Kamis, 26 Juli 2012

Sekolah Sehat: Berlomba bukan Bertanding

Sekolah Sehat: Berlomba bukan Bertanding

M. Rasyid Nur
OPINI | 27 June 2012 | 08:41 Dibaca: 66   Komentar: 0   Nihil
BEBERAPA waktu lalu diumumkan pemenang Sekolah Sehat 2012 oleh Tim Penilai Sekolah Sehat di lingkungan kerja UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Pendidikan Kecamatan Meral-Tebing Kabupaten Karimun. Pengumuman yang dibacakan langsung oleh Kepala UPTD Meral- Tebing, Ibu Riauwati itu diawali dengan ekspos keadaan sekolah dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA, MA, SMK) di kecamatan itu oleh Kepala Puskesmas Meral. Kepala Puskesmas adalah ketua sekaligus pemrakarsa program dan kegiatan Sekolah Sehat.
Kriteria sekolah sehat menurut paparan itu antara lain, bahwa sekolah harus, 1) Memiliki program pembekalan untuk siswa dan guru perihal pemahaman, pengetahuan dan perilaku sehat. 2) Memiliki pemahaman tentang pentingnya makanan dan minuman sehat. 3) Memiliki pemahaman tentang pentingnya kesehatan jasmani atau pisik. 4) Memiliki emosi dan tindakan yang sehat dalam tindak-tanduk sehari-hari. Dan ada beberapa lagi saya dengar dijelaskan Pak Dokter. Tentu saja sasaran yang dimaksud dokter itu adalah sekolah dan warga sekolah secara keseluruhan.
Dari ekspos Pimpinan Puskesmas itu tergambar jelas seperti apa keadaan sekolah di Kecamatan Meral yang dalam beberapa waktu sebelumnya telah diperiksa dan dinilai oleh tim juri. Dengan menggunakan slide dalam bentuk foto-foto serta penjelasan yang luas saya memahami penjelasan dokter itu, bagaimana ideal dan indahnya sekolah sehat. Tidak hanya sekolah-sekolah di Meral yang dijelaskannya tapi juga sekolah sehat secara umum.
Sehabis ekspos langsung saja diumumkan sekolah-sekolah yang keluar sebagai pemenang pada tahun ini. Diumumkan untuk enam besar terbaik (juara I, II, III dan harapan I, II dan III) mulai dari TK hingga SLTA. Sekolah-sekolah yang tahun lalu sudah meraih juara pertama, tahun ini tidak diikutsertakan lagi dalam penentuan pemenangnya. Namun tetap terus dinilai dan dievaluasi oleh pihak terkait.
Sekolah-sekolah pemenang diberi penghargaan berupa piala, piagam dan hadiah lainnya. Camat Meral, Iryandy langsung menyerahkan piala dan piagam kepadam para Kepala Sekolah pemenang lomba sekolah sehat di Meral itu. Tentu saja ada rasa bangga bagi setiap sekolah yang berhasil sebagai pemenang.
Sesungguhnya kegiatan pagi itu adalah finishing dari program Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) berkaitan sekolah sehat. Beberapa tahun belakangan Puskesmas di Kabupaten Karimun memang selalu mengadakan lomba sekolah sehat. Lomba yang melibatkan semua sekolah –dari TK hingga SLTA– itu dilaksanakan di kecamatan tempat beroperasinya Puskesmas tersebut. Pemenang tingkat kecamatan akan bersaing pula dengan sekolah lain di kecamatan lainnya. Begitu seterusnya sampai ke tingkat kabupaten.
Bagi sekolah, program sekolah sehat ini sangatlah membantu dalam usaha menyukseskan Program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) misalnya, yang memang sudah ada sejak lama di setiap sekolah. Dikaitkan dengan program Adiwiyata, program sekolah sehat versi Puskesmas ini sangatlah menolong.
Di program Adiwiyata yang merupakan program pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat dan hijau yang penilaiannya berjenjang dari tingkat (kelurahan, kecamatan hingga nasional), sesungguhnya program sekolah sehat sejatinya didukung oleh semua pihak. Dan lomba-lomba yang dilaksanakan oleh pihak manapun, termasuk oleh Puskesmas hendaknya dijadikan pijakan kokoh dalam mengelola sekolah menjadi sekolah yang bermutu pisik dan psykhisnya.
Ada kekeliruan kecil dalam sikap yang tak disadari tapi dilakukan sekolah dalam menyikapi lomba sekolah sehat ini. Seolah-olah satu sekolah berusaha mengalahkan sekolah lain dalam wilayah lomba yang diikutinya hanya sekedar untuk mendapatkan predikat juara. Akibatnya, jika sudah tak ada lomba maka pengelolaan lingkungan sekolah yang sehat sudah tidak perlu lagi.
Padahal dalam lomba meskipun juga ditentukan pemenangnya, tapi kemenangannya tidak dengan merasa harus mengalahkan sekolah lain yang menjadi saingan. Dalam lomba, penentuan pemenangnya justeru karena kemampuan mengalahkan kesalahan dan kekeliruan diri sendiri. Dalam lomba, tidak diharuskan berhadap-hadapan dengan lawan dalam mengejar kemenangan. Lawan yang sesungguhnya adalah diri sendiri.
Jika setiap sekolah memandang kalau pemenang sekolah sehat bukan ditentukan dengan bertanding yang mengharuskan berhadap-hadapan dan saling mengalahkan satu sama lain, maka sejatinya sekolah yang diikutkan dalam lomba tidak harus merasa melawan sekolah lain dalam keikutsertaan sekolahnya dalam lomba. Ada tak ada lomba, semestinya sekolah terus-menerus ditingkatkan pengelolaannya menuju kriteria sekolah sehat yang sudah ditentukan.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar