Senin, 14 Mei 2012

MTI: Pisahkan Stasiun Penumpang dan Barang


MTI: Pisahkan Stasiun Penumpang dan Barang
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Senin, 14 Mei 2012 | 09:32 WIB
Dibaca: 326
|
Share:
KOMPAS/Winarto HerusansonoDirjen Perkeretaapian Kemenhub, Tunjung Indrawan, Kamis (12/4/2012) melakukan inspeksi atas dimulai pelaksanaan pembangunan jalur rel ganda Surabaya - Pekalongan ketika tiba di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah

JAKARTA, KOMPAS.com 
- Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, mengatakan, Pemerintah harus memisahkan antara stasiun penumpang dan barang dalam pembangunan rel ganda kereta api jalur utara Pulau Jawa. Ini dilakukan agar arus barang dan penumpang tidak terganggu. "Ditjen Perkeretaapian sedang membangun jalur ganda lintas utara Jawa sepanjang 714 kilometer. Setidaknya harus disertai dengan penetapan stasiun barang di setiap provinsi," sebut Djoko kepadaKompas.com, kemarin.
Menurut Djoko, pemisahan stasiun barang dan penumpang merupakan hal yang penting. Misalnya saja, Stasiun Kandangan di Jawa Timur diperuntukkan sebagai stasiun barang. Dari stasiun ini nantinya diaktifkan jalur rel ke Gresik yang bisa dipakai untuk jalur pengiriman semen. "Memang stasiun barang dan stasiun penumpang harus dipisah agar tidak saling terganggu. Demi kelancaran dan keselamatan," tambah dia.
Lalu, Pemerintah juga seyogyanya mengaktifkan kembali akses jalan atau rel ke pelabuhan, seperti jalur ke Pelabuhan Cirebon, Tegal, Pekalongan ataupun Semarang. Ini semata demi konektivitas antara pelabuhan dengan jalan raya. "Atau minimal dengan jalan provinsi," pungkas Djoko.
Pemerintah kini sedang menyelesaikan pembangunan jalur rel ganda kereta api Jakarta- Surabaya sepanjang 714 kilometer. Untuk membangun itu, Pemerintah membutuhkan dana hingga Rp 9,8 triliun. Dan, Pemerintah memiliki dana investasi sebesar Rp 3,75 triliun untuk pembangunan jalur rel ganda pada tahun ini.
Menurut data Kementerian Perhubungan, pembangunan jalur ganda Cirebon-Brebes akan menghabiskan dana sebesar Rp 1,2 triliun, Pekalongan-Semarang Rp 2,1 triliun, Semarang-Bojonegoro Rp 4,6 triliun, dan Bojonegoro-Surabaya Rp 1,9 triliun
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar