Rabu, 11 Januari 2012

Dasar Stratifikasi Sosial

Adapun dasar yang bisa digunakan untuk menggolongkan suatu masyarakat dalam sebuah pelapisan sosial antara lain sebagai berikut:
1. Kekayaam (capital). Wujud kekayaan dilihat dari kepemilikan harta benda. Semakin banyak kepemilikan harta benda maka seseorang akan menempati posisi yang tinggi.
2. Kekuasaan (power). Dilihat dari kepemilikan kekuasaan atau wewenang. Kekuasaan yang besar bisa menghantarkan seseorang pada kedudukan yang tinggi.
3. Kehormatan (privilege). Seseorang dapat menempati posisi tinggi dalam lapisan sosial masyarakat bila ia sangat dihormati atau disegani.
4. Ilmu Pengetahuan (science). Seseorang yang memiliki level pengetahuan yang tinggi akan bisa menempati posisi yang tinggi.
Menurut Macionis ada empat prinsip dasar stratifikasi sosial adalah sebagai berikut:
1. Stratifikasi sosial adalah ciri khas dari masyarakat dan bukan sekedar refleksi dari perbedaan individu. Warga masyarakat industri melihat posisi sosial seseorang sebagai cerminan bakat pribadi dan usaha masing-masing individu. Banyaknya penumpang kelas 1 dari kapal Titanic yang selamat (ketika kapal pesiar itu tenggelam) bukan karena mereka lebih cerdas dan lebih mampu berenang dari pada penumpang kelas 2 dan 3 melainkan karena mereka lebih mampu membayar harga tinggi sehingga berada dalam posisi yang lebih istimewa dan aman dalam kapal.
2. Stratifikasi Sosial bertahan dari generasi ke generasi.Ketidak samaan sosial bertahan dari waktu ke waktu. Dalam setiap masyarakat, setiap orang tua menganugerahkan kedudukan sosial  kepada anaknya, sehingga pola ketidaksamaan tetap bertahan dari generasi kegenerasi berikutnya.
3. Stratifikasi Sosial bersifat universal namun juga bervariasi. Dikalangan masyarakat berteknologi rendah pembedaan sosial sangat sedikit dan hanya didasarkan pada usiadan jenis kelamin. Dengan perkembangan teknologi, masyarakatpun mengembangkan sistem pembagian produksi yang lebih kompleks dan kaku, sehingga struktur sosial masyarakat turut berubah.
4. Stratifikasi sosial mencakup ketidaksamaan dan kepercayaan-kepercayaan. Setiap sistem ketidaksamaan memberikan keistimewaan kepada beberapa orang, kemudian mengeluarkan ketentuan bahwa pengaturan tersebut adil. Orang yang memiliki keistimewaan sosial paling besar cenderung mendukung sistem sosial yang ada, sementara yang berada dilapisan bawah cenderung mendorong terjadinya perubahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar