Senin, 11 Juni 2012

RI Ancaman Industri Otomotif Thailand

Senin, 11/06/2012 13:17 WIB

RI Ancaman Industri Otomotif Thailand

Syubhan Akib - detikOto
img


Jakarta - Pasar mobil Indonesia yang makin hari makin meningkat dianggap sebagai salah satu pasar terseksi di dunia. Karena itulah, pasar Indonesia pun dianggap sebagai ancaman bagi industri otomotif Thailand yang selama ini menguasai ASEAN.

Tahun lalu Indonesia berhasil menjadi negara otomotif terbesar di ASEAN setelah mengalahkan Thailand. Namun banyak pihak mengatakan kalau itu adalah suatu keberuntungan karena ketika itu Thailand sedang dilanda musibah banjir.

Tapi bagi Vice President Automotive & Transportation – Asia Pacific, Frost & Sullivan Vivek Vaidya yang menganalisis situasi pasar di Asean, Indonesia memanglah ancaman.

"Indonesia merupakan peluang sekaligus ancaman bagi industri otomotif Thailand," ujarnya dalam siaran pers, Senin (11/6/2012).

"Indonesia menjadi peluang berkat jumlah populasinya yang terbesar di kawasan ASEAN, namun masih memiliki tingkat penetrasi mobil terendah dan merupakan pasar sepeda motor terbesar ketiga setelah India dan China. Semua ini menjadikan Indonesia sebagai pasar otomotif potensial selain Thailand," jelasnya lagi.

Hanya saja, saat ini situasinya Thailand sebagai pusat produksi akan sangat diuntungkan dalam jangka pendek karena Thailand merupakan pemasok komponen otomotif utama bagi Indonesia.

Indonesia menurut Vaidya perlu melakukan ekspansi kapasitasnya dalam industri otomotif. Indonesia juga harus memperkuat kapabilitasnya di sektor komponen otomotif serta meningkatkan keahlian para tenaga kerja lokal untuk dapat menandingi kualitas Thailand sehingga Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya.

"Namun, ketika Indonesia telah mampu meningkatkan keahlian tenaga kerjanya, membangun kapasitas yang memadai dan membuktikan diri sebagai produsen otomotif dunia, Indonesia tentu akan menjadi ancaman bagi Thailand," cetus Vaidya.

"Indonesia akan memiliki keunggulan dengan pasar yang lebih besar dan upah tenaga kerja yang lebih murah. Meski demikian, Indonesia harus memperkuat brandingnya dan menerapkan regulasi investasi yang lebih ramah guna menarik investor-investor dunia," tuntasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar