Kamis, 03 Mei 2012

Menggelorakan Budaya Menulis Anak Bangsa


Ahmad Arif

Menggelorakan Budaya Menulis Anak Bangsa

Rabu, 2 Mei 2012 13:14 wib
Setiap tanggal 2 Mei, pemerintah Indonesia memperingatinya sebagai Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional). Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 yang dikeluarkan pada 28/11/1959, tanggal 2 Mei dijadikan Hari Pendidikan Nasional untuk mengapresiasi jasa-jasa Suwardi Suryaningrat -yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara (KHD)- dalam merintis pendidikan umum. Dua Mei adalah tanggal lahir KHD.

Surat Keputusan itu juga menyatakan KHD sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Bagian dari semboyan ciptaannya,  tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Di samping itu, namanya diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya pun diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Ironi Perguruan Tinggi

Salah satu ironi dunia pendidikan di Indonesia adalah rendahnya budaya literer (penulisan). Dan, perguruan tinggi adalah titik kulminasi ironi itu. Dalam catatan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), hingga saat ini, jumlah jurnal ilmiah (cetak) di Indonesia hanya sekitar 7.000 buah. Dari jumlah tersebut, hanya 4.000 jurnal yang masih terbit secara rutin, dan sedikitnya hanya 300 jurnal ilmiah nasional yang telah mendapatkan akreditasi LIPI. Sedangkan data dari Scimagojr, Journal and Country Rank tahun 2011 menunjukkan selama kurun 1996-2010 Indonesia telah memiliki 13.047 jurnal ilmiah. Dari 236 negara yang di-ranking, Indonesia berada di posisi ke-64. Sementara Malaysia telah memiliki 55.211 jurnal ilmiah dan Thailand 58.931 jurnal ilmiah (Kompas.com, 7/2/2012).

Di sisi lain, dari data yang dikeluarkan Kemendikbud, seperti yang dilansir oleh berbagai media online (27/2/2012), terlihat grafik publikasi jurnal ilmiah Indonesia cenderung datar sejak tahun 2006, sedangkan negara berkembang justru melesat tajam sejak tahun 2003. Publikasi jurnal ilmiah Indonesia per juta penduduk pada tahun 1996 terletak pada angka 1, hingga 2010 angka itu hanya mengalami sedikit kenaikan yang mencapai angka 4. Sementara, untuk negara berkembang, angka 26 pada tahun 1996 melonjak tajam hingga mencapai angka 35 pada tahun 2010.

Jumlah publikasi jurnal ilmiah Indonesia pada tahun 2010 pada angka 4, sedangkan Malaysia berada paling puncak di angka 500 pada tahun yang sama. Malaysia pun mengungguli negara lain pada tahun yang sama, seperti Turkey pada angka 400, China pada angka 240, Thailand pada angka 130, Mesir pada angka 100, India di angka 50, Vietnam 10, dan Filipina di angka 5.

Data dan fakta itulah yang kemudian dijadikan dasar kebijakan dari Kebijakan Kemendiknas yang menjadi kontroversi sebagaimana termaktub dalam surat Dirjen Dikti bertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 sebagai syarat kelulusan yang berlaku mulai Agustus 2012; S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah; S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti; S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.

Beban Psikologis

Menulis adalah ekspresi personal, demikian jelas Eep Saifullah Fatah dalam “Menuntaskan Perubahan; Catatan Politik 1998-1999 (Mizan, 2000; xlviii-lv) secara panjang lebar. Melalui penulisan, menurut Eep, seorang penulis itu sedang menggunakan haknya sebagai warga Negara untuk menyampaikan pikiran secara bebas. Menulis bukanlah kegiatan publik yang penuh potensi ancaman.

Siapa pun sebetulnya berpotensi menjadi penulis. Buktinya, setiap orang bisa menulis diary-nya dengan lancar, runtut, baik, ekspresif, artikulatif. Ketika orang menulis diary-nya sendiri, ia dalam situasi psikologis yang bebas, tidak merasa sedang diancam oleh siapa pun. Ia memosisikan kegiatan penulisan diary-nya sebagai kegiatan ekspresi personal yang tak memerlukan penilai dan pemberi sanksi. Toh, sebuah diary tak akan dibaca orang. Karena itulah ia bisa menulis dengan baik. Tetapi ketika penulis diary itu mulai menulis artikel atau laporan yang akan dibaca orang, maka jadilah ia penulis yang tersendat-sendat, ekspresinya macet, sulit meruntutkan gagasan, artikulasinya terhambat, dan kerap kali gagal. Sebabnya, ketika menulis, mereka mereposisi sindiri menjadi individu yang terkerangkeng oleh hantu ancaman yang dibentuknya sendiri. Reposisi inilah yang keliru. Jadi, kuncinya adalah pada beban psikologis sebagai pemilik gagasan.

Dalam tradisi oral, orang akan merasa punya beban yang sedikit saja atau bahkan tidak punya sama sekali. Tapi ketika ia masuk ke tradisi literer, tradisi tulisan, beban itu bertambah bertumpuk-tumpuk. Ketika akan menuliskan gagasannya, setiap calon penulis seperti sedang menyusun sendiri bukti-bukti kuat yang bisa membuatnya diberi sanksi. Entah sanksi moral, sosial, hukum, atau politik. Maka ia pun gagap menulis karena beban itu.

Celakanya, institusi pendidikan kita, baik formal maupun informal, justru mengajarkan sikap dasar menulis yang keliru. Sekolah, misalnya, justru menjadi tempat yang menyeragamkan materi pikiran dan cara berpikir setiap calon penulis. Di samping itu, guru kerap kali bertindak secara sewenang-wenang sebagai penilai dan pemberi sanksi yang seolah-olah memiliki hierarki dan autoritas lebih tinggi ketimbang si penulis, murid mereka. Maka sejak awal, pelajaran mengarang di sekolah justru mematikan potensi-potensi kemunculan calon penulis besar di temapat kita. Wajarlah bila dari penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa lebih, sangat sedikit kemudian yang bisa menjadi penulis andal. Dan tentu saja, sangat sedikit buku yang dihasilkannya.

Hubungan guru-murid tadi sebetulnya merupkan replika dari sistem relasi sosial-politik yang ada di luar sekolah dalam kerangka yang lebih makro. Sentralisasi, penyeragaman, rezimentasi, represi dan praktik-praktik sejenisnya telah lama menjadi ciri pokok sistem sosial politik kita. Dalam konteks inilah kemudian orang dipaksa kehilangan indivualitasnya, jati dirinya, bahkan kemanusiaannya. Ini kemudian ikut memberikan sumbangan besar bagi kemacetan dan kemandekan luar biasa dalam dunia literer kita, dalam dunia penulisan kita. Kematian pontensi para penulis kita pun bisa diletakkan dalam carut-marut sistem yang sesat keliru semacam itu.

Menggelorakan Budaya Menulis

Nah, untuk menggelorakan budaya literer anak bangsa, Eep menguraikan tiga hal yang sangat penting bagi seorang penulis. Pertama, kemampuan teknis. Mau tidak mau, seorang penulis mesti terus menerus melatih kemampuannya menulis. Ini bukan untuk mencapai satu gaya akhir yang final dan permanen, melainkan untuk makin mengefektifkan penyampaian pesan yang disampaikannya lewat tulisan. Mereka yang cepat putus asa dan gampang menyerah kalah, berhenti berlatih menulis, pasti akan gagal menjadi penyampai pesan yang baik. Kemampuan teknis adalah faktor tertier yang mendampingi dua faktor lain yang bersifat sekunder dan primer.

Kedua, sistem sosial politik di sekitar kegiatan penulisan. Dalam sistem yang membebaskan, semua jenis tulisan akan bisa berkembang. Sementara dalam sistem yang mengekang, hanya tulisan yang berbau humor dan anekdot yang akan berkembang. Sistem inilah faktor sekunder itu. Ketiga, faktor primernya terletak pada kualitas kemanusian masing-masing calon penulis. Warga Negara yang memiliki tirani di kepalanya –yang membuatnya punya banyak hantu rekaannya sendiri, yang membuatnya takut, terkekang, dan tak bisa mengaktualisasikan kemanusiannya secara utuh- akan sulit menjadi penulis. Sebaliknya, warga Negara yang bisa membebaskan diri dari tirani semacam itu pasti akan mampu menuliskan apa yang ia pikirkan dengan baik.

Jadi, sekali pun sistemnya mengekang dan ia punya kemampuan menulis terbatas, seseorang akan tetap bisa melakukan kegiatan penulisan dengan baik manakala ia sudah berhasil membangun kualitas dirinya sebagai warga Negara dengan kemanusiaan yang utuh. Tentu saja, suasana penulisan yang terbaik akan bisa dicapai manakala kemampuan teknik yang tinggi bertemu dengan sistem yang membebaskan dan utuhnya kualitas kemanusiaan penulis. Semoga.

Ahmad Arif Ginting
Penulis adalah pemilik RUMAN (Rumoh Baca Aneuk Nanggroe) Banda Aceh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar