Rabu, 04 Juli 2012

Wayang: Seni, Budaya dan Imajinasi Anak Yang Terlupakan



1303509061994091363
Kartun Wayang Indonesia
Ismail, anak pertamaku yang berusia empat tahun kalau mau tidur selalu minta ditemani, terkadang sama Mamanya atau juga sama saya sendiri. Menjelang tidur, ia selalu minta diceritakan dongeng atau kisah-kisah fable pengantar tidur.
Tapi pada suatu malam, ia tidak mau dibacakan dongeng lagi.
Ia berhenti untuk didongengkan Mamanya sebelum tidur.
“Ma, Iil ocen tiap alam mama celitain itu mlulu. Iil mau dicelitain jagoan cpidelmen cama dlagonbol”.
(Mama, Ismail bosan setiap malam, mama cerita itu terus. Ismail mau diceritain jagoan Spiderman sama Dragon Ball).
Kata anakku dengan logat cadel sambil merengek, saat istriku hendak bercerita si Kancil yang cerdik.
Usut punya usut ternyata, siang hari saat ia bermain dengan teman-temannya, ia menonton film kartun Dragon Ball dan Spiderman.
Pantas saja…
* * *
Ia memaksa Mamanya untuk menceritakan dongeng tentang Son Go Ku, tokoh utama dalam serial Dragon Ball. Karuan saja istri saya jadi kelimpungan, sebab istri saya sama sekali tidak tahu tentang film kartun Dragon Ball, hanya sedikit mengenal Spiderman. Itu pun karena ia pernah menonton sekali di bioskop saat kami masih pacaran dulu.
Akhirnya, sayalah yang menggantikan sang istri untuk mendongengkan si kecil ini.
Sebelum memulai cerita, pikiran saya terbayang kenapa harus mendongengkan kisah dari luar negeri. Kenapa tidak dalam negeri saja?
Karena gawat kalau anak seusia itu sudah dicekoki budaya dari luar, nantinya setelah dewasa bisa-bisa menjadi asing pada budayanya sendiri. Lagipula Dragon Ball dan Spiderman tidak baik untuk dikonsumsi anak sekecil itu, sebab banyak adegan kekerasan seperti membanting dan membunuh lawannya.
13035093832032171057
Gatot Kaca, tidak kalah hebat dengan tokoh kartun Mancanegara
Hmm.
Sambil memutar otak, saya menemukan ide untuk bercerita tentang wayang.
“Mail, Papah akan dongengin kamu kisah jagoan yang luar biasa hebat”
“Ga mau, Iil pengennya cama dlagonbol cama cpidelmen…”
“Eh, jangan salah. Yang mau papah ceritain ini lebih kuat dari Son Goku atau Spiderman. Malah kalau dibandingkan, lucuan ini”. Ujarku merayu.
“api, jagoan yang papa clitain kuat ga? Kalo tadi iil liat felem dlagonbol bica telbang, dah gitu punya julus kamekamekame buat ngalain musuhnya”
“Yaaah, itu sih kecil. Jagoan Papa ini bisa terbang, bisa memanah, bisa ngeluarin jurus yang ada sinarnya, dah gitu bisa…” Ujarku sambil memancing Ismail.
“Bica apa pa? ayo dong clitain bial iil dengel” sambar anakku penasaran. Kena deh, pikirku.
“Jagoan ini orangnya biasa saja, ramah, dan baik hati. Terutama sering menolong kepada yang lemah. Tapi dia tidak suka dengan orang nakal, apalagi kalau yang jahat akan segera dikalahkan supaya tobat dan tidak berbuat jahat lagi.”
“Tlus, kalo iil olang jaat apa baik pa?” Ujar anakku bertanya.
“Ismail itu anak Papah dan Mama yang baik, juga tidak nakal. Makanya dengarin Papa cerita ya, kalau sudah selesai Ismail harus tidur.” Ucapku sembari melirik istriku yang tersenyum disamping Ismail.
“ya pa…” Jawab Ismail.
* * *
1303509273232845409
Tokoh Punakawan Asli Indonesia: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong
Kemudian saya bercerita mulai dari Gatot KacaArjunaWisanggeni, tak lupa saya selingi dengan tokoh-tokoh lucu Punakawan seperti SemarPetrukGareng dan Bagong. Supaya ia semakin tertarik pada cerita wayang.
Dan ketika saya menoleh, Ismail sudah terlelap pulas.
Selesai tugas saya malam ini untuk mendongeng pada anak saya, tinggal mengumpulkan ide buat malam besok dan selanjutnya.
Rencana saya akan menuturkan kisah Malin KundangSi PitungLoro JonggrangSi Unyil dan Pak Raden, serta cerita lainnya yang berasal dari Indonesia. Agar imajinasi anak saya tetap berkembang seukuran usianya. Dan supaya  tidak lupa akan Adat, Budayanya sendiri dari derasnya cerita-cerita yang masuk dari luar negeri.
Hari ini, sudahkah Anda mendongeng untuk Anak?
* * *


Bersambung…

* * * * Choirul Huda * * * *
_____________________________________________________________________________
Penulis : Choirul Huda  (No.  153)
NB :  UNTUK MEMBACA TULISAN PARA PESERTA PARADOKS YANG LAIN MAKA DIPERSILAKAN MENGUNJUNGI AKUN Dongeng Anak Nusantara di Kompasiana sbb :Dongeng Anak Nusantara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar