Jumat, 20 April 2012

Cagar Budaya yang Terancam di Tepian Batanghari


Cagar Budaya yang Terancam di Tepian Batanghari
Jodhi Yudono | Selasa, 20 Maret 2012 | 19:45 WIB
Dibaca: 964
|
Share:

Candi Tinggi, merupakan salah satu dari banyak candi yang belum terungkap seutuhnya di Komplek Candi Muara Jambi.
Oleh Nurul Fahmy

Jangan belok ke mudik. Terus saja ke depan, ujar perempuan paruh baya yang baru pulang dari ladangnya dua pekan silam.
Perempuan yang menggendong seikat kayu bakar itu adalah warga Kecamatan Danau Teluk, daerah paling barat Kota Jambi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Batanghari. Ia menyebutkan arah jalan ke kawasan Candi Muarojambi.
Masuk ke kawasan candi melalui jalur lama dari Jembatan Aur Duri memang membingungkan. Jalannya rusak, jauh dan berkelok-kelok. Penunjuk jalan satu-satunya hanya terdapat di simpang jalan masuk di gerbang perbatasan antara kota dan Kabupaten Muarojambi berupa plang besi yang nyaris tak terbaca lagi sebab berkarat.
"Jalur ini tidak layak direkomendasikan lagi kepada wisatawan atau siapa saja yang akan berkunjung ke candi,"  kata Gus Tf Sakai, gusar. Sastrawan Indonesia kenamaan asal Sumatra Barat ini siang itu ingin melancong ke percandian.
Kegusaran Gus sangat beralasan. Ia akan menuju suatu objek peninggalan masa silam yang sangat besar dan berharga bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, tapi infrastruktur (akses jalan) ke sana sangat seadanya, dan terkesan terabaikan.
Sebetulnya ada jalur baru yang relatif lebih mudah, dekat dan aman menuju ke sana. Jalur itu melalui Jembatan Batanghari II. Tapi pelancong yang ingin melalui jalur ini harus berkeliling ke arah timur Kota Jambi di kawasan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur. Jalan itu menghubungkan Kota Jambi, Kabupaten Muarojambi dan terus menuju ke Muarasabak, Ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di antara itulah lokasi candi terletak. Dari titik itu hanya butuh waktu sepenghisapan rokok saja sampai ke candi.
Namun selain jalur darat, masih ada satu jalur sungai menuju ke sana, dengan menyusuri Batanghari. Perjalanan melalui jalur sungai lazim dimulai dari kawasan Tanggo Rajo (Ancol), Kelurahan Kasang, Jambi Timur. Pengunjung dapat menumpang perahu cepat yang menuju ke sana. Tapi sekali lagi pelancong harus sedikit kecewa, sebab mereka musti merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa perahu cepat itu. Tidak semua tukang perahu yang mau mengantar ke sana jika bayarannya tidak sesuai. Negosiasi alot musti pula dilakukan untuk mendapatkan harga yang pas.
"Jarang orang ke sana naik perahu. Makanya harga sewa perahu jadi tinggi," kata Mamat, tukang perahu di Kawasan Tanggo Rajo, pekan lalu.
Tak heran, perahu cepat yang berada di tempat tersebut kini didominasi oleh angkutan sungai menuju daerah-daerah jauh di ilir Batanghari, seperti Suak Kandis, Puding atau Nipah Panjang.
Dari Ancol, perahu akan berhenti di Desa Muarojambi. Di sana terdapat sebuah dermaga dan perhentian berbentuk rumah adat Jambi, dengan ukiran-ukiran khasnya. Namun tampaknya, dermaga tersebut tidak terurus. Cat pada dindingnya sudah kusam dan penuh dengan coretan cat dan spidol.
Dermaga itu dibangun belasan tahun lalu pada masa pemerintahan Gubernur Jambi Abdurahman Sayoeti yang memimpin sejak 1989 hingga 1999. Selain dermaga, Sayoeti juga mendatangkan perahu roda lambung sebagai sarana pariwisata di Sungai Batanghari.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, semua yang berhubungan dengan Sungai Batanghari "dibabat habis". Kapal-kapal bermuatan barang dan orang dilarang melintasi sungai itu. Dan sejak itu tamatlah riwayat perahu kenangan itu.
Sekarang, meski Tanggo Rajo sudah direnovasi menjadi kawasan wisata, tapi suasana dan keindahan sungai tidak terasa. Orang hanya dapat memandang kelam saja di depannya. Tak nampak daya tarik sungai, kampung seberang apalagi candi yang berada di Muarojambi.
Jalur yang paling nyaman dan murah ke candi hanya mengunakan jalur darat melalui Jembatan Batanghari II. Konsep wisata air yang pernah digagas oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jambi sejak 2010 lalu guna mempermudah akses ke sana hanya sekedar wacana dan perencanaan belaka.
"Konsep wisata air secara konkret belum mendapat dukungan dari kementerian," kata Didi Wurjanto, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi, Didy Wurjanto beberapa waktu lalu.
Situs candi Muarojambi
Desa Muarojambi yang terletak di tepian Sungai Batanghari berjarak sekitar 300 meter dari candi. Konon, desa itu adalah Dusun Tuo Muarojambi. Di sekitar desa itu dulunya diduga berdiri pemukiman para biksu/biksuni antara abad 6 hingga 13 Masehi.
Mereka datang dari pelbagai penjuru dunia untuk belajar agama Budha. Sebagian ahli menyimpulkan, kompleks percandian itu dulunya adalah sebuah pusat pendidikan, atau kampus dari sebuah universitas.
Sekilas tidak nampak sisa-sisa bekas pemukiman masa lalu di tempat tersebut. Di tempat itu, selain bangunan candi yang terbuat dari bata, seluruh pemukiman biksu/siswa di sekitar kawasan candi konon dulunya hanya terbuat dari kayu.
Menurut Bambang Budi Utomo, peneliti arkeologi Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkelologi Nasional, pembangunan candi-candi itu telah diperhitungkan dengan matang, dan setiap bagiannya mempunyai fungsi simbolis. Kompleks candi dibangun sebagai pengejawantahan jagad raya secara makrokosmos.
Dalam hal ini, candi diibaratkan Gunung Meru (tempat bersemayam para dewa). Maka itu halaman tempat candi didirikan agak lebih tinggi dari permukaan tanah. Tanah penimbun diambil dari penggalian kanal-kanal (parit) yang terdapat di sekitar kompleks candi.
Sedangkan kanal-kanal tersebut merupakan simbol atau perwujudan samudra. Di sekeliling candi terdapat pagar yang menyimbolkan rangkaian pegunungan yang mengelilingi pusat jagad raya (Gunung Meru/candi).
Rangkaian pembangunan (struktur) kompleks candi yang tertata apik itulah yang membuat candi sebagai simbolisasi jagad raya dapat selamat dari hantaman banjir. Saat sungai meluap, airnya akan terserap dan masuk ke dalam kanal-kanal untuk seterusnya mengalir kembali ke sungai.
Jika kanal banjir dan meluap, candi akan tetap terlindungi oleh pagar yang mengelilinginya. Dan bila kanal atau pagar tak mampu juga meredam serangan air, candi masih akan terselamatkan, sebab kedudukannya lebih tinggi dari permukaan tanah.
Dalam Kebudayaan Zaman Klasik Indonesia di Batanghari, Bambang Budi Utomo juga menuliskan, pemukiman para biksu/biksuni dan siswa di Muaro Jambi pada dasarnya tidak sesuai dan menyalahi konsep ajaran Budha.
Dalam ajaran Budha diketahui pemukiman atau tempat tinggal para biksu harus berada di selatan bangunan suci (Gunung Meru). Sementara, pemukiman para siswa itu lebih banyak berada di utara Gunung Meru (bangunan suci) yang terwakili oleh candi-candi dalam kompleks tersebut.
Pola pemukiman para biksu di sana nampaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan keamanan sekitar. Seluruh pemukiman lebih condong ke arah tepi sungai Batanghari, yang pengambaran letaknya menjadi centang-perenang dan tidak selaras dengan konsep ajaran Budha.
Maka disebutkan bahwa kompleks candi bukanlah representasi tempat ibadah (pemujaan) atau vihara bagi umat Budha, melainkan hanya bangunan-bangunan tempat diajarkannya pelbagai filsafat hidup Sang Budha sehingga tidak memerlukan aturan ketat dalam pendirian pemukiman itu, laiknya mendirikan bangunan suci.
Namun pendapat itu belum final. Sebagian ahli lain justru mengatakan bahwa situs di Muara Jambi adalah kompleks vihara yang dilengkapi dengan bangunan-bangunan pemujaan.
Ada lagi yang mengatakan, kompleks itu juga pernah menjadi tempat ziarah umat Budha. Para peziarah berdatangan untuk melakukan pujabhakti di suatu tempat yang dianggap suci. Kesimpulan itu diambil atas temuan arkeologis berupa peralatan makan dan memasak di luar tembok keliling bangunan candi.
Namun kini di kawasan tepian sungai itu hampir tak ditemui sisa pemukiman lama tersebut. Seluruh rumah penduduk telah bergaya modern semi permanen, walau masih ada sebagiannya yang bertiang dan terbuat dari kayu. Di ujung jalan setapak menuju desa, ada warung makan dengan sebuah gerobak di depannya yang bertuliskan Sate Padang dan Mie Ayam.
Warung jajanan ini bagi sebagian pengunjung mungkin cukup ironis. Di tengah-tengah objek wisata yang sangat potensial bagi perekonomian penduduk dan pemerintah daerah, justru tidak ada jajanan khas atau pernak-pernik unik lainnya yang mencirikan masyarakat di wilayah itu, yang dapat dijadikan cendramata bagi para pengunjung. Yang ada justru kuliner dari negeri seberang yang jauh.
Perhatian untuk candi Muarojambi
Candi Muaro Jambi menjadi perhatian kembali sejak 1820 setelah terkubur berabad tahun lamanya. Pada saat itu S.C. Crooke, seorang perwira kehormatan bangsa Inggris dalam sebuah lawatannya ke Hindia Timur mendapat laporan dari warga sekitar. Mereka menemukan "benda-benda aneh" berbentuk bebatuan dan pecahan keramik-keramik kuno.
Seratus tahun sesudahnya seorang Belanda, Frederic Martin Shnitger kembali mendatangi daerah itu. Dia yang memiliki ketertarikan besar terhadap benda-benda arkeologi di Hindia Belanda berkesimpulan, kawasan itu merupakan ibu kota dari sebuah peradaban yang sangat maju pada zamannya.
Laporan-laporan tentang itu kemudian dituliskannya dalam "The Archaelogy of Sumatra" pada 1937. Dan sejak itu kitab tersebut dijadikan babon dan rujukan oleh hampir semua peneliti arkeologi dari pelbagai bangsa untuk mengetahui Muaro Jambi.
Diperkirakan terdapat 82 bangunan candi dengan material bata merah yang terkubur di kawasan itu. Sebagiannya telah dieskavasi dan renovasi. Masing-masing bangunan tersebut memilki struktur yang berbeda-beda namun tetap menggunakan material serupa.
Dari seluruh bangunan candi yang berhasil dieskavasi, terdapat satu candi yang bernama Candi Astano. Schnitger pernah akan membongkar tanah di bangunan itu. Dari pangamatannya dan cerita-cerita penduduk setempat, di dalam bangunan itu terdapat makam raja-raja, sebab itulah candi itu bernama Astano yang bermakna makam/kuburan raja-raja. Sontak saja rencananya itu menuai protes dari warga sekitar.
Kini kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan wisata sejarah terpadu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 September 2011 lalu itu terancam rusak.. Penetapan oleh Presiden RI atas kawasan terpadu sejarah itu ternyata tidak cukup ampuh melawan ekspansi industri dan komersialisasi tanah serta sumber-sumber pertambangan, yang justru direstui oleh kepala daerah setempat, yang notabene perpanjangan tangan Presiden di daerah.
Tindakan-tindakan segelintir pengusaha yang mengacak-acak kawasan seluas 2.612 hektar itu dengan melakukan penimbunan batu bara dan CPO yang berpotensi merusak sejumlah situs dan menapo mencemaskan sebagian masyarakat pencinta budaya.
Dukungan terhadap pelestarian kawasan percandian itu kini datang dari seluruh penjuru dunia. Di Jambi, para aktivis yang tergabung dalam Svanadwipa Institute telah melakukan "Aksi Solidaritas Damai Selamatkan Kawasan Percandian Muaro Jambi", pada ahad pekan lalu.
Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 2.500 tanda tangan yang dibubuhi di atas dua bagian kain spanduk sepanjang 25 meter oleh warga pencinta candi Muara Jambi.
M Husnul Abid, Direktur Svarnadwipa Institue menyebutkan, aksi yang mereka gelar itu memiliki dua target, yakni penghentian kegiatan stockpile batu bara dan kilang CPO di seputaran situs percandian. Dan mendesak segera ditetapkannya situs tersebut menjadi Kawasan Cagar Budaya.
"Seluruh dukungan dalam bentuk tanda tangan itu telah diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta pada 8 Maret 2012 lalu," katanya.
Sementara, petisi "Save Muaro Jambi" juga mendapat banyak dukungan. Petisi yang diunggah di Internet dengan situs http://www.petition24.com hingga 19 Maret lalu telah memiliki 2.651 pendukung.
Dari data statistik, pendukung petisi terbanyak saat itu berasal dari Jakarta dengan jumlah pendukung mencapai 846 atau 31.87 persen. Pendukung kedua terbanyak berasal dari Jambi dengan jumlah 360 atau 13.58 persen Dan ketiga adalah Yogyakarta dengan jumlah dukungan mencapai 112 atau 4,22 persen. Dan menyusul Bandung dengan jumlah dukungan mencapai 106 atau 4 persen.
Petisi tersebut berisi lima langkah penyelamatan percandian kuno. Petisi akan dikirim ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, dan Bupati Kebupaten Muaro Jambi Burhanuddin Mahir.
Abid mengingatkan, kompleks percandian Muaro Jambi itu merupakan peninggalan peradaban budaya kuno yang semestinya mendapat perhatian ekstra. Kawasan itu meliputi daerah yang mencakup tujuh wilayah desa di Kabupaten Muaro Jambi.
Ketujuh desa tersebut adalah Desa Dusun Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muarajambi, Desa Kemingking Luar dan Desa Kemingking Dalam, serta Desa Teluk Jambu dan Desa Dusun Mudo.
Di kawasan itu ada kompleks candi peninggalan masa Hindu-Buddha yang dibangun pada abad VII-XIV Masehi. Candi-candi yang terdapat di wilayah itu adalah Candi Teluk I, Candi Teluk II, Candi Cina, Menapo Cina, Menapo Pelayangan, Menapo Mukti, dan Menapo Astano. Menapo adalah tumpukan batu yang sudah tertimbun.
Sementara Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengatakan, persoalan penetapan kawasan cagar budaya candi Muaro Jambi sudah ditangani Pemerintah Pusat. Pihak Kementerian Dalam Negeri sudah memanggil pihak terkait, bahkan turun ke lapangan.
Saat ini, kata Gubernur, penetapan wilayah Candi Muaro Jambi masih menjadi perdebatan di Pusat. Namun ancaman kerusakan akibat adanya tambang batubara dan industri Crude Palm Oil (CPO) di kawasan percandian tersebut dikhawatirkan akan semakin merusak peninggalan sejarah Jambi itu.
"Yang penting saat ini harus diadakan aksi penghentian beroperasinya industri di kawasan itu, sehingga sambil menunggu candi masih tetap aman," kata Abid lagi.
Gubernur Jambi mengatakan, pada dasarnya Industri dan benda cagar budaya sama-sama dibutuhkan.
"Para Investor kita butuhkan juga untuk menumbuhkan geliat ekonomi, sementara dari sisi budaya Candi Muarojambi, juga kita amankan, karena ini amanat undang-undang," ucapnya.
Alhasil, pemerintah dan para aktivis kebudayaan masih menunggu keputusan dan gerak pemerintah pusat dalam menangani persoalan itu.
Sumber :
ANT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar