Rabu, 27 Juni 2012

Kain Ulos Keistimewaan dari Tanah Batak.


Kain Ulos Keistimewaan dari Tanah Batak.
Selasa, 26 Juni 2012 18:48
Foto : bd/Asido
(Berita Daerah - Sumatera) Orang telah mengenal bahwa simbol dari Tanah Batak, selain Danau Toba adalah juga kain Ulos. Ulos adalah salah satu kain khas Indonesia yang berasal dari sumatera yang dikembangkan turun temurun oleh masyarakat Batak.  Kain ini telah menjadi bagian kebudayaan masyarakat Batak sejak zaman dulu hingga sekarang.
Warna yang mendominasi ulos antara lain hitam, merah, dan dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Pada awalnya ulos hanya dikenakan sebagai selendang atau sarung saja saat ada perhelatan resmi atau upacara adat Batak, namun sekarang ini ulos juga dimanfaatkan untuk pembuatan produk suvenir, tas, sarung bantal, ikat pinggang, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.
Bagi Masyarakat Batak kain tenun Ulos, selain selalu digunakan dalam setiap upacara, kegiatan dan berbagai acara dalam adat Suku Batak.  Misalnya, untuk perkawinan, kelahiran anak, punya rumah baru, sampai acara kematian.
Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti kain Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang.
Ragam hias ulos Batak umumnya berasal dari Jaman Perunggu atau jaman kebudayaan Dongson yanag datang dari Tonkin dan Annam Utara yang terlihat dari hiasan nekara perunggu di jaman tersebut.
Ulos adalah kain tenun khas suku Batak. Tak hanya sebatas hasil kerajinan seni budaya saja, kain Ulos Sebagian besar masyarakat Tanah Batak menganggap kaintenun Ulos sebagai perlambang ikatan kasih sayang, lambang kedudukan, dan lambang komunikasi dalam masyarakat adat Batak.
Jadi jika Anda berkunjung ke Sumatera tanah Batak, terasa tidak lengkap rasanya Jika Anda tidak membeli kain Ulos atau beragam pernak-pernik  benda yang terbuat dari Kain Ulos, jadi selain dapat memajukan perekonomian masyarakat setempat, tentunya Anda juga telah menghargai serta melestarikan kebudayaan asli Indonesia. Horas!

(Eni Ariyanti/EA/bd)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar