Rabu, 09 Mei 2012

Dana Kelola Sampah Rp 1 M


Janji Hidayat-Didik

Dana Kelola Sampah Rp 1 M

JAKARTA, TRIBUN - Pasangan Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini memiliki jurus jitu untuk menangani permasalahan sampah di Jakarta. Bila memenangkan Pemilukada DKI, pasangan ini berjanji akan menebar dana Rp 1 Miliar untuk tiap kelurahan. Dana ini ditujukan untuk penanganan sampah di Jakarta. Dana penanganan sampah akan bersumber dari APBD DKI Jakarta.
"Kita gandeng pihak LSM dan swasta profesional," kata Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Didik J Rachbini saat berbicara di Rumah Oranye, Hidayat-Didik Media Center, Jakarta, Senin (7/5/2012) kemarin.
Menurutnya, masyarakat belum mengetahui penanganan sampah secara ideal. Untuk memuluskan langkah itu, Didik akan mengubah pola penanganan sampah. "Sistem penangan sampah sekarang kumpul-angkut-buang. Kita akan balik cara tersebut di Bantar Gebang," ujar Ketua DPP PAN Bidang Litbang itu.
Caranya, Didik mengatakan dengan melakukan proses pengelolaan sampah di hulu bukan di hilir seperti sekarang ini dilakukan. Proses itu bermula dari kelurahan. Warga diberi pendidikan agar pembuangan sampah terbagi dua yakni organik dan anorganik. Kemudian sampah dibawa ke keluruhan.
Di sana sampah organik diolah menjadi pupuk atau biskuit makanan sapi. Sedangkan anorganik diolah kembali untuk menjadi barang layak pakai. "Bukan untuk sampah saja tapi perbaikan selokan yang harus dikerjakan secara profesional," ucapnya..
Direktur Program Pascasarjana Universitas Mercu Buana itu mengatakan fakta yang terjadi di lapangan saat ini, petugas dilapangan hanya bisa mengangkut 72 persen sampah warga ibukota. Sedangkan sisanya sampah tersebut dibakar dan dibuang ke sungai. "Itu menjadi sumber banjir di waktu hujan," urainya seraya menyebut, pemerintah harus mencegah 300 ton sampah dibuang ke sungai. Oleh karena itu Daerah Aliran Sungai (DAS) harus memiliki otoritas. Pemda DKI harus mengurangi beban sampah. Pasalnya TPA Bekasi yang selama ini dijajaki untuk pembuangan sampah warga Jakarta ditolak pihak setempat.
"Maka harus ada pengolahan sampah di hulu sehingga bisa zero waste dengan menjalankan juga program reduce, reuse dan recycle," imbuhnya.
Sebenarnya, lanjut Didik, teknologi yang ada saat ini tidak terbilang kuno. Terdapat stasiun peralihan yang dibangun di Marunda, Cakung dan Cilincing. Bila itu dapat lebih dikembangkan lagi, maka bisa diolah menjadi listrik sebesar 8 MW.
Didik juga menuturkan untuk perusahaan atau pertokoan juga diminta mengolah sampahnya sendiri. "Konsepnya green industries," ujarnya.
Pengolahan sampah secara mandiri juga sesuai dengan aturan undang-undang agar Jakarta tidak tercemar. "Kita harus melaksanakan UU 18/2008 tentang pengelolaan sampah," terangnya.
Dengan adanya pengolahan sampah secara swadaya maka dapat mendatangkan uang dan lapangan kerja bagi masyarakat. Produk yang dihasilkan juga beragam dari bio etano, pupuk dan barang daur ulang. "Kita ini sudah tertinggal 20 tahun dari Tokyo dan Kanada," sergahnya.Ferdinand/Ade

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar