Minggu, 15 Juli 2012

Petani Bawang Makin Terpuruk


SUARA PANTURA
15 Juli 2012
Petani Bawang Makin Terpuruk
 0
 
  0
SLAWI - Kondisi petani bawang merah di Kabupaten Tegal saat ini semakin terpuruk akibat anjloknya harga jual komoditi tersebut dan serangan ulat yang menurunkan kualitas hasil pertanian itu.

Kondisi tersebut menjadikan petani mengalami kerugian cukup besar, rata-rata Rp 10 juta per hektare. Salah satu petani bawang merah di Jalur Pantura, Tegal, Warnadi, Jumat (13/7) mengatakan, saat ini sebagian besar petani bawang merah mengalami kerugian, akibat anjloknya harga. Saat ini harga jual komoditi tersebut di tingkat petani hanya Rp 6.000/kg, sedangkan sebulan sebelumnya lebih dari Rp 8.000/kg.

Merosotnya harga jual, sedikit banyak disebabkan adanya bawang merah impor dari Thailand yang masuk ke Indonesia, khususnya pulau Jawa. Bawang merah lokal saat ini di pasaran dijual masih tinggi yaitu Rp 13.000/kg, sedangkan barang impor lebih murah yaitu hanya Rp 12.000/kg. “Dengan selisih harga Rp 1.000/kg, masyarakat lebih memilih bawang Thailand. Padahal jika dilihat dari kualitasnya, bawang lokal lebih bagus dibandingkan bawang impor,” tuturnya.

Jadi Bibit

Dia mengatakan, dengan kondisi harga seperti saat ini, para petani bawang lebih memilih menstok hasil panennya, sambil menunggu harga kembali membaik. Selain itu, sebagian besar hasil panen tersebut dijadikan bibit untuk musim tanam berikutnya. Hal itu disebabkan, pada musim panen mendatang, harga bibit dapat dipastikan mengalami kenaikan. “Apabila petani tidak menyisihkan hasil panennya untuk bibit, diperkirakan musim tanam berikutnya kesulitan, sebab harga sudah naik. Sedangkan modal yang dimiliki masih utang. Saat ini kami juga masih menanggung utang untuk modal tanam sebelumnya,” terangnya.

Petani lainnya, Kasmirun, mengatakan, tanaman bawang merah saat ini banyak yang terserang ulat, sehingga kualitasnya berkurang.

Berbagai upaya seperti penyemprotan obat pembasmi hama telah dilakukan petani, tetapi hewan tersebut masih ada.

“Harga jual bawang turun, biaya operasionalnya terus naik, dan tanaman terserang hama, kondisi tersebut membuat petani semakin terpuruk,” ucapnya. (H77-48)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar