Kamis, 26 Juli 2012

Siswa Bebas, Mengapa Harus Takut?

Siswa Bebas, Mengapa Harus Takut?

M. Rasyid Nur
REP | 26 June 2012 | 07:41 Dibaca: 26   Komentar: 0   Nihil
KEBEBASAN yang diberikan guru –Pembina OSIS– kepada siswa –Pengurus OSIS– terbukti tidak seperti yang dikhawatirkan. Tidak ada kekacauan atau perkelahian antar sesama siswa. Pertandingan olahraga antar kelas yang merupakan program OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) setiap habis ujian itu berjalan lancar. Dan yang membanggakan mereka seperti sedang melaksanakan pertandingan resmi antar sekolah.
Tadinya memang ada kerisuan dan nada-nada khawatir. Sebagian guru merasa risau kalau pertandingan olahraga itu tidak diatur sedemikian rupa oleh guru akan berbuntut kacau. “Jangan biarkan mereka sesama mereka saja yang mengatur dan melaksanakan,” begitu keluhan awal. Alasan lain karena anggapan para siswa SMA itu masih muda-remaja yang masih perlu bimbingan dan pengaturan dari guru. Belum akan mampu dilepas begitu saja. Kurang lebih begitu kekhawatiran kelompok itu.
Tapi satu kubu lagi menganggap bahwa untuk kegiatan seperti pertandingan olahraga antar kelas (rombel= rombongan belajar) pasca ujian semester, itu adalah aktifitas biasa dan sudah selalu dilaksanakan siswa sebagai pengurus dan anggota OSIS. Dua kali dalam satu tahun (semester ganjil dan genab) pengurus OSIS selalu membuat dan melaksanakan class meeting dengan aneka kegiatan. Tidak hanya bidang olahraga tapi bidang seni dan keterampilan lain juga pernah mereka buat.
Sebagai salah seorang guru, saya bangga sekali menyaksikan mereka bertanding siang itu. Sambil mengerjakan pekerjaan rutin di sekolah, saya melihat mereka lewat jendela kaca. Sungguh serius mereka bertanding di halaman sekolah yang dijadikan lapangan olahraga itu. Di halaman sekolah memang ada lapangan volly, sepak takrau dan futsal sekaligus. Di situ juga lapangan upacara dan apel lainnya.
Seperti pagi menjelang siang (Senin, 25/06) itu mereka baru saja memulai pertanding futsal di hari pertama pasca ujian kenaikan kelas yang berakhir Sabtu lalu. Selepas Apel Senin Pagi para pengurus OSIS saya lihat sibuk mengatur dan memberi penjelasan lewat pengeras suara sekolah. Terdengar suara yang menjelaskan bahwa pertandingan pertama pagi itu adalah antara kelas X vs kelas XI yang diikuti suara tepukan pendukung masing-masing kelas. Saya tidak tahu persis, kelas X dan XI berapa. Yang saya tahu, kelas X ada empat rombel dan kelas XI ada lima rombel di sekolah ini.
Mereka tampak gagah berbaju seragam yang entah dari mana mereka dapat. Yang pasti itu bukan seragam milik sekolah. Mereka pasti berusaha mencarinya sendiri. Jurinya yang juga adalah seorang siswa tampak lebih gagah dan tegas memimpin teman-temannya dalam pertandingan itu. Saling serang dan saling kejar di tengah teriknya sinar matahari pagi menjelang siang itu dapat dikendalikan oleh pengadil tanpa pembantu itu.
Di tepi lapangan, di bawah pokok-pokok yang rindang, para pendukung kedua grup yang bertanding plus simpatisan dari kelas lain saling bersorak memberi dukungan seperti layaknya pertandingan besar. Saya benar-benar bangga dan puas menyaksikan mereka bertanding dengan supporter yang saling sorak dan bahkan saling mengejek namun tetap aman terkendali.
Masihkah harus takut mereka mengatur diri mereka? Ternyata pertandingan di hari pertama berjalan dengan baik dan lancar. Tak ada protes dari masing-masing kubu. Dan tentu saja seperti itulah harapan untuk hari-hari berikutnya. Jadwal class meeting itu empat hari menjelang pembagian rapor nanti.
Sesungguhnya kebebasan yang diberikan dalam bentuk seperti itu adalah bentuk kebebasan yang bernilai positif. Itu tentu saja akan menjadi pembelajaran yang baik dan bermanfaat bagi peserta didik. Kepemimpinan yang mereka pelajari dalam oraganisasi seperti OSIS dapat mereka terapkan. Tentu saja kendali terbatas masih ada di tangan guru.
Bahwa kebebasan dapat membawa malapetaka, lihat dulu… kebebasan seperti apa? Bahwa anak muda belia rentan menyelewengkan kebebasan yang diberikan, lihat dulu… penyelewengan seperti apa? Di sekolah-sekolah maju di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogya dan lain-lainnya, sesungguhnya sudah terbiasa memberi kebebasan yang justeru bernilai positif di kalangan para siswa. Dengan kebebasan terkendali para siswa dapat berkreasi positif.
Para guru di sekolah-sekolah di daerah yang jauh dari kota, perlu memang belajar dan melaksanakan hal yang sama. Masa-masa pasca semesteran seperti saat ini adalah masa-masa yang baik untuk hal itu. Bahkan dalam liburan yang mengakhiri tahun pelajaran pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat menmgekspresikan kebebasan siswa dalam bentuk kegiatan positif, tentunya. Semoga!***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar