Jumat, 10 Februari 2012

Asah Empati Anak di Pedalaman

Asah Empati Anak di Pedalaman

Minggu, 29 Januari 2012 04:13 WIB
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Risiko padatnya aktifitas membuat dr Aini Halim tak bisa memberi perhatian penuh empat anaknya. Anak-anak Aini pun lebih banyak diasuh babysitter.

Satu hal yang membuatnya seikit tenang, meski menghadapi kesibukan tinggi, ia tak pernah putus menjalin hubungan dengan anak-anaknya. Caranya, membagi waktu di sela-sela aktifitasnya sebagai dokter.

"Sebagai seorang ibu, kalau boleh saya ingin mengganti masa kecil yang tak bisa saya berikan ke anak-anak saya sekarang. Saya waktu itu, sebenarnya sedih, tapi saya bersyukur anak-anak bisa mengerti," ungkap dr Aini di Klinik Mulia, Jumat (20/1/2012) malam lalu.

Membangun kedekatan dengan buah hati itulah yang menjadi pertimbangan bersama suaminya mencari tempat praktek dekat rumah. "Dengan buka klinik dan apotek di rumah, saya punya waktu lebih untuk keluarga," tutur dokter berambut sebahu ini.

Keluarga perhatian utamanya. Ketika anak bungsunya, Jonathan ulang tahun, 8 Desember lalu, keluarga Aini yang biasanya merayakan sehari setelah ulangtahun, memutuskan mempercepat sehari.

Pasalnya, 9 Desember pagi, Aini harus menghadiri kegiatan di Jakarta. Khawatir tak bisa ikut merayakan pesta ulang tahun putranya, Aini sepakat dengan suami mempercepat perayaan.

"Acaranya, kami rayakan sekitar pukul 10 malam di KFC. Acaranya sih biasa saja, yang penting kami sekeluarga bisa berkumpul merayakan ulang tahun anggota keluarga kami. Karena asyik ngobrol, tak terasa kami pulang sekitar setengah satu dinihari. Padahal, jam enam pesawat saya berangkat," kata Aini seraya tersenyum.

Tiap tahun, Aini juga memiliki waktu khusus untuk suaminya, Lukita Hadi. Setiap merayakan ulang tahun perkawinan, mereka melakukan perjalanan berdua. "Biasanya sepekan. Itu waktu khusus untuk kami berdua," ujar Aini dengan mata berbinar.

Kagumi Ibu
Anak kedua Aini, Grace menyatakan bisa mengerti kesibukan orangtuanya, sehingga tak bisa memberi perhatian penuh saat kecil. "Mama kan kerja, aku sih ngerti," katanya. Grace yang bercita-cita jadi dokter mengungkapkan, cita-citanya itu justru berlatar kekagumannya kepada ibunda.

Ia terkesan ketika diajak Aini mengikuti kegiatan di daerah pedalaman beberapa waktu lalu. "Menurutku asyik, diajak Mama Baksos (Bakti Sosial) di pedalaman. Selain rekreasi, naik perahu, aku bisa lihat dan tahu bagaimana Mama bekerja," kata gadis berusia 14 tahun ini.

Aini punya maksud tersendiri mengajak anaknya Baksos. Tujuannya, mengasah empati anak-anaknya. Aini kerap melihat potret kesederhanaan, keluguan dan ketidakberdayaan warga masyarakat, khususnya di pedalaman. Kesan ini begitu membekas dalam hatinya.

"Sisi lainnya, membuat kita jadi lebih bersyukur atas segala yang telah Tuhan berikan. Kita jadi lebih malu mengeluh akan sesuatu. Kita jadi benar-benar bersyukur atas kehidupan dan berkat yang bisa kita miliki," tutur Aini.

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, Aini mengaku termasuk orang 'cerewet,' khususnya terkait sopan santun dan kebersihan.

"Mas (Tribun), boleh tanya karyawan saya. Saya ini termasuk orang yang cerewet. Tapi, sebenarnya cerewet saya bertujuan positif. Bukan asal marah, sebab saya kadang ngomel karena tujuannya membangun orang itu sendiri," jelas Aini lalu tertawa. (tribun pontianak edisi cetak)

Penulis : Prayudi Anugraha
Editor : albert
Source : Tribun Pontianak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar