Senin, 11 Juni 2012

Festival Betawi di Hutan Srengseng, Macet di Luar, Kusut di Dalam


Budaya Betawi
Festival Betawi di Hutan Srengseng, Macet di Luar, Kusut di Dalam
Lasti Kurnia | Thomas Pudjo Widijanto | Sabtu, 9 Juni 2012 | 13:37 WIB
Dibaca: 276
|
Share:
Kompas/LASTI KURNIAFestival Betawi Hutan Srengseng, Macet di luar, Kusut Di Dalam
JAKARTA, KOMPAS.com — Datang ke Festival Budaya Betawi di Hutan Srengseng rupanya harus siap berjibaku dengan macet dan kusut, baik di luar maupun di dalam area tempat acara berlangsung. Macet di jalan di depan kawasan Hutan Srengseng terjadi akibat sejumlah kendaraan parkir di bahu jalan. Padahal, jalanan tersebut hanya muat dilalui dua mobil.
Satpol PP yang bertugas mengatur lalu lintas tampaknya juga tidak dapat mengatasi kemacetan tersebut. Sementara di dalam Hutan Srengseng, ribuan pengunjung telah memadati jalan-jalan setapak di dalam kawasan. Sejak pagi pukul 09.00 pengunjung terus mengalir, terutama karena menunggu kedatangan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang baru datang sekitar pukul 11.30.
Sebagian jalan setapak di dalam kawasan Hutan Srengseng penuh dengan pedagang kaki lima. Sebagian besar berdagang makan an, seperti bakso, mi ayam, ketoprak, siomay, atau jenis-jenis jajanan lainnya. Sebagian lagi berjualan mainan dan aksesori pakaian. Ada juga pedagang makan an tradisional, tetapi jumlah dan keragamannya kalah dengan jenis jajanan lainnya.
Hanya ada kerak telor, dodol, dan bir pletok. Jumlah pedagang kerak telor bisa dibilang cukup banyak dibanding dodol dan bir pletok yang hanya dititipjualkan di sedikit tenda Sudin DKI Jakarta.
Pedagang kaki lima tumplek di ruas jalan setapak dari jalur masuk menuju danau buatan. Di jalan setapak yang hanya selebar 1,5 meter itu, pengunjung memang paling banyak lewat. Akibatnya, jadi sulit bergerak karena yang hendak lewat terpaksa tertahan mereka yang hendak berbelanja. Jalan setapak menuju ke sekitar danau, yang sudah penuh dengan pedagang kaki lima, juga harus berbagi tempat dengan pedagang mainan odong-odong yang menggelar rel kereta odong-odong di sejumlah titik.
Semua pedagang tampak berusaha berebut spot yang paling dekat dengan tempat orang lalu lalang. Sampah tentu saja bertebaran di mana-mana, baik di jalan setapak di sekitar kawasan maupun di antara pepohonan Hutan Srengseng yang menjadi paru-paru kota di Jakarta Barat.
Sungguh sulit mencari tempat sampah karena hanya tersedia di beberapa sudut. Jadi, tidak heran bila pengunjung merasa cuek dan tidak bersalah untuk meninggalkan begitu saja sampah plastik bekasmakan an dan minuman di mana-mana. Di bawah kursi, di jalan setapak, di pinggir danau, diselipkan di pagar, atau bahkan dilempar sekuat tenaga ke dalam area pepohonan di kawasan hutan lindung. 
Acara budaya ini, seingat Kompas, selalu sama kondisinya dari tahun ke tahun. Sungguh sayang, kesan kotor dan ruwet begitu terasa di ajang yang sebenarnya telah dapat menarik ribuan pengunjung untuk mengenal hutan kota. Di hari biasa, kebiasaan berwisata atau menghabiskan akhir pekan ke hutan atau taman kota masih kalah dengan pergi ke mal.
Seandainya lebih ditata tentu lebih ciamik. Misalnya, dengan menempatkan pedagang kaki lima di satu lokasi. Juga memperbanyak tempat sampah yang dilengkapi anjuran untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, yang juga kurang adalah papan pengumuman informasi jadwal acara bagi pengunjung, lengkap dengan denahnya.
Banyak pengunjung yang ketika ditanya tidak tahu apa saja acara-acara kesenian yang akan berlangsung. Jawaban mereka rata-rata sama, "Ke sini (acara festival) lihat ondel-ondel, jalan-jalan, jajan, lalu pulang."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar