Jumat, 11 Mei 2012

Sukhoi dan Tekad Kebangkitan Rusia


Sukhoi dan Tekad Kebangkitan Rusia
Laksono Hari W | Jumat, 11 Mei 2012 | 06:18 WIB
Dibaca: 2560
|
Share:
AFP/NATALIA KOLESNIKOVASebuah pesawat Sukhoi Superjet 100 tampil dalam pameran dirgantara MAKS 2009 di Zhukovsky, 19 Agustus 2009. Pesawat serupa diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (9/5/2012) sore dan jatuh di sekitar Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa menit setelah lepas landas.
Membangun industri dirgantara sama sekali bukan perkara mudah, bahkan bagi negara yang pernah memiliki basis industri pesawat udara yang sangat besar seperti Rusia. Kiprah legendaris pesawat-pesawat tempur buatan Rusia terbukti tidak menjamin negara itu akan sukses saat membuat dan memasarkan pesawat penumpang komersial.

Itulah yang terjadi di Rusia pada era 1990-an. Di tengah keruntuhan infrastruktur industri dirgantara di Rusia setelah pembubaran Uni Soviet, beberapa pemain utama industri tersebut berusaha bertahan.

Pabrikan-pabrikan pesawat Rusia, seperti Tupolev dan Ilyushin, mencoba mengembangkan pesawat baru yang mengadaptasi berbagai desain dan teknologi Barat. Pesawat Tupolev Tu-204, misalnya, dirancang untuk menandingi Boeing 757. Adapun Ilyushin Il-96 berambisi menjadi pesaing Boeing 777 dan Airbus 330.

Namun, pesawat-pesawat itu tidak pernah laku di luar para pelanggan tradisional Rusia sejak era Uni Soviet, seperti Kuba, Korea Utara, Iran, dan beberapa negara Afrika. Menurut artikel Andrew E Kramer di The New York Times, hanya sekitar selusin Il-96 yang terjual, salah satunya menjadi pesawat kepresidenan Fidel Castro dari Kuba.

Produsen pesawat di Rusia akhirnya mengakui, terlalu berat bersaing dengan Airbus dan Boeing. Namun, Rusia tak mau menyerah begitu saja. Para pelaku industri memutuskan banting setir, mengincar pasar dengan pesaing lebih kecil, seperti Bombardier dari Kanada dan Embraer dari Brasil. Mereka juga membuat kerja sama produksi dengan perusahaan-perusahaan Barat untuk mengisi celah ketinggalan teknologi dan membantu menembus pasar global.
Di sinilah Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) lahir. Diproduksi oleh pabrikan Sukhoi, yang terkenal sebagai pembuat jet tempur legendaris, SSJ100 diharapkan akan menjadi awal kebangkitan industri dirgantara Rusia. Dengan kapasitas 75-95 tempat duduk dan jarak jelajah 3.000-4.500 kilometer, pesawat ini berada di kelas yang sama dengan Embraer E-170 dan Bombardier CRJ-700.

Sukhoi pun menggandeng beberapa perusahaan dirgantara Barat, seperti Alenia Aeronautica dari Italia, Thales dan Snecma dari Perancis, dan Liebherr dari Swiss untuk mengembangkan pesawat penumpang yang lebih cocok dengan ”selera” Barat. Boeing dari Amerika Serikat pun digandeng sebagai konsultan.

Dengan sistem kontrol elektronik fly-by-wire dan mesin turbofan baru, Kramer mencatat, SSJ100 sudah tak terasa seperti pesawat-pesawat penumpang era Uni Soviet. SSJ100 pun menawarkan kelebihan dengan memasang harga lebih rendah daripada pesaingnya, yakni sekitar 31,7-35 juta dollar AS per unit.

Namun, dengan segala kelebihan itu, SSJ100 tak serta-merta laku keras. Berbagai masalah teknis muncul, mulai dari rusaknya detektor, kebocoran pemasok udara kabin, hingga masalah roda pendarat.

Citra pesawat buatan Rusia yang sering jatuh beberapa tahun belakangan ini juga menjadi kendala pemasaran SSJ100. Itu sebabnya, Sukhoi berusaha semaksimal mungkin mempromosikan pesawat itu ke negara-negara calon pembeli potensial. Dalam rangka tur promosi itulah, SSJ100 mampir di Indonesia pekan ini. (AFP/BBC/DHF)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar