup mantan ratu bintang iklan ini. Terakhir, dia didapuk sebagai Duta Batik Pekalongan dan Duta Batik Jambi. Selain itu, Inggrid terhitung aktif menularkan batik kepada anak-anak sejak usia dini.
Misalnya lewat Rumah Aspirasi yang didirikannya di Sukabumi kadang menjadi lokasi bagi siswa SD sampai SMP belajar membatik. Begitu membatik masuk kurikulum sekolah, Inggrid langsung bersorak. ”Ini biar batik sudah dikenal anak-anak,” ucapnya serius.
Dalam urusan batik, alumnus Insititut Ilmu Sosial dan Politik Jakarta ini juga ikutan mendesain motif batik. Tak sampai di situ, Inggrid pun juga mendesain strategi agar motif batiknya dikenal publik secara luas. ”Batik Sukabumi bermotif kura-kura itu jadi perbincangan ibu-ibu pejabat setelah dikenakan Ibu Negara Ani Yudhoyono,” tuturnya.
Tak ketinggalan, istri Wapres Boediono, Ibu Herawati juga ikut memakai batik Sukabumi. Dari sini, jalan untuk mempromosikan batik Sukabumi terbuka lebar. "Saya juga pikirkan bagaimana memasarkan batik, membina, dan mengangkat batik Sukabumi. Dan, mensosialisasikan batik Sukabumi yang tidak kalah dengan daerah  lain," ungkapnya.
Di Sukabumi sendiri, perempuan bernama lengkap Inggrid Maria Palupi Kansil ini turut menggawangi motif batik sesuai kearifan lokal. Hasilnya, lahirlah batik bermotif pohon kelapa, penyu, pohon pala, sampai teh. "Ini merupakan inovasi batik di daerah,” tukasnya. Ditunggu lagi motif terbarunya ya, Bu! FERRO MAULANA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar